Langit utara Gaza kembali menghitam. Pada Kamis ini, serangan udara dan rentetan tembakan pasukan Israel kembali merenggut sedikitnya empat nyawa warga Palestina. Namun, di balik angka-angka itu, terdapat kisah-kisah pilu tentang keluarga yang terkoyak dalam hitungan hari.

Di Jabalia Al-Balad, maut datang dari udara. Serangan jet tempur di Jalan Al-Nuzha seketika mengubah kerumunan warga menjadi pemandangan penuh darah. Di antara mereka yang gugur adalah Tamer Iyad al-Mutawwaq. Kepergian Tamer meninggalkan luka yang teramat dalam; ia SYAHID hanya berselang dua hari setelah ayahnya gugur dalam serangan serupa. Sebuah keluarga habis perlahan di tanah mereka sendiri.

Kematian juga mengintai dari teknologi tanpa awak. Di Jalan Gaza Lama, seorang pria tak berdaya syahid seketika setelah drone quadcopter menjatuhkan bom tepat ke arahnya. Sementara itu, di depan klinik UNRWA yang seharusnya menjadi zona perlindungan, Hassan Hamid Abed ambruk. Ia tak mampu bertahan setelah peluru tajam dari penembak jitu (sniper) Israel bersarang di tubuhnya.

Penumpasan dari Udara hingga Darat

Kekerasan ini tidak hanya terpusat di satu titik. Di wilayah barat, tepatnya di Beit Lahiya, seorang warga terluka akibat tembakan langsung. Bergeser ke selatan di Khan Yunis, dua orang lainnya dilarikan ke rumah sakit setelah ledakan menghantam area dekat bundaran Bani Suheila.

Tak cukup dengan serangan udara, penghancuran sistematis terhadap pemukiman terus berlangsung. Di timur Kota Gaza, dentuman keras terdengar saat pasukan darat melakukan peledakan (demolition) terhadap sejumlah rumah warga, dibarengi dengan hujan artileri yang mencekam.

“Dunia mungkin melihat ini sebagai statistik, tapi bagi kami, ini adalah kehilangan seluruh dunia.”

Hingga hari ini, agresi yang pecah sejak Oktober 2023 telah mencatat angka yang mengerikan:

  • 72.744 jiwa dinyatakan syahid.
  • 172.588 orang luka-luka.

Memasuki hari ke-217 sejak eskalasi terbaru pada Oktober 2025, polanya tetap sama: rumah-rumah diledakkan, tenda pengungsian dihantam, dan pusat perlindungan sipil tak lagi punya wibawa di mata mesin perang. Gaza hari ini bukan lagi sekadar medan tempur, melainkan saksi bisu penghancuran ruang hidup manusia yang paling mendasar.


Sumber: Al Jazeera, Media Lokal Palestina

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here