Di sebuah sudut Kamp Nuseirat, Gaza tengah, hidup Muhammad Abu Mu’alla berubah dalam hitungan detik. Remaja 15 tahun itu awalnya hanya berlari mengejar bola yang terlepas dari kakinya. Bola itu jatuh ke sebidang tanah kosong di dekat rumahnya. Di sana, ia melihat benda kecil, bentuknya asing, tak seperti yang biasa ia temui. Ia memungutnya, membawanya pulang, lalu bermain dengannya. Tak lama kemudian, benda itu meledak.
Ledakan itu merenggut tangan kanan Muhammad. Kaki kanannya hancur dari paha hingga lutut, tempurung lututnya hilang sepenuhnya. Tubuhnya ditembus serpihan logam, sementara tangan kirinya juga ikut terluka. Dokter terpaksa mengambil cangkok kulit dari kaki kiri untuk menutup luka di kaki kanan—menambah penderitaan pada tubuh yang sudah remuk.
Peristiwa itu terjadi di tengah realitas yang lebih luas. Setiap 4 April, dunia memperingati Hari Internasional Kesadaran Bahaya Ranjau. Namun di Gaza, ancaman itu tak lagi berada di ladang-ladang perang yang jauh. Ia menyusup ke halaman rumah, lapangan bermain, bahkan ruang hidup sehari-hari. Sisa-sisa perang sejak Oktober 2023 telah mengubah hampir seluruh wilayah menjadi ladang ranjau tak kasat mata.
Luka Fisik, Trauma yang Tak Terlihat
Lebih dari lima bulan setelah kejadian, Muhammad belum bisa menekuk kakinya. Ia bergantung pada obat pereda nyeri setiap hari. Tapi luka yang paling sulit ditangani justru bukan yang terlihat.
Sebelum insiden, Muhammad dikenal sebagai siswa berprestasi yang gemar berolahraga dan berenang. Kini, ia lebih sering menyendiri, mudah menangis, dan kerap mengeluh sesak napas, gejala yang mengarah pada tekanan psikologis berat.
“Keadaan mentalnya sangat sulit. Dia masih anak-anak, tapi tiba-tiba harus hidup dengan disabilitas,” kata ayahnya, Atif Abu Mu’alla. Ia mengakui tak mudah menggantikan peran sang ibu, yang telah lebih dulu syahid dalam serangan udara Israel pada 6 Maret 2024.
Muhammad kini menjalani terapi psikologis bersama Médecins Sans Frontières (MSF) Prancis dan organisasi lokal. Namun, pemulihan berjalan lambat, sementara rasa sakit fisik terus menghantui.
Dalam waktu dekat, ia membutuhkan operasi pemasangan sendi lutut buatan agar tidak mengalami kekakuan permanen. Ia juga memerlukan kursi khusus karena tak mampu menekuk kaki.
Pola Berulang, Korban Baru
Kisah Muhammad bukan satu-satunya. Nur al-Jayyar, remaja 15 tahun lainnya, mengalami nasib serupa di Deir al-Balah. Saat mengungsi bersama keluarganya, ia menemukan benda yang tampak seperti potongan plastik. Beberapa detik kemudian, benda itu meledak di tangannya.
Nur mengalami luka di tangan, dada, kaki, dan wajah. Tiga anak lain yang bersamanya juga ikut terluka. Ia menjalani perawatan selama 36 hari, dengan serangkaian operasi karena banyaknya luka.
Selama dirawat, kondisi psikologisnya memburuk drastis. Ayahnya mengatakan Nur sempat berulang kali mengungkapkan keinginan untuk mengakhiri hidup. Ia kini kehilangan dua ruas jari di tangan kiri dan harus menjalani fisioterapi rutin.
20 Ribu Ancaman yang Tersisa
Data Kantor Media Pemerintah Gaza menunjukkan, lebih dari 20 ribu bahan peledak yang belum meledak tersebar di wilayah yang hanya seluas 365 kilometer persegi. Angka ini tergolong sangat tinggi, bahkan jika dibandingkan dengan zona konflik lain.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 7 orang (5 di antaranya anak-anak) syahid akibat ledakan sisa amunisi selama perang, dengan 49 lainnya terluka. Sementara data PBB menyebut sekitar 400 orang terdampak insiden serupa, meski angka sebenarnya diyakini lebih besar karena banyak kasus tak tercatat secara rinci.
Kapasitas Terbatas, Risiko Tinggi
Di sisi lain, kemampuan untuk menangani ancaman ini sangat terbatas. Juru bicara tim respons cepat Gaza, Muhammad Imad, menyebut jumlah sisa amunisi “sangat besar dan berbahaya,” sementara sumber daya yang tersedia “hampir tidak memadai.”
“Tidak ada satu pun wilayah yang benar-benar aman. Banyak amunisi tertimbun di bawah reruntuhan atau bahkan di dalam rumah warga,” ujarnya.
Menurutnya, sebagian warga terpaksa tetap tinggal di rumah yang diketahui mengandung bahan peledak karena tak punya pilihan lain. Sementara itu, 90 persen fasilitas dan kemampuan teknis tim penanganan telah hancur akibat serangan. Dari 65 teknisi, 17 di antaranya telah syahid.
Tim yang tersisa kini bekerja tanpa perlindungan memadai, setiap langkah bisa berujung maut.
Gaza, Ladang Ranjau Tanpa Batas
Juru bicara pertahanan sipil Gaza, Mahmoud Basal, menggambarkan kondisi wilayah itu sebagai “ladang ranjau terbuka.” Ancaman tak hanya bagi warga sipil, tapi juga tim penyelamat.
Dalam banyak kasus, petugas harus mengevakuasi korban dari bangunan yang masih menyimpan amunisi aktif. Mereka bekerja tanpa mengetahui jenis atau posisi bahan peledak di lokasi.
“Bisa saja ada satu roket yang belum meledak. Jika tersentuh alat berat, itu bisa memicu ledakan besar dan menewaskan tim penyelamat,” ujarnya.
Bahaya juga mengintai para petani yang menemukan ranjau saat mengolah lahan, serta anak-anak yang kerap tertarik pada bentuk benda-benda tersebut. Beberapa di antaranya bahkan menyerupai kaleng minuman atau kemasan makanan.
“Anak-anak melihatnya sebagai benda biasa. Begitu disentuh, bisa langsung meledak,” kata Basal.
Upaya Minim di Tengah Ancaman Besar
Di tengah situasi ini, Komite Internasional Palang Merah (ICRC) berupaya mengurangi risiko melalui pelatihan teknis dan penyediaan peralatan dasar bagi otoritas lokal. Selain itu, kampanye edukasi terus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
“Kesadaran adalah langkah pertama untuk melindungi warga dari bahaya ini,” kata juru bicara ICRC di Gaza, Amani al-Na’ouk.
Program edukasi yang digelar bersama Bulan Sabit Merah Palestina menyasar kamp pengungsian hingga pusat pendidikan darurat. Tujuannya sederhana: mengajarkan warga, terutama anak-anak, untuk menjauh dari benda mencurigakan dan segera melaporkannya.
Namun di lapangan, ancaman bergerak lebih cepat dari upaya mitigasi. Dengan puluhan ribu bom yang masih tersebar, Gaza hari ini bukan hanya wilayah konflik, melainkan ruang hidup yang setiap sudutnya berpotensi mematikan.










