GAZA — Kesepakatan gencatan senjata yang telah berjalan sejak 10 Oktober 2025 kini tak lebih dari sekadar dokumen usang tanpa makna di lapangan. Hari-hari berdarah di Jalur Gaza kembali berlanjut. Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan, militer Israel melancarkan pemboman brutal ke wilayah yang berada di luar kendali operasi mereka di lingkungan al-Zaytoun, selatan Kota Gaza, yang melukai sedikitnya lima orang warga sipil.
Agresi harian ini menjadi kelanjutan dari malam mencekam sebelumnya. Dua warga Palestina, termasuk seorang wanita, terluka parah setelah jet tempur Israel meratakan tiga rumah warga di wilayah tengah Jalur Gaza. Serangan udara tersebut memicu kehancuran masif pada bangunan dan fasilitas publik di sekitarnya.
Teror Melalui Panggilan Telepon
Berdasarkan laporan yang dihimpun dari sumber-sumber lokal, rentetan serangan udara malam itu menyasar tiga titik padat penduduk secara bergantian. Rudal Israel menghancurkan rumah milik keluarga Baraka di Kota Deir al-Balah, disusul pemboman rumah milik keluarga Al-Nabulsi di kamp pengungsi Al-Maghazi. Tak lama kemudian, jet tempur kembali mengoyak langit barat kamp Al-Nuseirat dan meratakan rumah milik keluarga Matar.
Skenario penghancuran ini didahului oleh teror psikologis. Sejumlah saksi mata menuturkan, beberapa saat sebelum bom dijatuhkan, saluran telepon warga berdering. Agen intelijen Israel melayangkan ancaman dan memerintahkan evakuasi massal di tiga blok permukiman tersebut.
Pemberitahuan mendadak itu seketika memicu kepanikan luar biasa. Ratusan warga dan pengungsi berlarian menyelamatkan diri ke jalanan dalam kegelapan malam, sesaat sebelum dentuman keras menghancurkan tempat tinggal mereka hingga menjadi puing-puing.
Menghancurkan Penjaga Ketertiban Sipil
Satu hari sebelum tiga rumah warga diratakan, Israel melakukan serangan terarah yang memicu kecaman luas. Kementerian Dalam Negeri Gaza mengonfirmasi bahwa jet tempur Israel sengaja membom sebuah kantor polisi lokal di kawasan Al-Faluja, kamp pengungsi Jabalia.
Serangan tersebut menewaskan 8 orang, termasuk Kepala Kepolisian Sektor Jabalia, Kolonel Muhammad Marwan Salem, bersama sejumlah perwira dan anggotanya. Langkah Israel menyasar aparat kepolisian sipil ini dinilai sebagai upaya sistematis untuk menciptakan kekacauan sosial (total chaos) dan melumpuhkan sisa-sisa administrasi publik yang bertugas menjaga ketertiban warga.
Faksi perlawanan Hamas mengutuk keras pemboman kantor polisi tersebut dan menyebutnya sebagai bukti nyata dari watak brutal pemerintahan Tel Aviv yang menolak kedamaian.
“Kami mendesak para mediator, negara-negara penjamin kesepakatan Sharm el-Sheikh, serta Pemerintah Amerika Serikat untuk mengambil sikap tegas. Dunia harus mengutuk dan menghentikan rentetan pelanggaran kriminal yang terus diproduksi oleh pemerintahan penjahat perang Benjamin Netanyahu,” tulis Hamas dalam pernyataan resminya.
Statistik Kelam di Bawah Pembiaran Dunia
Pembangkangan Israel terhadap kesepakatan damai terus menggemukkan angka korban jiwa secara mengerikan. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Palestina merinci dampak nyata dari pelanggaran gencatan senjata sepihak oleh Israel:
- Korban Jiwa Pasca-Gencatan Senjata: 1.123 warga Palestina syahid sejak kesepakatan damai diteken pada Oktober lalu.
- Korban Luka Pasca-Gencatan Senjata: 3.616 orang mengalami luka-luka akibat bombardir harian yang terus terjadi.
- Akumulasi Total Korban Perang: Sejak badai agresi pecah pada Oktober 2023, lebih dari 73.000 jiwa melayang dan 173.000 orang terluka, disertai kehancuran total pada 90% infrastruktur sipil Gaza.
Rentetan serangan terbaru ini menegaskan satu pesan dari Tel Aviv: gencatan senjata bukanlah akhir dari agresi, melainkan metode lain untuk melanjutkan penghancuran Gaza dengan intensitas yang diatur. Dunia internasional kini diuji untuk tidak sekadar melayangkan retorika, melainkan menghentikan impunitas hukum yang dinikmati Israel di atas darah warga Gaza.










