PALESTINA— Konferensi Keamanan Nasional Israel yang diselenggarakan oleh surat kabar Yedioth Ahronoth di Tel Aviv diwarnai perdebatan sengit dan perpecahan politik yang tajam. Sejumlah tokoh politik terkemuka saling lempar kritik terkait ancaman “terorisme Yahudi”, suksesi kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, hingga strategi penanganan konflik regional.

Pemimpin Partai Demokrat Israel, Yair Golan, menyampaikan peringatan keras mengenai maraknya “terorisme Yahudi” dan pengerahan pos-pos pemukiman ilegal yang meluas cepat di Tepi Barat. Golan menuduh pemerintah saat ini menciptakan situasi berbahaya bagi aparat militer dan kepolisian akibat kehilangan kendali di wilayah tersebut.

Golan juga mengkritik strategi pemerintah terhadap Iran yang dinilainya tidak realistis. Menurutnya, klaim menumbangkan rezim Tehran lewat serangan udara justru memberikan hasil sebaliknya dan memperkuat posisi regional Iran. Ia mendorong pembentukan pasukan internasional baru di Lebanon guna menggantikan UNIFIL, serta mendesak pemisahan diri dari warga Palestina melalui kesepakatan regional.

“Pilihan menyita lahan dan mencaplok jutaan warga Palestina akan mengikis mayoritas warga Yahudi dan menghancurkan Israel dari dalam,” tegas Golan.

Mengenai peta politik mendatang, Golan menyebut Gadi Eisenkot sebagai kandidat alami untuk memimpin pemerintahan berikutnya. Ia mengisyaratkan niat partainya untuk mengincar kementerian strategis seperti Kementerian Kehakiman dan Keamanan Dalam Negeri demi melindungi demokrasi.

Berdasarkan jajak pendapat terbaru surat kabar Maariv, elektabilitas Partai Likud pimpinan Netanyahu merosot ke angka 20 kursi di Knesset, penurunan terbesar sejak Juni 2025. Sementara itu, Partai Yashar yang dipimpin Eisenkot unggul di posisi puncak dengan raihan 23 kursi.

Ancaman Smotrich dan Batasan Negara Palestina

Berseberangan dengan Golan, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich menegaskan komitmennya untuk menghalangi pembentukan negara Palestina, yang ia sebut sebagai “entitas teroris” yang mengancam eksistensi Israel.

Smotrich mengungkapkan rencana pemerintah untuk membangun pos-pos pemukiman baru di Tepi Barat serta membentuk zona pengaman melingkar dari Beer Sheva di selatan hingga Ras al-Naqoura di utara demi mencegah terulangnya peristiwa 7 Oktober 2023.

Terkait isu Iran, Smotrich mengklaim adanya koordinasi erat dengan Amerika Serikat untuk menekan pengaruh Tehran dan menggagalkan program nuklirnya. Ia menilai kondisi ekonomi dan militer Iran saat ini melemah, yang menurutnya dapat memicu pergolakan internal.

Opsi Bennie Gantz dan Kemitraan Mansour Abbas

Di sisi lain, Pemimpin Partai Kamp Nasional, Benny Gantz, melayangkan kritik keras dengan melabeli pemerintah saat ini bertanggung jawab atas “kegagalan terbesar dalam sejarah Israel” pada peristiwa 7 Oktober. Gantz memperingatkan bahaya fragmentasi sosial dan menyerukan pemerataan beban wajib militer, termasuk bagi kelompok Yahudi Ultra-Ortodoks (Haredi).

Mengenai pencalonan Eisenkot, Gantz menyatakan bahwa keputusan akhir berada di tangan pemilih, sambil menegaskan preferensinya untuk membentuk pemerintah persatuan nasional ketimbang terus terjebak dalam putaran pemilu berulang.

Sementara itu, Ketua Daftar Arab Bersatu, Mansour Abbas, membela rekam jejak kemitraan Arab-Yahudi. Ia menilai “Pemerintahan Perubahan” era Naftali Bennett dan Yair Lapid jauh lebih unggul dari segi keamanan, ekonomi, dan hubungan internasional dibandingkan pemerintahan sayap kanan saat ini.

Menanggapi sikap Eisenkot yang sempat menolak keterlibatan partai Arab dalam kabinetnya, Abbas menyatakan tetap terbuka untuk membangun kemitraan politik yang realistis demi melayani konstituennya. Ia menegaskan pengakuan terhadap realitas Israel sebagai negara Yahudi dan demokratis, seraya menuntut kesetaraan hak sipil secara penuh bagi warga Arab-Israel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here