Israel menculik aktivis Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) dari Spirit of Aqsa (SoA), As’ad Aras Muhammad, di perairan internasional sekitar 250 mil laut dari Gaza, Senin (18/5). Asad bergabung bersama ratusan aktivis Sumud Flotilla (GSF) yang berlayar ke Jalur untuk menembus blokade Gaza.

Sebelum diculik, Asad sempat memberikan update dari kapal Kasr’i Sabadat sebelum diculik. Dia mengatakan, tanda-tanda pembajakan sudah ada sejak Ahad malam (17/5) waktu setempat.

“Update terkini, mulai malam ini potensi di-intercept akan terjadi. Jadi tadi semua relawan di atas kapal sudah briefing lagi untuk mengatur jadwal jaga malam. Mulai dari sekarang, semua sudah siap dengan pakaian khusus jika terjadi penghadangan, dan paspor sudah melekat di badan,” ujar Asaad.

Menyikapi ancaman pembajakan, manajemen kapal telah menerapkan status siaga penuh. Protokol keamanan diperketat guna mengantisipasi segala bentuk pergerakan mencurigakan di sekitar armada.

  • Sistem Jaga Malam: Relawan dibagi ke dalam tim siskam laut yang berputar setiap 2 jam sekali. Setiap sif akan diisi oleh dua orang relawan yang berjaga di area strategis kapal.
  • Fokus Pemantauan: Tim jaga diinstruksikan untuk terus memantau pergerakan pesawat tanpa awak (drone), radar, serta tanda-tanda visual mencurigakan lainnya di tengah kegelapan Laut Mediterania.

Meskipun harus menghadapi ketegangan fisik dan perjuangan melawan mabuk laut di tengah ombak Mediterania, As’ad menegaskan bahwa moral para relawan tidak surut dalam mengawal misi kemanusiaan ini.

Saat ini, dukungan dan doa dari masyarakat internasional terus mengalir bagi keselamatan puluhan aktivis dunia yang sedang bertaruh nyawa demi menembus blokade dan mengantarkan bantuan logistik serta medis ke Gaza.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here