GAZA — Asosiasi Kebudayaan dan Pemikiran Bebas (Center for Free Cultural and Thought) di Gaza berhasil menghidupkan kembali laboratorium seni mosaik (fann al-fusaifisa’) mereka yang sempat mati suri akibat genosida berkepanjangan. Mengandalkan sisa-sisa material yang selamat dari reruntuhan, ruang kreatif ini menjadi tempat anak-anak dan remaja Gaza menyembuhkan trauma mendalam, sekaligus mengabadikan sejarah mereka di atas pecahan batu.
Uniknya, elemen utama yang menyusun mahakarya seni ini bukan batu marmer mewah atau keramik impor, melainkan bebatuan dan puing-puing rumah mereka sendiri yang hancur berkeping-keping.
Merekam Memori Kolektif Sebelum 1948
Seniman visual asosiasi tersebut, Mohammed Abu Lahiya, menjelaskan bahwa proyek ini diawali dengan melatih anak-anak penyintas perang melalui kelas intensif mengenai teknik dasar pembuatan mosaik. Proses ini tidak instan. Seni menyusun pecahan batu memerlukan presisi tingkat tinggi dan ketekunan luar biasa.
“Melatih anak-anak untuk bersabar, fokus, dan teliti di tengah suasana psikologis yang terkoyak akibat perang membutuhkan waktu berbulan-bulan,” kata Abu Lahiya kepada Al Jazeera.
Fokus utama dari kreasi mosaik ini adalah merawat warisan budaya (al-murooth al-thaqafi) Palestina. Anak-anak diajak merekonstruksi ulang pemandangan klasik kehidupan Palestina pra-Nakbah 1948—mulai dari figur perempuan bergaun rajut tradisional, petani yang sedang mencangkul, pohon zaitun kuno, hingga garis pantai Gaza yang indah.
Mosaik dipilih karena sifatnya yang abadi (sustainable art). “Seni ini kokoh. Biarpun diterpa waktu, perubahan iklim, atau bahkan erosi akibat perang, keindahan dan detail warnanya akan tetap terjaga melintasi generasi,” tambahnya.
Ketika Puing Rumah Menggantikan Semen dan Keramik
Tantangan terbesar yang dihadapi laboratorium seni ini adalah kelangkaan akut pada bahan baku akibat blokade total Israel. Untuk mengatasinya, para instruktur dan anak-anak dipaksa memutar otak menciptakan bahan alternatif di setiap fase kerja—mulai dari pemotongan, penyusunan, hingga perekatan.
Di Gaza saat ini, semen sebagai bahan perekat utama adalah barang mewah yang hampir mustahil ditemukan. Sebagai gantinya, mereka memungut batu bata merah dari rumah warga yang runtuh, menumbuknya hingga halus, lalu mencampurnya dengan formula lokal untuk dijadikan adukan semen pengganti.
Sementara untuk batu warna-warninya, anak-anak masuk ke bawah reruntuhan rumah mereka sendiri. Mereka memilah pecahan ubin, keramik dinding, dan batu berwarna, mendaur ulangnya, lalu membentuknya kembali dengan tang pemotong manual sebelum direkatkan membentuk jajaran lukisan dinding yang megah.
Terapi Trauma di Atas Plat Besi Medis
Bagi anak-anak Gaza, menyusun mosaik dari batu reruntuhan bukan sekadar urusan estetika, melainkan sebuah metode katarsis—terapi psikologis darurat untuk membuang energi negatif dan trauma perang.
Kenan Mustafa Ramadan (14 tahun) menemukan ruang penyembuhan itu di sini. Rumah keluarganya di kawasan Al-Mawasi, Khan Younis, hancur lebur dihantam bom kurang dari setahun lalu. Serangan itu meninggalkan luka fisik dan psikis yang mendalam pada tubuh mungilnya.
“Saya terbaring sakit selama 6 bulan pasca-ledakan. Tubuh saya dipasang pen dan plat besi karena patah tulang. Tangan saya cacat kosmetik, dan kaki saya saat ini masih harus ditopang alat bantu medis untuk berjalan,” tutur Kenan kepada Al Jazeera.
Di meja kerja laboratorium, sambil bercengkerama dengan teman-teman sebayanya, jemari Kenan yang terluka dengan telaten menempelkan satu demi satu pecahan batu. Aktivitas ini perlahan mengembalikan rasa percaya dirinya yang sempat hilang.
Senada dengan Kenan, Inayah Abu Hadrous (15 tahun) sengaja bergabung dalam kelas mosaik untuk melarikan diri dari tekanan mental akibat perang genosida yang ia saksikan setiap hari.
“Kami membuat lukisan baru dan merestorasi karya-karya lama dari seniman terdahulu. Kami tidak punya cat, pewarna, atau alat potong yang memadai. Kami hanya memakai apa saja yang tersisa di tanah untuk menghasilkan karya yang layak, meskipun sering kali lukisan kami terpaksa tidak selesai karena kehabisan bahan baku di tengah jalan,” ungkap Inayah tegar.
Melalui pecahan batu yang hancur dibom, anak-anak Gaza sedang mengirimkan pesan visual yang kuat kepada dunia: mereka mampu menyusun kembali puing-puing kehancuran menjadi sebuah keindahan yang abadi dan menolak untuk dilupakan.










