RAMALLAH — Gelombang pengagresian dan teror tak berkepanjangan terus menghantui warga Palestina di Tepi Barat. Pasukan pendudukan Israel bersama kelompok pemukim Yahudi radikal kembali melancarkan aksi penggerebekan dan penyerangan massal di pelbagai titik, Senin (27/6).
Eskalasi berdarah ini terus meluas meski Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, telah melayangkan peringatan keras atas manuver Israel yang berupaya melegalkan serta memperluas pos-pos pemukiman ilegal.
Laporan koresponden Al Jazeera menyebutkan, armada militer Israel menyerbu Desa Al-Mughayyir di timur laut Ramallah, disusul penggerebekan di Kota Nahalin, sebelah barat Bethlehem. Dalam aksi tersebut, otoritas pendudukan melayangkan surat perintah pengosongan belasan rumah dan fasilitas komersial milik warga Palestina.
Langkah ini menjadi bagian dari kampanye sistematis penumpasan yang mengincar sedikitnya 14 bangunan di kota itu demi segera diratakan dengan tanah.
Buldoser Pemukim Meratakan Ratusan Bangunan
Data Komisi Perlawanan Tembok dan Pemukiman Palestina dalam laporan terbarunya mengungkapkan potret kelam sepanjang semester pertama tahun ini. Otoritas Penjajah Israel tercatat telah mengeksekusi 341 operasi pembongkaran yang menghancurkan 740 bangunan warga Palestina dan meluluhlantakkan mata pencaharian 923 jiwa.
Tak berhenti di situ, sebanyak 254 instruksi pembongkaran baru kembali diterbitkan dengan dalih klasik: pembangunan tanpa izin yang mustahil didapatkan warga Palestina.
Aksi Main Hakim Sendiri dan Jatuhnya Korban Jiwa
Di lapangan, kebrutalan kelompok pemukim yang dikawal ketat aparat polisi Israel kian tak terkendali. Kelompok pemukim melancarkan serangan terhadap komunitas Badui Arab al-Ara’ra di utara Yerusalem hingga melukai sejumlah warga.
Aksi kekerasan fisik juga menimpa dua warga Palestina di Jaba’, dekat Ramallah, yang menjadi korban pengeroyokan pemukim. Sementara di pinggiran Desa Beit Dajan, Nablus, seorang warga lansia turut menderita luka-luka akibat diserang secara brutal.
Petugas Bulan Sabit Merah Palestina mengungkapkan bahwa militer Israel sempat menghadang tim medis yang hendak mengevakuasi para korban luka dari komunitas Arab al-Ara’ra. Meski dihalangi, tim penyelamat akhirnya berhasil menembus barikade untuk menangani dua korban cedera sebelum melarikan mereka ke rumah sakit terdekat di Jaba’.
Aksi intimidasi meluas hingga ke jalan raya. Kelompok pemukim melempari mobil-mobil milik warga Palestina dengan batu di Bundaran Jaba’, merusak armada kendaraan yang melintas meski tak merenggut korban jiwa.
Putra Pejabat Ditangkap, Rumah Warga Diserobot
Aparat militer Israel juga menggerebek Kota Silwan di Al-Quds dan menculik Qusay Ghaith, putra dari Gubernur Yerusalem sekaligus anggota Komite Sentral Fatah, Adnan Ghaith. Saksi mata menyebut Qusay dianiaya dan dipukuli secara brutal di lokasi sebelum diseret ke pusat penahanan dan interogasi di Yerusalem.
Di kawasan barat Ramallah, tepatnya di Desa Deir Ammar, kelompok pemukim merampas bangunan rumah milik Izz ad-Din Tahsin yang masih dalam tahap pembangunan. Rumah tersebut berdiri di batas barat desa, berdekatan dengan lahan-lahan warga yang telah diserobot terlebih dahulu oleh kelompok pemukim.
Sementara di timur Ramallah, kawanan pemukim radikal yang membawa serta hewan ternak mendatangi pinggiran Desa Burqa. Mereka menerobos kandang milik peternak lokal dan mencoba mencuri sejumlah hewan ternak. Namun, aksi penjarahan ini berhasil digagalkan setelah warga setempat bersatu melakukan perlawanan hingga mengusir mereka mundur.
Eskalasi berdarah turut menyasar Desa Asira al-Qibliya di selatan Nablus. Pemukim melepas tembakan peluru tajam ke arah pemukiman warga sebelum akhirnya pasukan militer Israel masuk menerobos desa tersebut.
Kepanikan hebat kini mencengkeram Tepi Barat pasca-insiden penembakan pada Jumat lalu. Kala itu, warga Desa Tell pasang badan menghadapi serbuan kelompok pemukim bersenjata yang berupaya membobol rumah-rumah warga. Akibat situasi yang tak menentu ini, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Israel memutuskan memanjangkan pembatasan perjalanan ke Tepi Barat bagi diplomat dan keluarga mereka.
Pola aksi ini kian berulang di seantero Tepi Barat: kelompok pemukim bersenjata berkumpul di dekat pemukiman warga, melayangkan ancaman dan intimidasi, sementara aparat keamanan Israel yang berada di lokasi kerap membiarkannya tanpa intervensi.
77 Nyawa Melayang di Tepi Barat
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) mencatat sedikitnya 1.330 aksi kejahatan dan intimidasi yang melibatkan kelompok pemukim Israel di Tepi Barat sejak awal tahun 2026.
Data OCHA membeberkan fakta mengerikan: sejak awal tahun hingga Sabtu lalu, sebanyak 77 warga Palestina (termasuk 18 anak-anak) syahid di tangan pasukan militer maupun pemukim Israel. Dalam rentang waktu yang sama, 3 warga Israel tewas. Sejak Kamis lalu saja, sedikitnya 8 warga Palestina (termasuk seorang anak) merenggut nyawa bersama 2 warga Israel.
Laporan OCHA menegaskan bahwa rumah tinggal, tempat ibadah, lahan zaitun, hingga fasilitas pertanian warga menjadi sasaran pembakaran dan perusakan masif. Gelombang teror terkini bahkan memaksa sedikitnya 10 keluarga Palestina angkat kaki mengungsi dari tanah kelahiran mereka.
Tindakan keji dan penggunaan kekuatan berlebih oleh kelompok pemukim ilegal terhadap warga sipil tanpa senjata kian intensif dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini berjalan seiring dengan wacana terbuka dari menteri-menteri di kabinet Netanyahu yang secara terang-terangan menyerukan aneksasi penuh atas Tepi Barat.
Kecaman PBB dan Rencana Aneksasi
Merespons eskalasi ini, Sekjen PBB António Guterres menyampaikan keprihatinan mendalam atas langkah otoritas Israel yang mempercepat proses legalisasi pos-pos pemukiman liar dan membangun koloni-koloni baru di Tepi Barat.
Guterres menggarisbawahi bahwa seluruh pemukiman Israel di tanah pendudukan tidak memiliki keabsahan hukum dan melanggar hukum internasional secara terbukti. Keberadaan koloni-koloni tersebut menjadi penghalang utama dalam mewujudkan Solusi Dua Negara serta perdamaian yang adil dan menyeluruh.
Laporan Radio Militer Israel mengonfirmasi bahwa para pemukim telah mendirikan 8 pos pemukiman baru (outposts) di Tepi Barat sejak serangan mereka ke Desa Tell pada Jumat lalu, di mana dua di antaranya dibangun hanya dalam kurun waktu 24 jam di dekat lokasi serangan.
Saat ini, sekitar 750 ribu pemukim Israel menduduki 156 pemukiman skala besar serta 360 pos pemukiman liar di Tepi Barat dan Al-Quds Timur. Mereka terus melancarkan teror dan kekerasan demi mengusir warga asli Palestina secara paksa dari tanah mereka sendiri.










