Blokade ketat yang diberlakukan Israel di Jalur Gaza semakin memperburuk situasi kemanusiaan di wilayah tersebut. Para ahli menilai bahwa langkah ini bertujuan untuk memaksa warga Gaza meninggalkan tanah mereka dengan menciptakan kondisi yang tidak layak untuk hidup.
Komisi Hak Asasi Manusia PBB mengungkapkan bahwa lebih dari separuh penduduk Gaza kini berada di bawah perintah evakuasi Israel. Sementara itu, organisasi kemanusiaan internasional memperingatkan bahwa penghentian bantuan kemanusiaan telah menyebabkan ancaman kelaparan ekstrem bagi lebih dari dua juta warga.
Kelaparan MengancamPeneliti dan aktivis kemanusiaan, Dr. Utsman Al-Samadi, mengatakan bahwa kondisi di Gaza saat ini belum pernah terjadi sebelumnya. Ia menegaskan bahwa warga kehilangan akses ke kebutuhan dasar seperti air, makanan, dan obat-obatan akibat blokade total.
“Setiap hari terjadi serangan udara yang menyebabkan puluhan korban jiwa dan ratusan luka-luka. Ini adalah pembersihan etnis dan genosida yang berlangsung di depan mata dunia,” ujarnya dalam sebuah wawancara televisi.
Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal Inisiatif Nasional Palestina, Dr. Mustafa Al-Barghouti, menyebut situasi di Gaza saat ini sebagai yang paling buruk sejak perang 1948.
“Kami menyaksikan kelaparan luar biasa, pembunuhan, dan penderitaan yang terus berlanjut tanpa adanya penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan,” katanya.
Menurut Al-Barghouti, strategi Israel adalah memaksa seluruh warga Gaza untuk mengungsi ke kamp-kamp yang mereka kontrol, dengan tujuan akhir menekan mereka agar menerima pemindahan paksa. Ia juga mengungkapkan bahwa Israel berencana menyerahkan pengelolaan arus bantuan ke sebuah perusahaan Amerika Serikat di bawah pengawasannya.
Bencana Kemanusiaan
Direktur sementara Kantor Informasi UNRWA di Gaza, Inas Hamdan, mengatakan bahwa organisasi kemanusiaan menghadapi tantangan besar dalam menyalurkan bantuan. Ia menjelaskan bahwa serangan terhadap fasilitas PBB serta situasi keamanan yang memburuk semakin menghambat distribusi makanan dan obat-obatan.
“Kami bekerja dengan sumber daya yang sangat terbatas. Stok pangan, obat-obatan, dan bahan bakar hampir habis, sementara kebutuhan terus meningkat,” ungkapnya. Ia juga memperingatkan bahwa 25 toko roti yang didukung oleh Program Pangan Dunia di Gaza berada di ambang penutupan akibat kekurangan tepung dan bahan bakar.
Sementara itu, Komisioner Tinggi HAM PBB, Volker Turk, menilai blokade terhadap Gaza sebagai bentuk hukuman kolektif yang dapat dikategorikan sebagai penggunaan kelaparan sebagai senjata perang. Program Pangan Dunia sendiri telah mengumumkan bahwa mereka hanya memiliki sisa pasokan untuk dua hari ke depan.
Di sisi lain, Dr. Al-Samadi memperingatkan bahwa infrastruktur penting seperti pasokan air, sanitasi, dan layanan kesehatan semakin hancur akibat serangan Israel.
“Bahkan pertanian yang selama ini menjadi sumber utama pangan bagi warga kini berada di ambang kehancuran,” ujarnya.
Sikap Diam Dunia
Dr. Al-Barghouti turut mengkritik sikap pasif dunia internasional, khususnya negara-negara Arab. “Dukungan terhadap Gaza semakin berkurang. Sampai kapan negara-negara Arab dan Islam akan terus diam? Tidak bisakah mereka bersatu untuk memecahkan blokade ini?” katanya dengan nada geram.
Dengan situasi yang semakin memburuk dan bantuan yang kian menipis, krisis kemanusiaan di Gaza terus berlanjut tanpa solusi yang jelas.
Sumber: Al Jazeera