DEIR AL-BALAH – Empat tahun lalu, rumah Nihed dan Zainab Jarbou adalah sebuah “kerajaan” kecil yang fungsional. Meski Nihed lumpuh empat anggota gerak (quadriplegia) sejak kecil dan Zainab kehilangan kedua kakinya akibat penyakit tak lama setelah mereka menikah, keduanya hidup mandiri. Dua kursi roda listrik menjadi mesin utama yang menggerakkan ekonomi keluarga dan masa depan kedua anak mereka.

Kini, “kerajaan” itu berganti menjadi kotak terpal seluas beberapa meter di Deir al-Balah. Perang tidak hanya menghancurkan rumah mereka di kamp Ash-Shaboura, Rafah, tapi juga melumat dua kursi roda listrik, satu-satunya alat yang menyambung nyawa fungsional mereka. Di dalam tenda itu, Zainab dan Nihed bukan lagi subjek yang berdaya, melainkan tawanan dari tubuh mereka sendiri.

Hidup dalam “Lubang” Kematian

Zainab menggambarkan sembilan kali perpindahan pengungsian mereka bukan sebagai perjalanan, melainkan “prosesi kematian”. Tanpa kursi roda listrik, mereka sepenuhnya bergantung pada tenaga otot putra mereka yang baru berusia 12 tahun.

Kondisi di dalam tenda jauh dari kata layak untuk penyandang disabilitas. Sanitasi adalah horor harian; sebuah ember (bucket) harus berfungsi sebagai toilet. Belum lagi serangan kutu, tikus, dan serangga yang bebas keluar-masuk pori-pori tenda.

“Perang bagi kami, kaum disabilitas, berarti maut yang tertunda,” ujar Zainab kepada koresponden di lapangan. Ia kini mengidap penyakit saraf kronis yang membuat tangannya membengkak dan penuh luka. Tanpa obat yang memadai, ia sering kali menggigit jemarinya sendiri untuk mengalihkan rasa sakit yang tak tertahankan.

Anak-anak yang Menua Sebelum Waktunya

Di balik terpal itu, masa kanak-kanak telah mati. Iyad (12) dan kakaknya (13) kini memikul beban kepala rumah tangga. Iyad menghabiskan harinya dengan mengangkut air, mencari kayu bakar, dan mendorong kursi roda manual orang tuanya melintasi medan pasir yang berat menuju pasar atau klinik.

Pendidikannya terputus total. Bukan karena sekolahnya hancur—meski banyak yang memang sudah rata—tapi karena ia adalah satu-satunya “kaki” bagi ayah dan ibunya. “Saya rindu sekolah, saya rindu bermain. Tapi saya harus jadi laki-laki di rumah ini,” ucapnya lirih.

Dapur Data: Peta Disabilitas di Jalur Gaza (Update April 2026)

KategoriStatistik Kerusakan / KondisiCatatan Investigasi
Cedera Mengubah Hidup± 42.000 OrangMembutuhkan rehabilitasi jangka panjang.
Kasus Amputasi± 6.000 Kasus75% adalah amputasi anggota gerak bawah.
Anak dengan Disabilitas> 10.000 Anak51% dari total evakuasi medis (Mei ’24 – Juni ’25).
Fasilitas Pendukung< 10% TersediaKursi roda listrik hampir mustahil ditemukan/diperbaiki.

Gencatan Senjata yang Maya

Nihed Jarbou kini hanya bisa terbaring di sofa usang yang menjadi tempat tidurnya selama 70 hari terakhir. Baginya, “gencatan senjata” yang dipromosikan di meja-meja diplomasi hanyalah jargon hampa. Di lapangan, akses gas memasak masih terputus, memaksa Zainab yang bertangan buntung untuk menyalakan kayu bakar hanya demi menyeduh teh—makanan utama yang tersisa bagi Nihed yang memiliki masalah lambung akut.

Harapan keluarga Jarbou sangat spesifik: mereka tidak meminta gandum atau minyak. Mereka meminta evakuasi medis untuk pemasangan protesa (kaki palsu) dan kursi roda elektrik yang baru. “Kami di sini bukan sedang hidup, kami sedang menunggu giliran untuk dikubur,” tegas Nihed.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here