Di Gaza, perang mengubah segalanya. Rumah sakit menjadi benteng terakhir kehidupan. Ruang operasi menjelma garis depan. Dan pisau bedah, kata seorang dokter, berubah menjadi alat perlawanan terhadap kematian.
Itulah kesaksian Yusuf Bou Abdallah, seorang ahli bedah asal Maroko, yang menceritakan pengalamannya menjalani dua misi medis kemanusiaan di Jalur Gaza selama perang pemusnahan Israel. Dalam forum Al Jazeera di Doha, ia menuturkan bagaimana praktik kedokteran di Gaza tak lagi sekadar soal ilmu, melainkan soal bertahan hidup.
Bou Abdallah pertama kali tiba di Gaza pada 2024. Ia bekerja di Rumah Sakit Kamal Adwan, Gaza utara. Tak lama setelah itu, ia kembali untuk misi kedua, menghabiskan hampir dua bulan di Rumah Sakit Indonesia.Dua
Dua misi, satu realitas yang sama, Rumah sakit sesak oleh korban. Korban luka datang tanpa jeda. Tenaga medis bekerja di ambang maut.
“Operasi dilakukan di bawah hujan bom,” katanya. Roket jatuh tak jauh dari ruang bedah. Ketakutan hadir, nyata, nyaris merayap ke tulang. Namun setiap kali rasa itu hendak melumpuhkan, wajah anak-anak yang terluka menghadirkan kekuatan aneh, tenang, sunyi, tapi memaksa para dokter untuk tetap berdiri.
Luka yang Tinggal di Dada
Di antara sekian banyak adegan mengerikan, satu peristiwa membekas paling dalam. Gugurnya Direktur Rumah Sakit Indonesia, Marwan Sultan, bersama empat anaknya, akibat serangan udara Israel.
“Saya melihat wajahnya setiap hari. Lalu ia hilang, seketika,” ujar Bou Abdallah. Kehilangan itu, katanya, bukan sekadar duka profesional, melainkan luka personal, sebuah hantaman kemanusiaan yang sulit disembuhkan.
Dia juga mengingat satu malam panjang ketika ratusan Syahid dan korban luka tiba bersamaan. Anak-anak dibawa satu per satu ke meja operasi. Peralatan medis menipis. Obat-obatan nyaris habis. Tak ada waktu untuk menimbang, tak ada ruang untuk memilih. Namun tak satu pun dokter pergi.
“Kami melakukan apa yang bisa dilakukan, bahkan dengan sarana di bawah batas minimum,” ujarnya. Bagi para tenaga medis Palestina, kewajiban kemanusiaan jauh lebih kuat daripada rasa takut, bahkan lebih kuat daripada naluri untuk menyelamatkan diri sendiri.
Kekaguman Bou Abdallah pada kolega-koleganya di Gaza melampaui bahasa profesional. Ia berbicara sebagai manusia kepada manusia. Ia menyebut keteguhan mereka sebagai sesuatu yang luar biasa, nyaris tak masuk akal. “Kami merasa menjadi bagian dari mereka. Dan mereka bagian dari kami.”
Di rumah sakit-rumah sakit yang terus dibombardir, di tengah kehilangan rekan dan sahabat, di bawah tekanan psikologis yang tak terhitung, para dokter Gaza, kata Bou Abdallah, masih berdiri. “Seperti gunung,” ujarnya lirih.
Sumber: Al Jazeera Mubasher










