Jalur keluar masuk warga Gaza kembali tersumbat. Hingga kini, penyeberangan Rafah di perbatasan selatan Gaza masih tertutup. Bagi ribuan warga yang menunggu kesempatan keluar untuk berobat, pintu itu tetap terkunci.

Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menilai penutupan tersebut bukan sekadar langkah keamanan. Ia menyebut keputusan Israel mempertahankan penutupan Rafah sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata.

“Israel terus menutup perbatasan dengan alasan keamanan yang lemah dan penuh kebohongan,” kata Qassem dalam pernyataan kepada media pada Selasa. Menurut dia, langkah itu menunjukkan niat Israel memperketat blokade terhadap Jalur Gaza.

Qassem juga menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk kemunduran dari komitmen yang sebelumnya disampaikan kepada para mediator, terutama Mesir yang selama ini berperan dalam proses perundingan.

Dampaknya terasa langsung di sektor kesehatan. Ribuan korban luka di Gaza tidak dapat keluar wilayah untuk mendapatkan perawatan yang seharusnya mereka terima. Banyak dari mereka membutuhkan operasi dan perawatan lanjutan yang tidak lagi tersedia di dalam wilayah yang terkepung.

Menurut Qassem, puluhan pasien dilaporkan meninggal dalam beberapa waktu terakhir karena tidak sempat mendapatkan perawatan di luar Gaza. Kondisi ini terjadi ketika sistem kesehatan di wilayah tersebut sudah mengalami kerusakan parah akibat serangan yang berlangsung sejak awal perang.

Ia menegaskan bahwa penutupan Rafah juga bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar hukum internasional yang menjamin kebebasan bergerak serta hak warga untuk keluar dan masuk wilayahnya.

Hanya Satu Pintu Dibuka

Awal pekan lalu, otoritas Israel mengumumkan pembukaan terbatas penyeberangan Kerem Abu Salem untuk memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan. Keputusan itu diambil di tengah tekanan Amerika Serikat agar bantuan tetap bisa masuk ke Gaza.

Namun pembukaan itu hanya bersifat parsial. Jalur-jalur lain tetap tertutup, termasuk Rafah yang selama ini menjadi pintu utama keluar masuk warga Gaza.

Sejumlah media berbahasa Ibrani melaporkan bahwa hingga kini belum ada instruksi politik dari pemerintah Israel untuk membuka kembali Rafah. Seorang pejabat Israel disebut menyatakan bahwa “situasi di lapangan belum memungkinkan” untuk melakukan hal tersebut.

Sistem Kesehatan di Ambang Runtuh

Sementara itu, krisis di sektor kesehatan Gaza semakin memburuk. Pengiriman obat-obatan dan perlengkapan medis masih sangat terbatas. Di sisi lain, rumah sakit terus kehilangan kemampuan operasional setelah banyak fasilitas medis hancur selama dua tahun konflik.

Tenaga medis juga menjadi sasaran serangan. Dalam berbagai laporan organisasi kemanusiaan, sejumlah dokter dan paramedis terbunuh atau ditahan selama operasi militer berlangsung.

Laporan dari lembaga internasional dan badan-badan PBB menggambarkan situasi yang semakin genting. Sistem kesehatan Gaza disebut berada di ambang kolaps total—tidak lagi mampu menampung jumlah korban luka yang terus bertambah, apalagi menyediakan tindakan medis mendesak yang dibutuhkan ribuan pasien.

Di tengah kondisi itu, Rafah tetap tertutup. Dan bagi banyak warga Gaza yang terluka, setiap hari penundaan berarti satu hal: peluang hidup yang semakin menipis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here