Warga yang tinggal di kamp-kamp pengungsian di Jalur Gaza nyaris tidak bisa tidur setiap malam. Bukan karena siang yang melelahkan, melainkan karena rasa cemas yang selalu datang bersama setiap gelombang cuaca buruk. Kekhawatiran akan tenda yang terbang diterpa angin atau air hujan yang kembali merendam sisa-sisa kehidupan sementara di bawah terpal rapuh menjadi ketakutan yang terus berulang.

Laporan Al Jazeera Mubasher menggambarkan situasi serupa dari Gaza utara hingga selatan. Kisah-kisah ketidakberdayaan, dingin, dan kelaparan saling bersilangan, dengan wajah-wajah pengungsi yang sama-sama kelelahan akibat perang, lalu kembali diuji oleh musim hujan.

Di Kamp Zaitoun, selatan Kota Gaza, runtuhnya sebuah tenda yang menampung lebih dari satu keluarga menjadi potret nyata krisis kemanusiaan. Pemerintah Gaza melaporkan ribuan tenda tersapu banjir akibat hujan deras. Para pengungsi pun terpaksa bertahan di ruang terbuka, tanpa tempat berlindung alternatif, di tengah pembatasan Israel terhadap masuknya tenda dan rumah prefabrikasi ke Gaza.

Warga lanjut usia terlihat berusaha menggali saluran air sederhana di sekitar tenda mereka dengan peralatan seadanya. Namun mereka sadar, upaya tersebut nyaris tak berarti ketika hujan kembali turun.

Seorang pria lanjut usia, yang tampak kelelahan saat menggali tanah dengan cangkul kecil, mengatakan air telah merendam segalanya, mulai dari tenda, selimut, hingga harapan. “Kami bekerja dan berusaha, tapi semuanya sia-sia,” ujarnya. Ia menegaskan kamp pengungsian tidak memiliki infrastruktur maupun sarana dasar, sehingga setiap perbaikan lenyap bersama derasnya hujan.

Tenda Terbang, Warga Terlantar

Di dalam sebuah tenda yang sulit dijangkau karena lumpur, seorang perempuan lanjut usia duduk sambil menangis. Ia mengaku tidak mampu menahan air mata setelah dua malam tanpa tidur, berusaha bersama saudara lelakinya yang juga sudah tua untuk mengikat lembaran plastik yang mereka peroleh dengan susah payah.

“Tenda kami terbang. Kami keluar ke jalan sambil berteriak, tapi tak seorang pun menolong,” katanya. Ia menambahkan pakaian dan alas tidurnya terendam air, sementara ia tidak memiliki pengganti.

Tak jauh dari sana, seorang perempuan lain yang kehilangan rumahnya sepenuhnya mengatakan telah tiga bulan hidup dalam kondisi tenda yang selalu bocor. “Air masuk dari semua arah. Dingin ini seperti bentuk lain dari kematian,” ujarnya. Ia mengeluhkan bantuan yang tak kunjung diterima dengan alasan jumlah anggota keluarga yang sedikit, padahal ia tidak memiliki peralatan makan dasar dan sepenuhnya bergantung pada bantuan sesama pengungsi.

Kondisi serupa juga terjadi di kamp-kamp pengungsian di kawasan Shuja’iyya, Gaza timur. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan terjadinya kemerosotan kondisi hidup yang belum pernah terjadi sebelumnya, terutama akibat minimnya bantuan, meski lebih dari tiga bulan telah berlalu sejak berakhirnya perang genosida.

Para pengungsi menyebut ancaman kelaparan kian nyata, dipicu lonjakan harga, kelangkaan pangan, serta kegagalan Israel mematuhi protokol kemanusiaan untuk masuknya bantuan.

“Kami Butuh Segalanya”

Umm Muhammad Al-Shawish, pengungsi yang kehilangan rumah lima lantai miliknya, mengatakan satu anaknya syahid dan satu lainnya terluka. Ia kini berpindah-pindah mencari tenda atau bantuan pangan, namun kerap pulang dengan tangan kosong.

“Kami dua keluarga dalam satu tenda. Bantuan terakhir yang kami terima sudah dua bulan lalu,” ujarnya, seraya meminta tempat berlindung, pakaian, dan makanan untuk anak-anaknya.

Di sampingnya, Jamal Al-Shayyah, pengungsi lain, menyebut keluarganya yang terdiri dari tujuh orang selalu kebanjiran setiap kali hujan turun. Sejak awal perang, ia hanya tidur dengan satu selimut. “Kami membutuhkan segalanya,” katanya. Ia juga mengungkapkan anak-anaknya takut mendekati area perbatasan tempat mereka tinggal karena kehadiran kendaraan militer Israel.

Di Khan Younis, Gaza selatan, penderitaan semakin parah akibat cuaca ekstrem yang berulang. Sejumlah tenda tercerabut oleh angin, sementara lainnya terendam air hujan, bahkan air laut. Muhammad Al-Najjar, ayah delapan anak, baru saja kembali dari rumah sakit setelah anak-anaknya terserang influenza.

“Kami hanya ingin rumah yang melindungi kami dan kehidupan yang bermartabat,” katanya. Ia menggambarkan kondisi keluarganya seperti “jasad hidup yang hanya tersisa napas”, sambil berharap bisa kembali ke Rafah, meski hanya ke rumah sederhana dari tanah.

Perempuan-perempuan yang kehilangan anak, serta mereka yang hidup bersama lansia sakit tanpa obat dan pemanas, menyampaikan pesan yang sama: perang mungkin disebut telah berhenti, tetapi penderitaan belum berakhir. Dingin, kelaparan, penyakit, dan pembatasan bantuan menjadi bentuk lain dari pengepungan yang terus berlangsung.

Di antara tenda yang terendam, anak-anak yang menggigil, dan ibu-ibu yang menangis dalam diam, terangkai satu kisah kemanusiaan tentang Gaza. Sebuah wilayah yang warganya hidup di ambang ketahanan, menunggu dunia tidak sekadar menyaksikan, tetapi bertindak untuk menghentikan krisis kemanusiaan yang terus menganga.

Sumber: Al Jazeera Mubasher

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here