AL-QUDS — Syekh Ikrimah Sabri memperingatkan dampak pengusiran dan pembatasan yang diberlakukan Penjajah Israel terhadap para khatib Masjid Al-Aqsa. Menurut dia, tindakan tersebut merupakan tindakan menyimpang yang bertujuan membungkam suara para khatib sekaligus mengosongkan mimbar masjid dari pesan keagamaan, peradaban, dan kemanusiaan.
Syekh Ikrimah mengatakan, para khatib menjadi sasaran otoritas Israel karena menyampaikan persoalan-persoalan penting umat berdasarkan Al-Quran dan sunah Nabi Muhammad SAW.
Menurut Syekh Ikrimah, militer Israel menggunakan ancaman terselubung untuk memaksa para khatib menjauhi isu-isu yang dinilai berpengaruh. Tekanan itu, kata dia, bertujuan membuat khutbah yang seharusnya memberikan pencerahan dan bimbingan kepada umat kehilangan daya kritis serta tidak lagi efektif.
Syekh Ikrimah menilai kebijakan tersebut bukan sekadar pembatasan terhadap individu, melainkan juga upaya mengendalikan pesan yang disampaikan dari mimbar Al-Aqsa.
Membungkam suara dari mimbar Al-Aqsa
Syekh Ikrimah menjelaskan, keputusan mengusir para khatib digunakan sebagai hukuman sekaligus peringatan agar dirinya dan khatib lain tidak mengkritik penyerbuan pemukim Israel serta tindakan mereka di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa.
Pembatasan itu juga menyasar pembicaraan mengenai kesucian dan kedudukan masjid tersebut. Menurut Syekh Ikrimah, tindakan tersebut memperlihatkan keinginan Israel untuk menghilangkan substansi pesan yang disampaikan dari mimbar masjid.
“Mereka ingin para khatib menjauh dari persoalan umat. Mereka ingin khutbah menjadi tidak efektif dan kehilangan isinya,” ujar Syekh Ikrimah.
Ia menilai kebijakan pengusiran berdampak langsung terhadap pelaksanaan salat Jumat dan kondisi psikologis jamaah. Sebagian jamaah, menurut dia, mulai merasakan bahwa khutbah tidak lagi menjalankan peran sebagaimana mestinya akibat tekanan yang dihadapi para khatib.
Jamaah juga semakin menyadari bahwa tokoh-tokoh agama Islam menjadi sasaran langsung pembatasan otoritas Israel.
Syekh Ikrimah menegaskan, berbagai pembatasan di Al-Aqsa (kiblat pertama umat Islam dan masjid suci ketiga) pada dasarnya bertujuan mengurangi jumlah jamaah Muslim. Pada saat yang sama, menurut dia, kebijakan tersebut membuka ruang lebih luas bagi pemukim ekstremis Israel untuk memasuki kompleks masjid dan melakukan aktivitas di dalamnya.
Ia menyebut tindakan tersebut telah mengikis rasa aman jamaah. Selain itu, pembatasan terhadap para khatib dinilainya menghambat pesan Al-Aqsa yang menyerukan kasih sayang dan penyebaran perdamaian.
Lebih dari 1.000 jamaah dilarang memasuki Al-Aqsa
Tekanan terhadap jamaah meningkat menjelang hari-hari besar Yahudi pada September dan Oktober 2026. Menurut laporan Al Jazeera, otoritas Israel memperketat kebijakan pengusiran jamaah dari Masjid Al-Aqsa dalam periode tersebut.
Di sisi lain, ribuan pemukim Israel diizinkan memasuki kompleks masjid untuk menjalankan ritual keagamaan Yahudi. Penyerbuan dilakukan dalam jumlah besar, pada waktu yang beragam, dan dengan kehadiran sejumlah tokoh agama serta politik terkemuka.
Aktivitas yang dilaporkan berlangsung mencakup membawa persembahan berupa tumbuhan dan hewan, melakukan ritual sujud yang disebut sujud epik, serta menggelar kelompok belajar Taurat di pelataran-pelataran Al-Aqsa.
Data dari pihak Palestina menunjukkan bahwa lebih dari 1.000 jamaah telah dikenai larangan memasuki Al-Aqsa sebagai bagian dari kebijakan yang mereka nilai sistematis untuk mengubah karakter kawasan tersebut. Sementara itu, lebih dari 53 ribu pemukim Israel dilaporkan memasuki kompleks masjid sejak awal 2026 hingga awal Oktober.
Angka tersebut memperlihatkan perbedaan perlakuan yang disoroti pihak Palestina: jamaah Muslim menghadapi pembatasan akses, sedangkan pemukim Israel mendapat kesempatan untuk melakukan kegiatan keagamaan di dalam kompleks masjid.
Penyerbuan meningkat, jamaah Palestina tersingkir
Ketua Lembaga Al-Quds untuk Melawan Yudaisasi, Nasser al-Hadmi, sebelumnya mengatakan kepada Al Jazeera bahwa jumlah warga Palestina yang dilarang memasuki Al-Aqsa terus bertambah. Kebijakan itu menyasar jamaah yang tinggal di Al-Quds maupun warga Palestina dari wilayah lain di dalam Israel.
Menurut Al-Hadmi, peningkatan jumlah jamaah yang diusir berlangsung bersamaan dengan upaya memperbesar jumlah pemukim Yahudi yang memasuki kompleks masjid.
Ia menilai penyerbuan berulang tersebut bertujuan membiasakan umat Islam di seluruh dunia menyaksikan ritual Yahudi berlangsung di dalam Al-Aqsa. Dengan demikian, aktivitas yang sebelumnya dipandang sebagai pelanggaran terhadap kesucian tempat itu berisiko dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Al-Hadmi juga memperingatkan bahwa praktik tersebut berkaitan dengan upaya memberlakukan pembagian waktu dan ruang di kompleks Al-Aqsa, sehingga akses dan penggunaan kawasan itu dapat dibagi berdasarkan kelompok agama.
Belakangan, beredar foto-foto yang memperlihatkan pelataran di sekitar Kubah Shakhrah dipenuhi rumput liar. Sejumlah pengamat menilai kondisi itu menunjukkan berkurangnya kehadiran jamaah dan warga Palestina yang biasa berjaga di kompleks masjid sepanjang hari. Foto-foto tersebut juga memunculkan perhatian terhadap terbatasnya kemampuan untuk membersihkan kawasan itu.
Di tengah pembatasan terhadap jamaah dan para khatib, persoalan Al-Aqsa bukan hanya menyangkut akses untuk beribadah. Bagi warga Palestina, rangkaian kebijakan tersebut juga berkaitan dengan upaya mempertahankan identitas, fungsi keagamaan, dan kedudukan masjid sebagai tempat suci umat Islam.
Sumber: Al Jazeera










