GAZA – Perjanjian gencatan senjata yang diteken dengan tinta emas pada 10 Oktober 2025 rupanya tak lebih dari sekadar jeda administratif bagi mesin perang Israel. Pada Selasa (26/5), ketika perhatian dunia muslim tertuju pada ritual wukuf di Padang Arafah, langit Gaza kembali menyemburkan api. Delapan nyawa melayang dalam hitungan jam akibat rangkaian serangan udara militer Israel yang menyasar wilayah tengah dan selatan kantong pengungsian itu.
Di wilayah tengah, sebuah drone Israel membidik kerumunan warga di bagian timur Kamp Al-Maghazi. “Lima jenazah dan belasan korban luka dievakuasi dari lokasi,” kata Mahmoud Basal, juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, kepada Agence France-Presse (AFP).
Kondisi korban di lapangan digambarkan teramat ringsek. Unit instalasi gawat darurat Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir al-Balah mengonfirmasi bahwa sedikitnya sembilan korban luka dalam kondisi kritis, sementara satu jenazah tiba di kamar mayat dalam keadaan hangus dan koyak tak beraturan.
Kemunculan Milisi Bayangan di Zona Militer
Di balik serangan udara di Al-Maghazi, sebuah dinamika baru yang keruh mulai terendus di lapangan. Sumber keamanan lokal membisikkan kepada AFP bahwa rudal drone itu dilepaskan justru saat warga lokal tengah mengepung dan menghalau sekelompok orang yang diduga sebagai informan dan kaki tangan Israel (collabo). Kelompok ini kedapatan mencoba merangsek dan menguasai rumah-rumah kosong di timur kamp.
Bukan rahasia lagi di Gaza, sebuah faksi bersenjata lokal berkekuatan ratusan personel—yang ditengarai mendapat sokongan logistik dan restu militer Israel—kini bercokol di zona-zona penyangga yang dikendalikan IDF (militer Israel) di Gaza Selatan. Menurut sumber intelijen domestik, milisi bayangan ini kerap melakukan operasi penculikan dan pembunuhan senyap yang membidik para aktivis Hamas serta elemen perlawanan garis keras.
[KOLABORASI DI ZONA KENDALI IDF]
Militer Israel (IDF) ──> Sokongan Logistik
│
▼
[Milisi Bayangan Sipil] ──> Operasi Penculikan/Pembunuhan
│
▼
Target: Aktivis & Warga Lokal
Dapur Data: Statistik Korban Idul Adha di Tengah “Jeda Perang”
Kematian juga merembet ke wilayah selatan. Di Khan Younis, sebuah rudal presisi menghantam sebuah mobil sipil, menewaskan dua penumpang seketika. Sementara itu, fajar berdarah di kawasan Rumah Potong Hewan Turki ditandai dengan muntahan peluru tajam infanteri Israel yang merobek tenda pengungsi, melukai seorang ibu yang kini dirawat di RS Nasser.
Melengkapi manifes duka hari ini, bocah perempuan berusia 14 tahun bernama Fatima Abdul Hadi al-Khatib mengembuskan napas terakhirnya. Fatima menyerah pada luka parah di kepalanya setelah tenda keluarganya di Kamp Ghaith, kawasan pesisir Al-Mawasi—yang ironisnya diklaim Israel sebagai zona aman—dihantam artileri pada Senin kemarin.
Kementerian Kesehatan Gaza merilis data agregat mengenai efektivitas “gencatan senjata” yang kerap dilanggar secara sepihak oleh Tel Aviv:
| Parameter Krisis (Per Mei 2026) | Angka Riil / Estimasi Kerugian | Status Operasional |
| Korban Tewas Pasca-Gencatan Senjata | 904 Jiwa | Terhitung sejak 10 Oktober 2025 |
| Korban Luka Pasca-Gencatan Senjata | 2.713 Orang | Didominasi perempuan dan anak-anak |
| Total Korban Jiwa Kumulatif (Sejak 2023) | > 72.000 Jiwa | Korban tewas yang teridentifikasi |
| Estimasi Biaya Rekonstruksi (PBB) | US$ 70 Miliar | Kerusakan mencakup 90% infrastruktur |
Kecaman Hamas dan Mandat yang Mandul
Dari biro politiknya, Hamas langsung mengeluarkan pernyataan keras atas eskalasi di hari sakral ini. Juru bicara gerakan tersebut, Hazem Qassem, menyebut serangan beruntun di Al-Maghazi dan Khan Younis sebagai bukti empiris bahwa Israel tidak pernah berniat menghentikan perang pembersihan etnis.
“Eksekusi warga di Al-Maghazi dan pemboman mobil di Khan Younis hari ini adalah kelanjutan dari perang pemusnahan massal. Ini penghinaan telanjang terhadap negara-negara mediator dan dokumen jaminan yang ditandatangani di atas meja perundingan,” cetus Qassem.
Qassem juga menuding Dewan Keamanan PBB dan institusi perdamaian internasional ikut menanggung noda darah ini. Sikap diam dan ketidakmampuan mereka memaksa Tel Aviv mematuhi kesepakatan dinilai sebagai bentuk legitimasi tidak langsung atas pelanggaran yang terus berulang.
Tepat saat para jemaah haji menyelesaikan wukuf dan gema takbir Idul Adha mulai bersahutan, moncong senapan Israel di pesisir Rafah dan Khan Younis justru ikut menyalak, melepaskan tembakan peringatan ke arah perahu-perahu nelayan tradisional. Gaza kembali merayakan hari besarnya dengan bau mesiu yang sama, mengubur anak-anak mereka di bawah bayang-bayang perjanjian damai yang mandul.










