Sedikitnya enam warga Palestina kembali gugur sebagai syuhada setelah serangan militer Israel menghantam sejumlah wilayah di Jalur Gaza, Senin. Serangan itu menyasar beberapa titik di Kota Gaza serta Kamp Pengungsi Nuseirat di bagian tengah wilayah yang telah lama terkepung tersebut.
Sumber-sumber medis di Gaza menyatakan, korban syahid jatuh akibat rangkaian serangan yang dilakukan pasukan pendudukan Israel terhadap kawasan sipil yang tersebar di utara dan tengah Gaza.
Media lokal Palestina melaporkan, tiga orang syahid dan sekitar 20 lainnya mengalami luka-luka setelah artileri Israel menghantam tenda-tenda pengungsi di kawasan As-Sawarha, di barat daya Kamp Nuseirat. Area itu selama ini menjadi tempat bertahan ribuan warga yang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat serangan berulang.
Di lokasi tersebut, tenda-tenda pengungsian yang seharusnya menjadi ruang perlindungan sementara kembali berubah menjadi sasaran tembakan.
Sementara itu, dalam serangan terpisah di Kota Gaza, tiga warga Palestina lainnya syahid setelah sebuah pesawat nirawak Israel menargetkan sekelompok warga sipil di kawasan Ansar, wilayah barat kota.
Sumber medis di Kota Gaza mengonfirmasi bahwa serangan drone tersebut langsung menghantam kerumunan warga, tanpa peringatan sebelumnya.
Beberapa waktu setelah insiden itu, militer Israel mengklaim bahwa serangan tersebut menargetkan dua orang yang mereka sebut sebagai anggota Hamas. Menurut klaim tersebut, keduanya diduga sedang merencanakan operasi penembakan terhadap pasukan Israel di Gaza utara. Namun hingga kini, militer Israel tidak menyertakan rincian tambahan maupun bukti yang dapat memverifikasi klaim tersebut.
Di sisi lain, laporan statistik harian mengenai pelanggaran yang dilakukan pasukan pendudukan mencatat bahwa jumlah total syuhada akibat berbagai serangan Israel kini telah mencapai 641 orang.
Dari jumlah tersebut, 199 di antaranya adalah anak-anak, 83 perempuan, dan 22 lansia. Artinya, hampir 46 persen dari seluruh korban adalah kelompok sipil paling rentan.
Serangan terbaru ini kembali menambah daftar panjang pelanggaran yang terus terjadi, meskipun kesepakatan gencatan senjata sebenarnya telah berlaku sejak 10 Oktober 2025.
Sejak saat itu, Israel dilaporkan masih melakukan pengeboman dan penembakan hampir setiap hari di berbagai wilayah Gaza. Aksi tersebut kerap berujung pada jatuhnya korban baru, baik syuhada maupun warga yang mengalami luka-luka.
Gencatan senjata itu sendiri tercapai setelah dua tahun perang yang oleh banyak pihak disebut sebagai perang pemusnahan terhadap Gaza. Konflik tersebut pecah sejak 7 Oktober 2023 dan berlangsung dengan dukungan militer dari Amerika Serikat kepada Israel.
Selama periode perang itu, tingkat kehancuran di Jalur Gaza mencapai skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sekitar 90 persen infrastruktur sipil dilaporkan rusak atau hancur, mulai dari rumah penduduk, rumah sakit, sekolah hingga fasilitas publik lainnya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan biaya yang dibutuhkan untuk membangun kembali wilayah yang porak-poranda tersebut mencapai sekitar 70 miliar dolar AS.
Sumber: Al Jazeera dan media Palestina.










