Musim panen zaitun di berbagai penjuru Tepi Barat yang diduduki tahun ini disambut warga dengan dada sesak. Di bawah bayang-bayang pembatasan militer yang kian mencekik dan gelombang teror pemukim, ritual merawat serta memetik zaitun (yang semestinya menjadi perayaan ekonomi dan kebanggaan nasional) berubah wujud menjadi pertaruhan nyawa sehari-hari.

Merujuk laporan jurnalis Al Jazeera, Halimah Tabi’a, akses menuju kebun dan pepohonan kini dikendalikan oleh sistem birokrasi keamanan yang rumit serta deretan gerbang besi yang terkunci. Alhasil, beban petani tidak lagi sebatas memetik buah, melainkan bagaimana bisa selamat sampai di tanah mereka sendiri.

Rantai Pengaman dan Kemerdekaan Gerak yang Dirampas

Pembukaan musim panen kali ini bertepatan dengan penutupan wilayah Tepi Barat yang semakin ketat, berlindung di balik dalih perayaan “Hari Raya Sukkot” (Hari Raya Pondok Daun) Israel. Kebijakan ini menegaskan pola pemutusan wilayah lewat penempatan gerbang besi, gundukan tanah, serta pos pemeriksaan militer permanen maupun mendadak yang membuat isolasi geografis menjadi keniscayaan pahit.

Berdasarkan data Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) per akhir 2025, lanskap lapangan tersebut menyajikan potret yang kelam:

  • 925 Hambatan Mobilitas: Tercatat di seluruh wilayah Tepi Barat, melonjak hingga 43% dibandingkan rata-rata dua dekade terakhir.
  • Desa-Desa Terisolasi: Sekitar 50% dari total hambatan tersebut memutus akses desa dari jalan-jalan utama, memaksa warga memutar lewat jalur alternatif yang jauh lebih panjang dan melelahkan.
  • Sektor Pertanian Lumpuh: Seperlima (minimal 20%) dari rintangan itu secara langsung menutup akses warga Palestina ke lahan garapan mereka sendiri.

Jerat Izin dan Gerbang yang Terkunci

Urusan melangkah dari rumah menuju ladang kini wajib melewati meja penghubung militer (koordinasi) demi mendapatkan “izin khusus”. Langkah birokratis ini adalah syarat mutlak untuk bisa melintasi 62 gerbang pertanian di sepanjang Tembok Pemisah, pintu-pintu yang sebagian besar hari dalam setahun dibiarkan tertutup rapat dan hanya dibuka sesekali:

  • Di desa Ein Yabrud (dekat Ramallah), waktu panen tahun lalu dipangkas sewenang-wenang menjadi hanya tiga hari.
  • Di wilayah Tepi Barat bagian utara, seluruh permohonan izin koordinasi yang diajukan petani tahun lalu ditolak mentah-mentah tanpa sisa.

Amukan Pemukim dan Kerugian Jutaan Dolar

Ancaman terbesar musim ini bukan cuma soal regulasi militer, melainkan aksi premanisme pemukim yang kerap mendahului petani untuk menjarah hasil panen. PBB mencatat ada 86 aksi kekerasan pemukim pada pekan-pekan awal musim panen 2025 saja, mulai dari intimidasi langsung di kebun, perampasan hasil panen dan alat pertanian, hingga perusakan batang pohon.

Secara finansial dan material, Kementerian Pertanian Palestina merinci hantaman telak yang mendera sektor penopang ekonomi ini:

  • Pohon yang Rusak (hingga September 2026): Tercatat ada 98.293 batang pohon zaitun yang mengalami kerusakan.
  • Akumulasi Kerusakan (2023–2026): Total pohon yang menjadi korban mencapai 283.952 batang.
  • Kerugian Finansial (2023–2026): Nilai kerugian hasil panen melampaui 156,8 juta dolar.

Angka-angka ini hampir pasti akan terus merangkak naik seiring dibukanya musim baru, mengingat para petani praktis berjalan sendirian tanpa ada payung perlindungan di tanah mereka.

Zaitun adalah urat nadi pertanian di Palestina. Menurut Asisten Wakil Menteri Pertanian Palestina, Tariq Abu Laban, komoditas ini mendominasi sebagian besar lahan buah. Dari sekitar 900 ribu dunam total lahan budidaya, ada sekitar 730 ribu hingga 750 ribu dunam yang sudah berbuah, sementara sisanya masih dalam tahap pertumbuhan.

Dalam beberapa pekan terakhir, pemandangan pilu tersaji di desa Burqa (Nablus), Arraba (selatan Jenin), serta Al-Mughayyir dan Beit Rima (kawasan Ramallah). Buldoser militer meratakan ratusan pohon zaitun, meninggalkan para pemilik tanah hanya bisa terpaku menyaksikan kehancuran warisan leluhur mereka.

Komisi Perlawanan Tembok dan Permukiman mencatat, sepanjang Agustus lalu, tentara dan pemukim Israel melancarkan tidak kurang dari 2.030 aksi kekerasan terhadap warga, lahan, dan properti Palestina, sebuah bukti sahih bahwa teror terstruktur ini terus digencarkan untuk mengikis habis eksistensi warga di tanah air mereka sendiri.

Disarikan dari laporan investigasi lapangan Al Jazeera.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here