Di Kota Al-Quds yang diduduki, terutama di Masjid Al-Aqsa, terjadi eskalasi tajam serangan penjajahan yang diwujudkan melalui peningkatan jumlah serangan pemukim dan upaya memaksakan fakta baru di lapangan. Aksi ini mendapat dukungan lembaga resmi Israel dan pengawasan keamanan langsung.

Proyek Terorganisir untuk Meningkatkan Penjajahan
Ali Ibrahim, peneliti spesialis Al-Quds, menekankan bahwa organisasi ekstremis pemukim semakin intensif menargetkan masyarakat Israel dengan proyek terstruktur untuk meningkatkan jumlah pemukim yang memasuki Al-Aqsa.

Salah satu proyek utama, “Jaringan Komunitas Gunung Bait” oleh kelompok ekstremis “Beitenu”, membangun jaringan aktivis lokal di berbagai kota untuk mendorong narasi palsu tentang “Bait Suci”.

Proyek ini melibatkan perekrutan “pemimpin komunitas” yang mengorganisasi kelompok, pertemuan rutin, dan kelas edukasi yang menanamkan gagasan palsu tentang Bait Suci di masyarakat. Selain itu, proyek ini mengatur penyerbuan massal pada tanggal tertentu (hari-hari suci Yahudi, perayaan “Hari Al-Quds”, bahkan upacara pribadi seperti pernikahan) dengan dukungan logistik penuh, termasuk transportasi dan panduan.

Pendidikan dan Dukungan Resmi
Proyek ini menembus institusi resmi, terutama sistem pendidikan. Sekolah menengah, akademi persiapan, dan organisasi pemuda menjadi target penyebaran materi edukatif tentang Bait Suci, yang secara resmi diakui oleh Kementerian Pendidikan Israel melalui program “Givon”.

Para relawan menerima paket dukungan yang mencakup panduan profesional, perpustakaan digital materi propaganda, template promosi media sosial, dan dukungan logistik penuh.

Pelanggaran Status Quo Masjid Al-Aqsa
Puncaknya, pada Januari 2026, polisi Israel untuk pertama kalinya mengizinkan pemukim membawa “lembar doa” Yahudi ke halaman Al-Aqsa. Lembar doa ini, termasuk panduan dari “Yeshivat Gunung Bait”, diatur oleh menteri ekstremis Itamar Ben-Gvir.

Langkah ini melanggar status quo yang telah dijaga sejak sebelum 1967, yang menegaskan bahwa Direktorat Wakaf Islam Al-Quds, di bawah Kementerian Wakaf Yordania, mengelola Masjid Al-Aqsa dan melarang pemukim membawa alat ibadah atau melakukan ritual di dalamnya.

Sejak 2003, Israel secara bertahap mengizinkan pemukim memasuki Al-Aqsa, meski ada penolakan resmi dari Wakaf Islam. Dengan pengangkatan Afshalom Beilad, sekutu Ben-Gvir, sebagai kepala polisi Al-Quds, pengawasan polisi kini condong memfasilitasi serangan terhadap status quo.

Agenda Sistematis
Pengamat menilai, serangkaian kejadian ini bukan insiden terpisah. Apa yang terjadi di Al-Aqsa mencerminkan jalur terorganisir dan bertahap untuk mengubah status quo, bagian dari kampanye hebat “Yahudisasi” terhadap salah satu situs suci Islam paling penting.

Sumber: Palestinian Information Center

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here