Di sudut sempit di depan rumahnya, bersebelahan dengan kompleks pemakaman, Muhammad Yasin mengukir nama-nama para Syahid di atas marmer. Di tengah deru perang dan keterbatasan hidup, ia mengubah batu yang bisu menjadi arsip ingatan, menjaga nama, merekam kehilangan, dan melawan lupa.
Sebelum perang melanda Gaza, Yasin adalah perajin marmer untuk rumah-rumah warga, papan nama keluarga, ornamen jalan, hingga hiasan masjid. Pahatannya dulu bicara soal estetika dan status sosial. Kini, fungsinya bergeser drastis: menjadi saksi kematian massal.
Dari Keindahan ke Kehilangan
Seiring meningkatnya jumlah Syahid dan musnahnya keluarga-keluarga utuh, pekerjaan Yasin beralih total. Marmer tak lagi memuliakan kehadiran, melainkan menandai ketiadaan. Alat-alat yang dulu mencipta keindahan kini bekerja untuk mengarsipkan duka.
“Marmer hari ini bukan sekadar batu,” kata Yasin. “Ia menjadi memori nasional, penanda betapa besar kehilangan, sekaligus keteguhan.”
Perang menghancurkan tokonya, sumber nafkah utama keluarganya. Namun kematian yang datang bertubi-tubi menciptakan kebutuhan mendesak: penanda kubur. Banyak Syahid dimakamkan secara massal atau di liang lama kerabat, membuat keluarga kesulitan mengenali makam anak-anak mereka sendiri.
Kerja Sunyi di Tengah Krisis
Yasin terpaksa bekerja dari depan rumah, di bawah kondisi ekstrem: bahan langka, harga melonjak, listrik tak stabil. Ia berusaha menekan biaya agar keluarga Syahid tak terbebani, meski penghasilannya kian menipis.
Prosesnya rumit dan berbahaya. Tanpa mesin modern, ia mengukir manual menggunakan bahan kimia keras—asam dan “air api”. Belakangan, ia berhasil mendapatkan mesin elektronik sederhana, namun biaya produksi tetap meroket.
Sebelum perang, satu nisan marmer cukup 100 syikal. Kini, biayanya menembus 400 syikal. Harga bahan melonjak berlipat: marmer, cat, gelatin, hingga cairan kimia. “Bekerja hari ini berarti bertahan di ekonomi yang nyaris runtuh,” ujarnya.
Nama sebagai Bentuk Perlawanan
Di tempat lain, seniman grafis Salah al-Tahrawi juga meninggalkan pekerjaan lamanya. Percetakan yang dulu ia kelola kini hanya memproduksi satu hal: nisan. Permintaan datang dari keluarga-keluarga yang takut nama anak mereka lenyap tanpa jejak.
“Yang kami ukir bukan sekadar nama,” kata al-Tahrawi. “Ini amanah.”
Ia bekerja dalam sunyi, merangkai huruf demi huruf di atas marmer. Di antara suara pahatan dan keheningan makam, seni beralih fungsi: dari ekspresi estetika menjadi benteng terakhir ingatan.
Satu nisan bahkan mengabadikan seluruh anggota keluarga Juwail, dikumpulkan dalam satu liang karena tak ada lagi ruang. “Kubur menyatukan mereka, seperti hidup dulu menyatukan mereka,” kata seorang kerabat.

Kuburan yang Penuh, Duka yang Tak Tertampung
Umm Samer, ibu dari Syahid Samer Abu Yusuf, menceritakan keputusan paling menyakitkan dalam hidupnya. Karena tak ada lahan pemakaman, ia membuka kembali makam suaminya yang wafat bertahun lalu.
“Aku menguburkan anakku di samping tulang ayahnya,” katanya. “Aku buat satu nisan untuk mereka berdua. Hidup memisahkan, kematian menyatukan.”
Seni sebagai Arsip Kemanusiaan
Marwan Nassar, dosen seni rupa Universitas Al-Aqsa, menilai apa yang dilakukan para perajin ini melampaui fungsi seni biasa. “Ini bukan lagi dekorasi. Ini dokumentasi kemanusiaan,” ujarnya.
Menurutnya, seni di Gaza kini memikul beban sejarah: menjaga nama agar tak lenyap, memberi wajah pada angka, dan memastikan para Syahid tak direduksi menjadi statistik.
“Dalam kondisi seperti ini,” kata Nassar, “nisan marmer adalah dokumen visual. Ia mengubah seni menjadi penjaga memori, dan memori menjadi bentuk perlawanan.”
Sumber: Al Jazeera










