AL-QUDS – Di saat jutaan umat muslim di seluruh dunia khusyuk merayakan Hari Arafah, Selasa (26/5), atmosfer di kompleks Masjid Al-Aqsa justru memanas. Bukannya ketenangan ibadah yang didapat warga muslim Al-Quds, mereka harus menyaksikan gelombang perayaan keagamaan lain yang dipaksakan masuk ke halaman tempat suci tersebut. Ratusan pemukim ilegal Israel merangsek masuk ke dalam kompleks, dikawal ketat oleh barikade aparat keamanan bersenjata lengkap.
Sejumlah rekaman video yang beredar di lapangan memperlihatkan kelompok pemukim Yahudi itu menggelar ritual dan melafalkan doa-doa dengan suara lantang. Mereka berkerumun di area Serambi Barat, tepat di dekat Bab al-Qattanin (Gerbang Pedagang Kapas). Aksi ini sengaja digelar untuk memperingati hari raya Yahudi, Shavuot (Hari Raya Pengumpulan Hasil Panen/Pesta Budaya Mingguan).
Lembaga kredibel setempat, Pusat Informasi Wadi Hilweh, merilis data bahwa jumlah pemukim ilegal yang merangsek masuk pada gelombang pertama saja (yakni sepanjang waktu pagi) telah menembus 302 orang.
Menurut laporan resmi Kantor Gubernur Al-Quds, provokasi ini sengaja didesain dalam bentuk “tur keliling” di sepanjang koridor sebelah timur dan Serambi Barat. Sepanjang rute itu, para pemukim melakukan ritual Talmud secara demonstratif. Kehadiran polisi Israel di lokasi terkesan bukan untuk menjaga ketertiban umum, melainkan pasang badan melindungi para pemukim agar ritual politik-keagamaan itu tidak terganggu oleh protes warga muslim.
Namun, urusan Al-Aqsa hanyalah satu potret kecil dari penggusuran ruang hidup warga lokal yang terjadi hari ini.
Masih di hari yang sama, aparat kepolisian Israel menggedor dan menggeledah paksa rumah milik Abdul Halim al-Shaloudi. Rumah yang terletak di permukiman Wadi Hilweh, kawasan Silwan itu, saat ini berstatus merah: terancam dieksekusi dan dikosongkan secara paksa demi proyek perluasan lahan pemukiman Yahudi.
Dapur Data: Statistik Eskalasi di Al-Quds
Sehari sebelumnya, Senin kemarin, otoritas Tel Aviv juga dilaporkan telah menggelar operasi maraton di wilayah administratif Al-Quds. Operasi itu mencakup penghancuran bangunan, penangkapan pemuda lokal, pembuangan paksa (deportasi), hingga penempelan segel stop-konstruksi pada rumah-rumah warga Palestina.
Tak tanggung-tanggung, papan pengumuman sita juga dipasang di atas puluhan hektar tanah milik warga setempat.
Pusat Informasi Wadi Hilweh mencatat pola pergerakan pemukim ilegal ini kian hari kian terorganisir dan masif. Berikut adalah grafik pergerakan gelombang serbuan pemukim ke Al-Aqsa dalam dua momentum terakhir:
Jika merujuk pada data agregat tahun ini, sepanjang April lalu saja, tercatat ada 4.112 pemukim yang menggelar aksi serupa di bawah kawalan polisi.
Bagi warga Yerusalem Timur, runtunan peristiwa ini bukan lagi sekadar masalah benturan klaim teologis. Pembacaan politiknya lebih telanjang: memanfaatkan momentum hari raya keagamaan mereka sendiri untuk menegaskan cengkeraman geopolitik di Al-Quds, sembari memanfaatkan hari sakral umat Islam saat konsentrasi warga sedang terpecah merayakan Arafah.
Idul Adha di Al-Quds tak pernah lagi menjadi perayaan yang murni, ia selalu bersanding dengan kecemasan tentang siapa lagi yang akan kehilangan rumah esok hari.










