TEPI BARAT- Di atas reruntuhan rumahnya sendiri, sebuah keluarga Palestina duduk tanpa tempat berlindung. Rumah mereka telah dihancurkan buldoser Israel setelah aksi perlawanan di pos pemeriksaan militer Farsh al-Hawa, Hebron, Tepi Barat. Foto dan video keluarga itu menyebar luas di media sosial, memperlihatkan dampak tindakan teroris Israel yang disebut sebagai hukuman kolektif terhadap warga sipil.

Serangan tersebut terjadi Jumat pekan lalu di pos pemeriksaan Farsh al-Hawa, yang terletak di pintu masuk barat Kota Hebron, Tepi Barat bagian selatan. Menurut sumber resmi, dua tentara Israel tewas dan tiga lainnya terluka. Dua warga Palestina yang melakukan serangan itu juga gugur.

Sehari setelah kejadian, otoritas Israel mulai memberlakukan serangkaian tindakan terhadap warga di kawasan tersebut. Pada Sabtu, pasukan Israel memaksa puluhan keluarga Palestina meninggalkan rumah mereka di wilayah Al-Jaladah dan Ain Deir Baha, Hebron.

Salah satu rekaman yang paling banyak dibagikan di media sosial memperlihatkan sebuah keluarga dari Farsh al-Hawa duduk di atas puing-puing rumah yang dihancurkan pasukan Israel. Kawasan itu berada tidak jauh dari pos pemeriksaan tempat serangan berlangsung.

Rekaman lain memperlihatkan tentara Israel menyampaikan pesan melalui pengeras suara yang dinilai provokatif kepada warga. “Kemas barang-barang kalian, kami sudah membawakan kalian migrasi,” demikian bunyi pesan tersebut.

Menurut laporan yang beredar, sekitar 250 keluarga dari Farsh al-Hawa dan Abu Aqtilah dipaksa meninggalkan rumah mereka. Pasukan Israel memberlakukan pembatasan ketat, termasuk melarang warga membawa kendaraan dan sebagian besar barang milik mereka. Setiap keluarga hanya diperbolehkan membawa satu tas berisi pakaian.

Sejumlah pegiat hak asasi manusia dan pengamat menilai tindakan tersebut sebagai pengusiran paksa yang terorganisasi. Kebijakan itu tidak hanya membuat keluarga kehilangan tempat tinggal, tetapi juga membatasi kemampuan mereka membawa barang-barang dasar untuk bertahan hidup.

Pengusiran yang Mengingatkan pada Gaza

Pengusiran dan penghancuran rumah di Hebron memicu reaksi luas di media sosial. Para pengguna membagikan rekaman keluarga Palestina yang terpaksa duduk di antara puing-puing rumah mereka setelah buldoser Israel meratakannya.

Sejumlah aktivis menyatakan solidaritas kepada keluarga-keluarga yang terdampak. Mereka menilai penghancuran rumah tidak akan membuat warga Palestina meninggalkan tanah mereka. Sebaliknya, mereka menegaskan pentingnya bertahan di tengah tekanan yang terus meningkat.

Pengguna media sosial lainnya menggambarkan situasi di Hebron sebagai pemandangan yang mengerikan. Penghancuran kawasan permukiman dan pengusiran ratusan keluarga ke jalanan, menurut mereka, mengingatkan pada kehancuran dan pengungsian massal yang dialami warga Jalur Gaza.

Di tengah reaksi tersebut, sejumlah pengamat mengingatkan agar publik tidak begitu saja menerima narasi Israel yang menjadikan serangan bersenjata sebagai alasan untuk membenarkan penghancuran toko dan bangunan di Farsh al-Hawa.

Mereka menilai penghancuran bangunan telah berulang kali terjadi di Tepi Barat dengan berbagai dalih, mulai dari pembangunan tanpa izin hingga pembukaan jalan bagi pemukim Israel dan pembentukan zona penyangga. Dalam pandangan mereka, kebijakan pendudukan dan perluasan permukiman Israel merupakan akar persoalan yang tidak boleh diabaikan.

Menolak Menyalahkan Korban

Penulis dan analis Iyad al-Qarra mengkritik pihak-pihak yang menyalahkan perlawanan Palestina dengan alasan bahwa tindakan mereka telah “memprovokasi singa”—metafora yang digunakan untuk menggambarkan Israel. Ia menolak anggapan bahwa warga Palestina harus menanggung kesalahan atas kejahatan yang dilakukan pasukan Israel.

Al-Qarra mengatakan buldoser Israel telah menghancurkan rumah-rumah di sekitar pos pemeriksaan Farsh al-Hawa beberapa hari sebelum serangan terjadi. Karena itu, ia mempertanyakan anggapan bahwa serangan tersebut merupakan penyebab awal tindakan Israel di kawasan itu.

“Memangnya singa itu sedang tidur?” tulisnya, seraya menyinggung kondisi Tepi Barat yang menurutnya telah lama tercekik oleh pembatasan dan kekerasan.

Al-Qarra menyebut terdapat 925 pos pemeriksaan dan penghalang yang membatasi pergerakan warga Palestina di Tepi Barat. Ia juga menyoroti pembentukan 57 pos permukiman pertanian baru selama tujuh bulan pertama 2026, serta serangan pemukim Israel yang terus berlangsung.

Ia menolak upaya membenarkan tindakan Israel dengan menyalahkan pihak yang menjadi sasaran. Dalam pernyataannya, Al-Qarra menggambarkan ketimpangan logika yang muncul ketika korban justru dituntut menahan diri saat menghadapi kekerasan.

“Logika macam apa yang melihat taring singa tertancap di tubuh korban, lalu menyalahkan korban karena bergerak?” tulisnya.

Ia melanjutkan, “Singa itu tidak sedang tidur. Tragedinya, sebagian penonton justru meminta korban tetap diam agar tidak mengganggu singa saat sedang melahapnya.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here