GAZA — Tiga warga Palestina syahid dan sedikitnya 15 lainnya menderita luka-luka akibat tembakan militer Israel di berbagai titik di Jalur Gaza, Senin (27/7). Insiden berdarah ini menambah panjang deretan pelanggaran atas kesepakatan gencatan senjata yang sejatinya telah berlaku sejak 10 Oktober 2025.
Laporan dari sumber medis menyebutkan, sebuah pesawat nirkawak (drone) militer Israel menghantam sebuah sepeda motor di Jabalia, utara Gaza, yang menewaskan satu warga dan melukai tiga orang lainnya.
Serangan drone serupa juga merenggut nyawa seorang warga sipil di Deir al-Balah, Gaza tengah, saat rudal menghantam kerumunan warga. Sementara di Khan Younis, seorang pemuda tewas dan satu lainnya terluka diserang drone di dekat Jembatan Al-Qarara.
Teror tak berhenti di situ. Tank-tank dan armada tempur Israel melancarkan tembakan ke arah deretan tenda pengungsian di kawasan Bantai Asli Turki di Al-Mawasi, sebelah barat daya Khan Younis, hingga melukai tiga warga, termasuk seorang gadis muda.
Sumber medis Rumah Sakit Nasser mengonfirmasi satu warga lainnya menderita luka sedang akibat tembakan di area Sumur 19 Al-Mawasi.
Pelaut Ditembaki, Garis Demarkasi Diterobos
Di Gaza City, armada Angkatan Laut Israel melancarkan kejaran dan tembakan ke arah perahu-perahu nelayan yang sedang melaut di lepas pantai pelabuhan. Tiga nelayan dilaporkan terluka dalam insiden penyerangan tersebut.
Pada saat bersamaan, iring-iringan kendaraan militer Israel menerobos masuk ke sekitar persimpangan Al-Sanafour di timur Distrik Al-Tuffah. Pasukan pendudukan menggeser blok-blok beton penanda zona (yang dikenal sebagai “Garis Kuning”) sejauh puluhan meter ke arah barat menyusuri Jalan Salahuddin.
Warga setempat dikejutkan oleh keberadaan blok-blok beton kuning yang mendadak berada tepat di depan pintu rumah mereka pada pagi harinya, sebuah ancaman langsung yang membahayakan nyawa mereka.
Pembatas beton tersebut berfungsi memisahkan area yang telah ditinggalkan militer Israel dengan wilayah yang masih berada di bawah pendudukan mereka.
Raport Berdarah dan Caplokan Lahan
Pernyataan pejabat resmi Israel membeberkan bahwa sejak kesepakatan gencatan senjata ditandatangani, porsi wilayah Gaza yang dikuasai militer Israel melesat drastis dari 30 persen menjadi 70 persen.
Otoritas Gaza mencatat, sejak berlakunya gencatan senjata pada Oktober lalu, rentetan serangan Israel telah menewaskan 1.203 warga Palestina dan melukai 3.900 orang lainnya. Sebagian besar korban merupakan anak-anak dan perempuan, di tengah kehancuran masif yang menghimpit kehidupan sekitar 2,4 juta jiwa penduduk Gaza.
Rencana Pasukan Internasional
Di sisi lain, seorang pejabat Israel mengungkapkan bahwa pihaknya akan mengizinkan masuknya pasukan keamanan internasional ke Jalur Gaza sesuai dengan skema rencana gencatan senjata bentukan Presiden AS Donald Trump.
Pengumuman ini bertepatan dengan agenda pertemuan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden AS di Washington.
Kabinet Terbatas Keamanan Israel dikabarkan telah meluluskan kerangka hukum yang memayungi pengerahan pasukan tersebut.
Pasukan yang dinamai “Pasukan Stabilitas Internasional” (International Stabilization Force) itu nantinya akan menerjunkan 200 personel dari negara-negara yang memiliki hubungan diplomasi, seperti Uganda dan Maroko.
Mereka akan ditempatkan di zona-zona yang berada di luar kendali Israel, dengan syarat mengantongi izin khusus dari Israel untuk setiap unit yang masuk. Hingga kini, belum ada kepastian mengenai jadwal resmi dimulainya penggelaran pasukan tersebut.










