GAZA — Sedikitnya tiga warga Palestina, termasuk seorang anak-anak, dilaporkan syahid dan 19 lainnya mengalami luka-luka dalam serangkaian serangan udara yang dilancarkan sejak Selasa (30/6) siang hingga Rabu (1/7) waktu setempat.

Sumber medis dan saksi mata di lapangan mengonfirmasi bahwa serangan mematikan menggunakan pesawat nirawak (drone) menyasar kawasan Al-Mawasi, sebelah barat Kota Khan Younis, di bagian selatan Jalur Gaza. Serangan tunggal ini mengakibatkan tiga orang meninggal dunia dan melukai 17 warga sipil lainnya.

Di wilayah utara, kekerasan tak kalah brutal terjadi. Seorang warga Palestina dilaporkan berada dalam kondisi kritis setelah drone Israel menghantam atap rumah di sekitar Bundaran Abu Sharkh, kawasan Al-Falouja, sisi barat Kamp Jabalia. Insiden serupa juga menimpa seorang pria lainnya di lingkungan Sheikh Radwan, utara Kota Gaza, yang mengalami luka parah akibat serangan serupa ke atap hunian warga.

Saksi mata di lapangan menegaskan bahwa titik-titik lokasi pengeboman tersebut berada di luar radius zona kendali militer Israel berdasarkan kesepakatan gencatan senjata. Sebelumnya, tim medis juga berhasil mengevakuasi jasad seorang warga Palestina dari sekitar Bundaran Kuwait di Distrik Zeitoun, tenggara Kota Gaza, yang tewas dalam serangan terdahulu.

Data dari Kementerian Kesehatan di Gaza mencatat, sejak Oktober 2025, pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan pihak Israel telah merenggut 1.053 nyawa warga Palestina dan melukai 3.406 orang lainnya.

Pasukan Internasional Tiba, Hamas Tagih Komitmen

Di tengah dentuman serangan yang terus berlanjut, dinamika baru muncul dengan tibanya kendaraan serta perlengkapan logistik milik Pasukan Stabilitas Internasional (International Stabilization Force). Pengerahan pasukan ini merupakan bagian dari peta jalan gencatan senjata yang diusung oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dewan Perdamaian (Peace Council) telah merilis dokumentasi foto yang memperlihatkan masuknya aset logistik pasukan tersebut ke wilayah Gaza.

Menanggapi langkah ini, gerakan perlawanan Islam, Hamas, menyatakan harapannya agar kehadiran pasukan internasional tersebut menjadi langkah konkret untuk menengahi konflik. Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menegaskan bahwa kehadiran pasukan ini harus difungsikan untuk memisahkan antara warga sipil dan militer Israel, sekaligus menghentikan pelanggaran gencatan senjata yang terus terjadi.

Hamas secara resmi mendesak Dewan Perdamaian untuk segera merealisasikan poin-poin krusial dalam rencana penghentian perang, yang meliputi:

  • Akses Pemerintahan: Memfasilitasi masuknya Komite Nasional Pengelola Gaza untuk segera menjalankan fungsi administratif.
  • Bantuan Kemanusiaan: Memberikan bantuan nyata dan mendesak bagi warga sipil yang terjebak di tengah kehancuran.
  • Penarikan Militer: Memaksa pasukan pendudukan Israel untuk mundur sepenuhnya dari seluruh zona di Jalur Gaza.
  • Rekonstruksi: Memulai proses pembangunan kembali infrastruktur sebagai hak mendasar bagi seluruh warga Palestina di seluruh penjuru Gaza.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here