RAMALLAH – Bagi Syekh Muhammad Mahmud Hasan Abu Tair, jeruji besi bukanlah pembatas kebebasan, melainkan ruang tunggu yang panjang. Pada 21 Mei 2026, pria berjenggot lebat yang memutih dan diwarnai pacar merah itu melangkah keluar dari penjara Israel. Itu adalah pembebasannya yang kesekian kali, menyudahi total 44 tahun masa tahanan yang ia jalani secara terputus-putus. Sebuah angka yang mengerikan, Abu Tair menghabiskan lebih dari separuh masa hidupnya di balik terali besi.
Di luar penjara, namanya adalah legenda urban di jalanan Al-Quds. Di dalam sel, ia dipanggil dengan takzim: “Sidi Omar”, merujuk pada Omar Al-Mukhtar, singa padang pasir Libya. Sementara rekan sesama tahanan, Dr. Najeh Bkerat, menyebutnya dengan julukan yang lebih universal, “Mandela-nya Palestina.”
Lahir pada 16 April 1951 di Desa Umm Tuba, Yerusalem, Abu Tair tumbuh di lingkungan keluarga yang akrab dengan bedil dan perlawanan. Ayahnya adalah pejuang yang angkat senjata bersama milisi Ikhwanul Muslimin melawan geng-geng Zionis saat peristiwa Nakba 1948. Satu sepupunya gugur sebagai martir, dan yang lain menjadi berada di balik sel. Garis hidup Abu Tair seperti sudah digariskan sejak mula, ia tak akan menjadi penonton dalam pusaran perlawanan tanah airnya.
Dari “Tareq bin Ziyad” ke Sayap Kanan Hamas
Perjalanan politik Abu Tair adalah cermin evolusi perlawanan Palestina itu sendiri. Di masa mudanya, ia tak langsung mengenakan jubah ulama atau bergabung dengan gerakan Islam. Ia memulai debut perlawanannya di bawah bendera Fatah, gerakan nasionalis sekuler yang didirikan Yasser Arafat. Menggunakan nama samaran “Tareq bin Ziyad,” Abu Tair muda dikirim ke kamp-kamp militer di Lebanon dan Suriah untuk belajar merakit bom dan taktik gerilya kota.
Garis balik hidupnya terjadi di Penjara Al-Ramla pada 1976, dua tahun setelah penangkapan pertamanya yang berujung vonis 16 tahun. Di dalam sel yang pengap itu, ideologinya bergeser. Bersama beberapa tahanan lain, ia mendirikan Al-Jama’ah Al-Islamiyah (Kelompok Islam), sebuah faksi tahanan yang kelak menjadi motor penggerak mogok makan dan perlawanan kolektif terhadap sipir Israel.
Pada 1984, di dalam penjara pula, ia bertemu untuk pertama dan terakhir kalinya dengan Syekh Ahmed Yassin, pria lumpuh yang kelak mendirikan Hamas. Pertemuan itu mengkristalkan haluan baru Abu Tair. Saat keluar penjara lewat kesepakatan pertukaran tawanan “Ahmed Jibril” pada 1985, ia sudah berada di barisan depan pembentukan sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin Al-Qassam.
Di sinilah nama samarannya berubah menjadi “Omar Al-Muntar.” Pada 1992, ia kembali diringkus dengan tuduhan membentuk sel militer bersama tokoh-tokoh kunci Hamas seperti Saleh Al-Arouri serta عوض الله (Awadallah) bersaudara.
Parlemen, Pengasingan, dan Pembekuan Status
Gelar “ulama pejuang” membuat elektabilitas Abu Tair meroket. Pada pemilu legislatif 2006, ia maju sebagai anggota parlemen lewat Blok Perubahan dan Reformasi, sayap politik Hamas. Mereka menang mutlak, sebuah hasil yang membuat Tel Aviv meradang.
Bukannya duduk di kursi empuk parlemen, Abu Tair justru kembali masuk bui. Puncaknya pada 2010, Israel mencabut hak tinggalnya di Al-Quds dan membuangnya ke Ramallah, wilayah di bawah kendali Otoritas Palestina (PA).
Hingga hari ini, di usianya yang menginjak 75 tahun, Abu Tair dan beberapa anggota parlemen asal Al-Quds yang senasib memilih hidup luntang-lantung di Ramallah dengan prinsip yang keras. Mereka menolak membuat kartu identitas (KTP) berlogo Otoritas Palestina. Bagi mereka, menerima KTP Ramallah sama saja dengan mengakui legitimasi pengusiran mereka dari Al-Quds. Mereka tetap memegang identitas lama mereka, warga Al-Quds.
Dapur Data: Rekam Jejak 44 Tahun Penjara
| Dekade | Peristiwa & Tuduhan Utama | Status / Konsekuensi |
|---|---|---|
| 1974 | Aktivitas gerilya bersama Fatah (“Tareq bin Ziyad”) | Vonis 16 tahun, bebas lewat pertukaran tawanan (1985) |
| 1992 | Membentuk sel militer Brigade Al-Qassam bersama Saleh Al-Arouri | Vonis 6 tahun penjara |
| 1998 | Reorganisasi jaringan bawah tanah Hamas | Vonis 7 tahun penjara |
| 2006 – 2026 | Terpilih sebagai Anggota Parlemen Hamas & penangkapan berulang | Diasingkan ke Ramallah (2010), bebas terakhir 21 Mei 2026 |
Melawan Doktrin Oslo
Bagi Abu Tair, perdamaian di atas kertas seperti Perjanjian Oslo 1993 adalah bualan politik untuk mengecekik pelan-pelan hak kepemilikan tanah Palestina. Doktrinnya tunggal: Palestina bersejarah hanya bisa direbut kembali dengan perlawanan, bukan negosiasi di meja hotel berbintang.
Meski garis politiknya keras, Abu Tair adalah figur yang disegani lintas faksi karena integritasnya. Dari dalam penjara, ia menulis otobiografi setebal 600 halaman berjudul Sidi Omar yang diterbitkan oleh Pusat Studi Al-Zaytouna di Beirut pada 2017. Buku itu menjadi semacam manual bagi para pemuda Palestina tentang bagaimana cara menjaga kewarasan dan ideologi di dalam sel isolasi Israel.
“Ia bisa saja memilih hidup nyaman sebagai imam masjid dan politikus necis,” ujar Dr. Najeh Bkerat. “Tapi ia memilih jalan yang paling terjal.” Sejak 1985, Abu Tair dilarang bepergian ke luar negeri, dikucilkan dari Kota Tua Yerusalem, dan diharamkan menginjakkan kaki di Masjid Al-Aqsa. Namun bagi pria uzur ini, rumah aslinya memang bukan lagi bangunan bata di Umm Tuba, melainkan keyakinan bahwa suatu hari, rantai besi yang mengikat tanah airnya akan putus juga.
Sumber: Al Jazeera, Media Palestina










