Lima warga Palestina dilaporkan syahid akibat tembakan dan serangan tentara Israel di Jalur Gaza pada Kamis (22/1/2026), di tengah berlanjutnya operasi militer dan pembatasan ketat bantuan kemanusiaan. Di saat bersamaan, Ketua Komite Nasional Palestina untuk Pengelolaan Gaza, Ali Shaath, mengumumkan bahwa Penyeberangan Rafah direncanakan dibuka dua arah pada pekan depan.
Sumber Ambulans dan Gawat Darurat Gaza menyebutkan, empat warga Palestina syahid dan sejumlah lainnya terluka akibat tembakan artileri Israel yang menyasar sekelompok warga di luar area sebaran pasukan Israel, di Lingkungan Zeitoun, timur Kota Gaza. Mereka ditembak saat berupaya mengumpulkan kayu bakar untuk menghangatkan diri, di tengah krisis bahan bakar dan listrik yang masih melanda Gaza.
Sebelumnya pada hari yang sama, seorang warga Palestina lainnya syahid akibat tembakan pasukan Israel di luar area sebaran militer, tepatnya di Bundaran Bani Suhaila, timur Khan Younis, Gaza selatan.
Krisis Kemanusiaan Memburuk
Di tengah pembatasan masuknya bantuan, krisis kemanusiaan kian memburuk. Sumber medis melaporkan seorang bayi berusia tiga bulan, Ali Abu Zour, meninggal dunia akibat cuaca dingin ekstrem. Bayi tersebut tiba di RS Syuhada Al-Aqsa di Deir al-Balah dalam kondisi meninggal.
Dengan kematian ini, jumlah anak yang wafat akibat cuaca dingin sejak awal musim dingin meningkat menjadi delapan, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Operasi Peledakan dan Perluasan Kendali
Reporter Al Jazeera melaporkan operasi peledakan besar-besaran yang dilakukan pasukan Israel di timur Khan Younis, berlangsung sejak dini hari dan disertai tembakan dari helikopter tempur.
Reuters, mengutip citra satelit, menyebut militer Israel menghancurkan bangunan di Kota Gaza di luar garis gencatan senjata, serta memperluas kepungan wilayah dan memperkuat posisi di sekitar garis kuning, termasuk memperluasnya ke Lingkungan Tuffah.
Rafah Diklaim Segera Dibuka, Israel Masih Tarik-Ulur
Di sisi lain, Ali Shaath menyatakan Penyeberangan Rafah akan dibuka dua arah dalam sepekan. “Rafah bukan sekadar gerbang; ini nadi kehidupan dan simbol peluang,” ujarnya, seraya menegaskan tanggung jawabnya untuk mengubah momentum ini menjadi jalan menuju masa depan yang lebih bermartabat bagi warga Gaza.
Namun, pernyataan tersebut berhadapan dengan sikap Israel yang masih tarik-ulur. Channel 12 Israel melaporkan kabinet keamanan akan bersidang pada Minggu untuk membahas Rafah. Channel 15 sebelumnya menyebut belum ada perintah resmi membuka penyeberangan, karena keputusan berada di tingkat politik.
Sumber politik Israel mengatakan Rafah tidak akan dibuka sebelum pemulangan jenazah sandera terakhir dari Gaza, serta menyebut Tel Aviv akan membatasi kembalinya warga Gaza melalui Rafah, kecuali untuk kasus kemanusiaan.
Israel (yang menguasai sisi Gaza dari penyeberangan) menahan pembukaan hingga Hamas memenuhi komitmen terkait pemulangan jenazah, meski Rafah secara formal tidak berada di bawah kendali Israel berdasarkan Perjanjian Penyeberangan 2005.
Pengumuman Shaath memicu pernyataan lanjutan dari sumber politik Israel yang menyebut adanya upaya khusus untuk memulangkan jenazah Ran Givili. Di lapangan, warga Gaza tetap terjepit antara eskalasi militer, krisis kemanusiaan, dan ketidakpastian politik atas satu-satunya pintu keluar yang tersisa.
Sumber: Al Jazeera










