GAZA — Ketika perhatian dunia tersedot oleh eskalasi ketegangan antara Serikat dan Iran serta dampak penutupan Selat Hormuz, Gaza perlahan tersingkir dari garis depan pemberitaan internasional. Publik global digiring oleh opini seolah-olah kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani telah menghentikan pertumpahan darah secara total.

Namun, realitas di lapangan membongkar kebohongan tersebut. Kendati Israel telah menerima seluruh tawanan mereka melalui komitmen gencatan senjata yang dijamin oleh para mediator, komitmen sebaliknya untuk warga Palestina justru dikhianati. Di balik tajuk “gencatan senjata”, militer Israel terus melancarkan empat masif yang mematikan: pembunuhan terarah, ekspansi wilayah, pengetatan blokade pangan, serta penghancuran sistematis terhadap institusi keamanan lokal.

1. “Gencatan Senjata” yang Tetap Membunuh

Dalam beberapa hari terakhir, intensitas serangan udara dan artileri Israel kembali melonjak, menghadirkan kembali trauma perang terbuka. Salah satu pembantaian paling memilukan terjadi ketika jet tempur Israel meratakan sebuah apartemen pemukiman di barat laut Kota Gaza.

Serangan tersebut menewaskan satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan tiga anak mereka. “Hanya satu anak yang selamat, itu pun karena ia sedang berada di luar rumah saat bom dijatuhkan,” ujar juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal.

Rumah Sakit Al-Shifa melaporkan telah menerima lima jenazah keluarga tersebut, di antara total 11 warga sipil yang gugur pada hari yang sama di berbagai titik. Laporan medis mencatat bahwa sejak kesepakatan gencatan senjata resmi berlaku, pelanggaran militer Israel telah merenggut 1.144 nyawa warga Palestina dan melukai 3.703 orang lainnya.

2. Pergeseran “Garis Kuning” dan Ekspansi Wilayah

Di darat, pendudukan Israel terus meluas melebihi batasan yang disepakati. Berdasarkan dokumen perjanjian yang ditandatangani pada Oktober 2025, Israel seharusnya hanya menguasai 53% wilayah Gaza pada fase awal sebelum melakukan penarikan bertahap.

Namun, data otoritas lokal mengonfirmasi bahwa kendali Israel membengkak menjadi 58% pada Desember lalu, dan kini telah melampaui 60% dari total luas Gaza. Pemerintahan Benjamin Netanyahu bahkan secara terbuka menargetkan untuk memperluas pendudukan hingga 70%.

Di lapangan, pembatas yang dikenal sebagai “Garis Kuning” (Yellow Line) terus digeser secara sepihak menggunakan blok beton dan barikade tanah. Israel bahkan telah mendirikan 32 pos militer yang terbenteng kuat.

Yang lebih membahayakan adalah zona “Garis Oranye” (Orange Line), area steril sedalam 200 hingga 500 meter dari Garis Kuning, di mana setiap warga Palestina yang melangkah ke area tersebut akan langsung ditembak di tempat.

Kendali darat Israel di Jalur Gaza terus mengalami perluasan. Dalam target yang tertuang pada perjanjian Oktober 2025, Israel berupaya menguasai sekitar 53 persen wilayah Gaza. Namun, pada realisasi di lapangan hingga Desember 2025, wilayah yang berada di bawah kendali Israel telah meningkat menjadi sekitar 58 persen.

Memasuki Juli 2026, luas wilayah yang dikuasai Israel diperkirakan telah melampaui 60 persen dari total daratan Gaza. Israel juga disebut masih menargetkan ekspansi lebih lanjut hingga mencapai sekitar 70 persen wilayah Jalur Gaza.

3. Senjata Kelaparan: Bantuan Dipangkas hingga 65%

Tekanan militer berjalan seiring dengan pengetatan pasokan logistik. Kementerian Pembangunan Sosial Palestina memperingatkan adanya krisis ketahanan pangan yang sangat akut akibat penghentian pasokan bantuan dan lonjakan harga barang mendasar.

Gaza membutuhkan setidaknya 600 truk bantuan per hari untuk menjaga taraf hidup minimum warga. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hanya 190 hingga 250 truk yang diizinkan masuk setiap harinya, artinya terjadi defisit pasokan sebesar 65%.

Dampaknya sangat fatal: puluhan dapur umum dan pos bantuan mandiri terpaksa tutup. Saat ini, 77% populasi Gaza berada dalam tingkat kerawanan pangan kritis. Lebih dari 100.000 anak-anak serta 37.000 ibu hamil dan menyusui kini terancam gizi buruk akut tanpa akses perawatan medis.

4. Melumpuhkan Kepolisian demi Menciptakan Anarki

Taktik keempat yang tidak kalah berbahaya adalah penghancuran sistematis terhadap aparat kepolisian sipil dan lembaga penegak hukum lokal. Di tengah lautan pengungsi dan hancurnya roda ekonomi, keberadaan polisi sangat krusial untuk menjaga ketertiban sosial dan distribusi bantuan.

Namun, markas dan personel kepolisian justru menjadi sasaran tembak rutin militer Israel. Analis politik Ahmad Al-Tanani menilai, serangan ini bukan insiden taktis semata, melainkan strategi terencana untuk melumpuhkan struktur administrasi Gaza.

“Israel sengaja menargetkan institusi sipil dan keamanan untuk meruntuhkan tatanan sosial, memicu kekacauan (chaos), dan mencegah pemerintahan lokal memulihkan fungsinya. Mereka memanfaatkan pengalihan perhatian dunia untuk mengamankan ‘kebebasan beroperasi secara militer’ tanpa pengawasan,” jelas Al-Tanani kepada Al Jazeera.

Kampanye Kampanye #KalianDibohongi

Menghadapi konspirasi pembiaran ini, para jurnalis, aktivis, dan pekerja kemanusiaan di Gaza meluncurkan kampanye digital global bertajuk “Kalian Dibohongi” (They Lied to You) menggunakan tagar bilingual sejak 16 Juli lalu. Kampanye ini bertujuan membongkar narasi palsu bahwa perang di Gaza telah usai.

Mahmoud Basal dari Pertahanan Sipil menyuarakan kepedihannya dalam kampanye tersebut, “Gencatan senjata seperti apa yang terjadi ketika anak-anak kami masih terus dibunuh, rumah-rumah kami terus dibom, dan tenda-tenda pengungsian dihantam artileri setiap hari?”

Seorang anak Gaza yang terbaring dengan selang medis di tubuhnya turut menyampaikan pesan singkat dalam sebuah rekaman video, “Kalian dibohongi saat mereka bilang perang sudah selesai. Di sini, perang, kelaparan, kehancuran, dan pemboman masih berlangsung detik ini juga.”

Realitas di Gaza hari ini bukanlah gencatan senjata, melainkan perang pemusnahan yang berganti wujud. Di bawah payung perjanjian hukum yang diabaikan dan perhatian dunia yang teralih, warga Palestina di Gaza terus berjuang bertahan hidup dari pendudukan, pembunuhan, dan pembatasan pangan yang terstruktur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here