Sejumlah aktivis internasional bersiap kembali mengarungi Laut Mediterania menuju Jalur Gaza. Pada Ahad (13/4), armada Global Sumud Flotilla dijadwalkan berangkat dari pesisir Barcelona, Spanyol, dalam upaya kedua dalam waktu kurang dari setahun untuk menembus blokade dan mengirim bantuan kemanusiaan.

Pantauan di lokasi menunjukkan persiapan dilakukan secara intens. Puluhan kapal dipersiapkan di pelabuhan, sementara para relawan memeriksa logistik yang akan dibawa. Bantuan yang dikirim mencakup bahan makanan, obat-obatan, hingga perlengkapan sekolah seperti tas dan alat tulis untuk anak-anak Gaza.

Jika pada September 2025 armada ini hanya melibatkan 42 kapal dan 462 relawan, tahun ini jumlahnya meningkat signifikan. Sekitar 70 kapal akan berlayar dengan melibatkan hampir 1.000 relawan dari 70 negara.

Salah satu juru bicara flotilla, Pablo Castilla, menyebut misi ini bukan sekadar pengiriman bantuan. “Ini juga bentuk protes terhadap apa yang kami nilai sebagai pembiaran internasional atas kejahatan di Gaza, sekaligus tuntutan agar ada jalur kemanusiaan yang dibuka, baik melalui laut maupun darat,” ujarnya dari Barcelona.

Ia juga menyoroti menurunnya perhatian global terhadap Gaza dalam beberapa waktu terakhir, yang menurutnya teralihkan oleh dinamika konflik lain di kawasan. Di saat yang sama, kata dia, blokade terhadap Gaza justru semakin ketat, distribusi bantuan dibatasi, dan ekspansi permukiman terus berlangsung.

Penyelenggara memastikan seluruh kegiatan dilakukan dalam kerangka hukum internasional. Mereka mengklaim berkoordinasi dengan organisasi masyarakat sipil Palestina, serta melibatkan pengacara, politisi, dan pakar keamanan maritim untuk meminimalkan risiko di lapangan.

Misi tahun ini juga melibatkan organisasi internasional seperti Greenpeace dan Open Arms, yang dikenal aktif dalam isu lingkungan dan operasi penyelamatan di laut. Dukungan dari otoritas lokal di Barcelona juga dilaporkan meningkat dibandingkan sebelumnya.

Namun pengalaman sebelumnya menjadi catatan penting. Pada Oktober 2025, armada serupa dicegat oleh militer Israel di perairan internasional. Seluruh kapal dihentikan, ratusan aktivis ditahan, lalu dipulangkan ke negara masing-masing.

Di tengah upaya ini, situasi di Gaza tetap memburuk. Wilayah yang telah diblokade sejak 2007 kini menghadapi krisis kemanusiaan yang semakin dalam sejak pecahnya perang pada Oktober 2023. Infrastruktur hancur, termasuk fasilitas kesehatan, sementara akses terhadap bahan bakar dan pasokan medis sangat terbatas.

Data terbaru menunjukkan sekitar 1,5 juta warga Gaza kehilangan tempat tinggal dari total populasi sekitar 2,4 juta jiwa. Dalam kondisi itu, misi flotilla kembali digerakkan, bukan hanya untuk membawa bantuan, tetapi juga untuk menjaga perhatian dunia tetap tertuju pada Gaza.

Sumber: Anadolu Agency

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here