GAZA — Sedikitnya delapan warga Palestina, termasuk dua anak perempuan, syahid dan puluhan lainnya luka-luka akibat serangkaian serangan udara dan artileri pasukan penjajah pada Senin (29/6). Di tengah eskalasi yang terus memanas, rencana terselubung Tel Aviv kian benderang setelah seorang menteri sayap kanan Israel mengumumkan kesiapan penuh untuk mendirikan tiga permukiman ilegal baru di Gaza.
Sumber medis di Gaza mengonfirmasi kepada Al Jazeera bahwa rentetan serangan sejak Senin pagi telah merenggut delapan nyawa dan melukai lebih dari 40 warga sipil. Di Khan Younis, wilayah selatan Gaza, sebuah serangan udara menyasar tenda-tenda pengungsi di kawasan Al-Mawasi.
Serangan ini menyebabkan seorang ibu beserta anak perempuannya syahid, serta menghancurkan tempat bernaung darurat yang tersisa bagi warga yang senantiasa terusir.
Saksi mata menuturkan, serangan tersebut terjadi sesaat setelah sebuah drone Israel membombardir tenda rekreasi di pantai Al-Mawasi. Insiden di pesisir barat Khan Younis itu menewaskan dua orang dan melukai 27 lainnya. Sementara itu, di wilayah timur kota yang sama, brondongan tembakan tentara Israel di dekat Bundaran Bani Suhaila menewaskan satu warga sipil dan melukai seorang anak perempuan.
Awan hitam juga menggelayuti Gaza tengah. Di Deir al-Balah, serangan pesawat tanpa awak menghantam kerumunan warga di Jalan Al-Baraka, menewaskan tiga orang (termasuk seorang anak-anak) serta melukai beberapa lainnya. Bergerak ke utara, dentuman artileri berat mengguncang kawasan As-Salatin di Beit Lahia, yang mengakibatkan seorang pemuda dan seorang wanita luka-luka.
Pelanggaran Gencatan Senjata dan Pergeseran “Garis Kuning”
Tak sekadar melancarkan serangan udara, militer Israel juga melakukan operasi bumi hangus dengan meledakkan sejumlah fasilitas dan gedung di timur laut Khan Younis. Ledakan dahsyat dilaporkan terdengar berkali-kali, beriringan dengan desingan peluru dari kendaraan taktis yang bersiaga di perbatasan timur.
Di kamp pengungsi Nuseirat, tank-tank Israel merangsek masuk ke Jalan Salahuddin di sekitar perusahaan listrik. Saksi mata mengungkapkan, kendaraan militer tersebut secara sepihak memindahkan pembatas beton yang dikenal sebagai “Garis Kuning” sejauh 150 meter ke arah barat, membentang dari wilayah selatan dekat perusahaan listrik hingga jembatan Lembah Gaza di utara.
Pergeseran sepihak pembatas beton ini mengejutkan warga pada Senin pagi. Langkah ini dinilai sebagai upaya nyata Israel memperluas zona kendali militernya, sekaligus menjadi tamparan keras terhadap kesepakatan gencatan senjata yang tengah berjalan.
Saat ini, militer Israel dilaporkan telah menguasai lebih dari 70 persen wilayah Jalur Gaza melalui koridor pengaman ketat tersebut. Data Kementerian Kesehatan di Gaza menunjukkan, pelanggaran gencatan senjata oleh Israel hingga kini telah menewaskan 1.045 warga Palestina dan melukai 3.380 lainnya, dengan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak.
Sejak awal agresi pada 8 Oktober 2023, skala kehancuran Gaza telah mencapai titik nadir: lebih dari 73 ribu jiwa syuhada gugur, 173 ribu orang terluka, dan 90 persen infrastruktur sipil rata dengan tanah.
Ambisi Aneksasi dan Skema Pengusiran Massal
Di balik ofensif militer ini, blueprint politik sayap kanan Israel untuk menguasai total Gaza kian tak berjarak. Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, menyatakan bahwa jajarannya di bawah Administrasi Permukiman Kementerian Pertahanan telah merampungkan persiapan teknis untuk membangun tiga permukiman Yahudi di Jalur Gaza.
“Kami siap membangun tiga permukiman ini segera, begitu mendapatkan lampu hijau dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu,” ujar Smotrich, yang juga memimpin partai ekstrem kanan Zionisme Religius, usai bertemu dengan Wali Kota Sderot.
Smotrich mendesak Netanyahu untuk segera menyetujui langkah tersebut demi menciptakan apa yang ia sebut sebagai “sabuk pengaman Yahudi” untuk melindungi kota-kota Israel di sekitar Gaza. Ia bahkan secara terbuka menyerukan pendudukan total atas sisa wilayah Gaza yang belum dikuasai.
Ambisi ini menandai upaya sistematis Israel untuk kembali menancapkan kuku permukiman ilegalnya di Gaza sejak menarik diri pada tahun 2005 silam melalui kebijakan Disengagement Plan.
Selaras dengan Smotrich, Menteri Inovasi, Sains, dan Teknologi Israel, Gila Gamliel, mengungkapkan bahwa dirinya telah mengajukan proposal kepada kabinet pemerintahan terkait skema pengusiran massal warga Palestina dari Gaza.
Rencana yang diklaim mendapat sokongan dari lembaga intelijen luar negeri, Mossad, tersebut berkedok proyek “migrasi sukarela”. Gamliel menegaskan bahwa begitu warga Gaza berhasil diusir, wilayah tersebut akan diubah menjadi ladang emas baru bagi proyek permukiman ilegal Israel.










