Pagi hari kedua Idul Fitri di Kamp Al-Maghazi, Gaza tengah, berubah jadi awal dari rangkaian peristiwa yang belum selesai hingga kini bagi keluarga Abu Nassar. Seorang balita, Jawad (1 tahun 10 bulan), pulang dalam kondisi luka dan trauma, sementara ayahnya masih belum kembali.

Kisah itu bermula ketika Muhammad Abu Nassar (65) berjalan menuju pasar. Di tengah jalan, ia menerima telepon singkat: putranya, Osama, terlihat bergerak ke arah timur, wilayah terbuka yang dikenal warga sebagai “garis kuning”, batas tak tertulis yang dijaga ketat militer Israel.

Tanpa banyak tanya, Abu Nassar berbalik arah. Ia paham betul arti “timur” di kawasan itu. Hanya sekitar 200 meter dari permukiman, terbentang area terbuka yang ditandai blok beton kuning, peringatan visual bagi warga bahwa mendekat berarti mempertaruhkan nyawa.

Langkah yang Tak Biasa

Menurut kesaksian warga yang melihat dari kejauhan, Osama berjalan ke arah tersebut sambil menggendong anaknya di pundak. Ia tidak berlari, tidak pula berusaha bersembunyi. Langkahnya pelan, tak beraturan, seperti orang yang tidak sepenuhnya sadar ke mana ia menuju.

Keluarga mengakui kondisi mental Osama memang memburuk dalam beberapa pekan terakhir. Ia disebut sering merusak barang di rumah dan terlibat cekcok tanpa kendali. Mereka menduga perubahan itu berkaitan dengan kehilangan mata pencaharian, setelah kuda yang menjadi sumber nafkahnya mati dalam serangan sebelumnya.

Pagi itu, Osama sempat berpamitan kepada ibunya untuk membeli permen bagi anaknya. Namun arah langkahnya justru berbalik ke zona berbahaya.

Di Bawah Ancaman Senjata

Saat mendekati area terbuka, tembakan terdengar di sekelilingnya. Namun Osama tidak mundur. “Seolah tidak mendengar,” kata ayahnya.

Tak lama kemudian, sebuah drone terbang rendah di atasnya, mengeluarkan perintah melalui pengeras suara. Di titik itu, perilaku Osama berubah. Ia berhenti, menurunkan anaknya ke tanah, lalu menanggalkan pakaian satu per satu hingga tinggal pakaian dalam, mengikuti instruksi.

Menurut keterangan yang diterima keluarga dari Komite Internasional Palang Merah, Osama terkena tembakan di bagian bahu. Setelah itu, ia dipisahkan dari anaknya dan berjalan menuju arah tentara. Sejak saat itu, keduanya menghilang.

Dipulangkan dalam Kondisi Luka

Selama hampir 12 jam, keluarga tidak mendapat kabar. Hingga sekitar pukul 22.00, mereka menerima telepon: Jawad telah diserahkan oleh militer Israel melalui Palang Merah. Osama dilaporkan terluka, tetapi tidak ikut dipulangkan.

Abu Nassar menjemput cucunya di pasar kamp. Anak itu diserahkan dalam balutan penutup tipis. Saat digendong, terlihat bercak darah di pakaiannya, disebut sebagai darah ayahnya.

Namun begitu tiba di rumah dan dipeluk ibunya, tangisan Jawad pecah. Bukan tangisan biasa. Ia menangis terus-menerus, dengan nada tinggi yang tak kunjung reda.

Luka yang Sulit Dijelaskan

Pemeriksaan awal keluarga menemukan luka di kaki anak itu, perdarahan, luka terbuka, dan bekas terbakar. Mereka sempat menduga itu akibat serpihan atau peluru.

Namun hasil pemeriksaan di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa menunjukkan hal berbeda. Tidak ditemukan serpihan maupun peluru. Dokter menyebut luka-luka tersebut mengarah pada dugaan penyiksaan.

Keterangan medis yang diterima keluarga menyebut adanya bekas luka bakar di kaki, diduga akibat api pemantik atau puntung rokok. Selain itu, terdapat luka tusuk cukup dalam di bagian betis, dengan pola masuk dan keluar, yang mengindikasikan penggunaan benda tajam.

Keluarga menduga, anak tersebut disiksa untuk menekan ayahnya selama interogasi, meskipun Osama disebut dalam kondisi psikologis yang tidak stabil.

Trauma yang Tersisa

Sejak malam itu, kondisi Jawad berubah drastis. Ia sulit tidur, terus menangis, suhu tubuhnya sering naik, dan beberapa kali muntah. Ibunya kini menghabiskan malam di sampingnya, mengompres, mengoleskan salep, dan memberinya obat pereda nyeri, menunggu rasa sakit itu mereda.

Sementara itu, nasib Osama masih belum jelas. Keluarga hanya bisa menunggu, tanpa kepastian.

Peristiwa yang bermula dari langkah sederhana di pagi hari raya kini menyisakan luka panjang. Seorang ayah hilang, dan seorang balita pulang dalam kondisi yang tak lagi sama.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here