MEDITERANIA – Setelah sempat tertahan di Yunani akibat cuaca buruk, armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla kini memasuki fase paling krusial dan menegangkan dalam pelayaran mereka menuju Jalur Gaza. Memanfaatkan kondisi cuaca yang mulai membaik, seluruh kapal telah melanjutkan perjalanan, namun kini mereka harus bersiap menghadapi tantangan yang jauh lebih besar, potensi pembajakan (intercept) oleh otoritas militer di laut lepas.
Aktivis dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), As’ad Aras Muhammad, melaporkan langsung situasi di atas dek kapal mengenai persiapan intensif yang sedang dilakukan oleh seluruh kru dan relawan internasional.
“Update terkini, mulai malam ini potensi di-intercept akan terjadi. Jadi tadi semua relawan di atas kapal sudah briefing lagi untuk mengatur jadwal jaga malam. Mulai dari sekarang, semua sudah siap dengan pakaian khusus jika terjadi penghadangan, dan paspor sudah melekat di badan,” ujar As’ad.
Siaga Penuh 24 Jam dan Antisipasi Pengawasan Drone
Menyikapi ancaman penghadangan yang diprediksi akan meningkat dalam beberapa hari ke depan, manajemen kapal telah menerapkan status siaga penuh. Protokol keamanan diperketat guna mengantisipasi segala bentuk pergerakan mencurigakan di sekitar armada.
- Sistem Jaga Malam: Relawan dibagi ke dalam tim siskam laut yang berputar setiap 2 jam sekali. Setiap sif akan diisi oleh dua orang relawan yang berjaga di area strategis kapal.
- Fokus Pemantauan: Tim jaga diinstruksikan untuk terus memantau pergerakan pesawat tanpa awak (drone), radar, serta tanda-tanda visual mencurigakan lainnya di tengah kegelapan Laut Mediterania.
Meskipun harus menghadapi ketegangan fisik dan perjuangan melawan mabuk laut di tengah ombak Mediterania, As’ad menegaskan bahwa moral para relawan tidak surut dalam mengawal misi kemanusiaan ini.
Empat Hari Menuju Pantai Gaza
Garis lini masa pelayaran kini menjadi sangat krusial. Berdasarkan perhitungan navigasi, armada kemanusiaan ini diperkirakan akan melewati zona rawan pembajakan selama tiga malam ke depan.
Jika armada berhasil melewati hadangan dan blokade tersebut tanpa insiden fatal, kapal dijadwalkan akan menyentuh daratan Gaza pada hari keempat pelayaran.
“Jadi mulai malam ini sampai tiga malam ke depan adalah masa potensi intercept. Jika tidak ada penghadangan dalam tiga malam ini, maka hari keempat kita sudah sampai di Gaza, insyaallah,” pungkas As’ad mengakhiri laporan sela pelayarannya.
Saat ini, dukungan dan doa dari masyarakat internasional terus mengalir bagi keselamatan puluhan aktivis dunia yang sedang bertaruh nyawa demi menembus blokade dan mengantarkan bantuan logistik serta medis ke Gaza.










