HEBRON — Rekaman video yang memperlihatkan aksi penganiayaan brutal oleh pemukim ilegal Yahudi terhadap seorang lansia difabel Palestina, serta aksi menyeret seekor keledai hingga mati di Hebron, memicu gelombang kemarahan luas di media sosial.
Rentetan insiden kelam ini terjadi di tengah eskalasi teror pemukim yang kian masif di Tepi Barat, yang ironisnya terus berlangsung di bawah pengawalan dan perlindungan aparat keamanan Israel.
Penganiayaan Brutal Lansia Penyandang Disabilitas
Dalam salah satu rekaman yang beredar, tampak seorang pemukim Yahudi bersenjata batang besi memukul Saeed al-Amour, warga lansia asal Desa Al-Rakeez di wilayah Masafer Yatta, Hebron selatan.
Video tersebut memperlihatkan pemukim memukul punggung Al-Amour tanpa belas kasihan saat ia berusaha berdiri menyangga tubuhnya dengan sepasang tongkat ketiak. Di rekaman lain, pemukim lain mendorong tubuh lansia tersebut hingga terhuyung, sementara gerombolan pemukim di sekitarnya sibuk mendokumentasikan warga lokal.
Aktivis kemanusiaan setempat, Osama Makhamreh, mengonfirmasi kepada kantor berita Palestina, WAFA, bahwa penganiayaan itu terjadi di bawah pengawasan tentara Israel. Akibat serangan tersebut, Al-Amour mengalami luka-luka serta lebam serius hingga harus dilarikan ke Rumah Sakit Pemerintah Yatta.
Tak berhenti di situ, tentara Israel kemudian digambarkan menyergap rumah Al-Amour, mengacak-acak isinya, dan menyita ponsel milik anggota keluarga. Tragisnya, Al-Amour sendiri sudah kehilangan salah satu kakinya sekitar satu setengah tahun lalu akibat tembakan jarak dekat yang dilepaskan seorang pemukim Yahudi.
Sadisme Tanpa Batas: Hewan Diseret hingga Mati
Sisi kelam kejahatan pemukim juga terekam dalam video lain di selatan Hebron. Seorang pemukim terlihat mencuri keledai milik petani Palestina, mengikatnya di belakang kendaraan, lalu menyeretnya dengan kecepatan tinggi.
Aksi sadis itu berakhir tragis. Keledai tersebut tergeletak tak bernyawa di jalanan usai mengalami penyiksaan yang teramat parah.
Rentetan kejahatan ini hanyalah puncak gunung es dari gelombang kekerasan yang kian tidak terkendali. Data Komisi Perlawanan Tembok dan Pemukiman Palestina mencatat bahwa sepanjang Juli saja, terdapat 2.256 serangan terhadap warga Palestina dan properti mereka.
Dari jumlah tersebut, 1.458 tindakan dilakukan langsung oleh pasukan pendudukan, sementara 798 serangan dilancarkan oleh gerombolan pemukim.
Kemarahan Global dan Sorotan atas Sadisme Sistematis
Pemandangan mengerikan ini memicu kecaman keras dari para aktivis dan pengamat internasional. Pelapor Khusus PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina, Francesca Albanese, menegaskan kembali bahwa kehadiran pasukan perlindungan internasional di tanah Palestina sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.
Dia mengingatkan kewajiban hukum negara-negara dunia untuk mengakhiri pendudukan ilegal Israel.
Nada keras juga disampaikan mantan anggota Parlemen Eropa, Mick Wallace. Ia mengkritik tajam negara-negara Eropa yang masih menjalin hubungan bisnis dan olahraga dengan apa yang ia sebut sebagai “rezim jahat Israel”, seraya menyoroti standar ganda barat yang terus dipelihara.
Sementara itu, akun analisis media The Resonance menyentil hipokrasi global yang memilih bungkam saat seorang lansia penyandang disabilitas dipukuli, tetapi mendadak berteriak histeris menuduh warga Palestina sebagai “teroris” ketika mereka sekadar berupaya mempertahankan diri.
Dari sudut pandang analisis psikologi pendudukan, aktivis Palestina Tamer Qadeeh menyoroti peran media propaganda Israel yang mengemas pembenaran atas kejahatan tersebut. Menurutnya, akun-akun besar Israel sengaja membangun narasi provokatif dengan menyebut Al-Amour sebagai “figur kontroversial” hanya karena ia bertahan di tanah miliknya sendiri.
Analis Tareq Baconi (Tareq Kenney-Shawa) menilai bahwa luapan kekejaman yang bahkan disasarkan pada hewan membuktikan tingkat sadisme yang telah terinternalisasi sejak dini dalam masyarakat pemukim.
Pandangan serupa diutarakan jurnalis Muhammed Abu Obeid yang mengutuk bagaimana penyiksaan hewan hingga tewas justru menjadi sarana hiburan bagi para pemukim.
Menutup sorotan ini, aktivis Zaher Abu Hussein menegaskan bahwa seluruh rangkaian kejadian ini adalah cerminan dari watak asli kolonialisme pemukim: mengintimidasi dan merampas ruang hidup warga Palestina dengan segala cara.
Sejak pecahnya perang di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, aksi kekerasan oleh pemukim di Tepi Barat terus menunjukkan grafik peningkatan yang mengkhawatirkan. Kondisi ini berjalan beriringan dengan perluasan pos-pos pemukiman ilegal, pembukaan jalan khusus pemukim, serta pengetatan blockade yang makin mencekik ruang gerak warga Palestina.










