Fajar belum sepenuhnya terang ketika serangan itu datang. Di selatan Nablus, sekelompok pemukim Israel menyerbu dua desa Palestina, meninggalkan luka, api, dan jejak ketakutan yang masih terasa hingga pagi.
Sedikitnya 10 warga Palestina terluka dalam serangan yang terjadi Senin dini hari. Api membakar 11 kendaraan dan dua rumah, salah satunya hangus sepenuhnya. Di saat yang sama, aparat penjajah melancarkan gelombang penggerebekan dan penangkapan di berbagai wilayah Tepi Barat.
Kepala Dewan Desa Al-Lubban al-Sharqiya, Yaqub Owais, mengatakan serangan bermula ketika sekelompok pemukim menyerbu sebuah komunitas Badui di utara desa.
“Mereka menyerang warga secara langsung,” ujarnya.
Akibatnya, 10 orang mengalami luka-luka, dua di antaranya harus dilarikan ke rumah sakit. Tidak berhenti di situ, para penyerang juga membakar sekitar 10 kendaraan dan dua rumah di desa tersebut. Dalam kekacauan itu, mereka bahkan mencoba mencuri ternak milik warga.
Serangan serupa juga terjadi di desa Qusra. Seorang aktivis perlawanan terhadap permukiman, Abdel Dayem al-Wadi, mengatakan pemukim membakar satu kendaraan sebelum bentrok dengan puluhan pemuda setempat. Warga akhirnya berhasil menghalau para penyerang hingga keluar dari desa.
Rangkaian serangan ini bukan peristiwa terpisah. Sejak 7 Oktober 2023, kekerasan pemukim di Tepi Barat meningkat tajam—menyasar desa-desa Palestina, terutama yang berada di sekitar permukiman Israel.
Polanya berulang: penyerangan, pembakaran, pengusiran, hingga ekspansi permukiman. Warga sipil menjadi pihak yang paling terdampak.
Di saat yang sama, operasi militer penjajah terus berlangsung.
Di utara Hebron, seluruh akses masuk ke Beit Ummar ditutup menggunakan gundukan tanah. Pasukan Israel menembakkan gas air mata dan granat kejut ke dalam wilayah desa, lalu menetapkannya sebagai zona militer tertutup.
Penangkapan juga terjadi di berbagai lokasi.
Seorang pemuda, Ahmad Qaadan, ditangkap di Deir al-Ghusun, utara Tulkarem, setelah rumahnya digerebek. Di Ramallah, pasukan Israel menangkap Moamen Afana (23 tahun) di kawasan Al-Masyoun. Penangkapan lain terjadi di desa Kobar, utara kota itu, terhadap Muhammad Faraj Zibar (30 tahun).
Sementara itu, empat anak sempat ditahan selama beberapa jam di kawasan Jabal al-Tawil, Al-Bireh, sebelum akhirnya dilepaskan.
Data menunjukkan eskalasi kekerasan ini telah menelan korban besar. Sejak Oktober 2023, lebih dari 1.140 warga Palestina syahid di Tepi Barat. Sekitar 11.750 lainnya terluka, dan hampir 22 ribu orang telah ditangkap.










