RAMALLAH – Hidup sebagai warga Palestina di Tepi Barat hari ini berarti bersiap menghadapi teror yang bisa datang kapan saja, bahkan berkali-kali dalam sehari. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru saja merilis data yang menunjukkan aksi kekerasan oleh pemukim ilegal Israel di wilayah pendudukan tersebut telah mencapai level paling mematikan sepanjang sejarah.
Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, mengungkapkan bahwa intensitas serangan kini menyentuh angka rata-rata enam kali serangan dalam sehari. Angka ini bukan sekadar gertakan, melainkan kalkulasi riil dari insiden yang terbukti menimbulkan korban jiwa, luka-luka, hingga kehancuran total pada aset milik warga Palestina.
Sepanjang tahun 2026 yang belum genap berjalan satu semester ini saja, Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) telah mendokumentasikan lebih dari 1.000 kasus serangan terorganisir oleh pemukim Yahudi.
“Teror ini tidak lagi terlokalisasi, melainkan telah merembet dan melumpuhkan aktivitas warga di lebih dari 230 wilayah di seantero Tepi Barat,” tegas Dujarric di hadapan para jurnalis di New York, Kamis (11/6/2026).
Sebagai gambaran betapa pekatnya eskalasi di lapangan, dalam satu minggu terakhir saja, amukan massa pemukim radikal telah melukai lebih dari 30 warga Palestina. Tidak berhenti di situ, mereka juga menghancurkan infrastruktur publik, menyita lahan pertanian, dan merusak sumber mata pencaharian warga lokal secara masif.
Skenario Pengusiran Paksa dan Penggusuran Rumah
Efek domino dari teror harian ini adalah gelombang pengungsian massal yang sunyi. PBB mencatat, kombinasi antara kekerasan pemukim dan pembatasan ruang gerak oleh militer Israel telah mengusir paksa lebih dari 2.200 warga Palestina dari rumah mereka sejak awal tahun ini.
Angka pengungsi tersebut kian membengkak setelah otoritas Israel melanjutkan proyek buldoser mereka, merobohkan ratusan rumah warga Palestina dengan dalih tidak memiliki izin bangunan yang dikeluarkan Tel Aviv.
Proyek “Gila” Kabinet Netanyahu: 103 Pos Baru dan Guyuran 51 Juta Dolar
Lonjakan kekerasan ini sejatinya berjalan beriringan dengan ambisi politik di level atas. Kepala Otoritas Perlawanan Tembok dan Permukiman Palestina, Moayad Shaaban, memperingatkan bahwa Israel kini telah beralih ke fase “eksekusi intensif” untuk mencaplok seluruh sisa tanah Tepi Barat.
Data di balik meja kabinet Israel membongkar pola ini. Sejak pemerintahan koalisi sayap kanan pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terbentuk pada akhir 2022, Tel Aviv telah mengesahkan pembangunan 103 pos pemukiman baru yang melanggar hukum internasional.
Bahkan, lembaga pemantau perdamaian Israel, Peace Now, membocorkan bahwa baru minggu lalu pemerintah Netanyahu secara diam-diam menggelontorkan dana segar sebesar 51 juta dolar AS (sekitar Rp 830 miliar). Uang rakyat itu dialokasikan khusus untuk mematangkan cetak biru konstruksi di 69 titik pemukiman tambahan di Tepi Barat.
Saat ini, diperkirakan ada sekitar 750.000 pemukim Yahudi yang mendiami 141 pemukiman resmi dan 224 pos terdepan (outposts) di Tepi Barat. Angka tersebut mencakup 250.000 pemukim yang menduduki secara ilegal 15 distrik strategis di Yerusalem Timur.
Amnesty International: Ini Taintain Tatanan Rasial, Dunia Harus Bergerak
Aksi pengosongan lahan secara paksa ini memicu alarm darurat dari berbagai lembaga pemantau hak asasi internasional. Amnesty International mengeluarkan pernyataan keras yang menyebut situasi di Tepi Barat sebagai aksi “tindakan pembersihan etnis (ethnic cleansing) yang dipercepat secara brutal.”
“Akselerasi tajam pembersihan etnis yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat harus menjadi titik balik bagi dunia untuk segera bertindak. Potong seluruh rantai dukungan terhadap kekuatan pendudukan ini dan runtuhkan sistem apartheid rasis mereka sebelum aneksasi Tepi Barat menjadi permanen,” tulis Amnesty International dalam pernyataan resminya.
Sejak meletusnya perang Gaza pada Oktober 2023, Tepi Barat memang sengaja dijadikan front pertempuran sekunder oleh militer Israel. Dengan membiarkan para pemukim ilegal bersenjata bebas bergerak bak milisi sipil, Tel Aviv tengah memuluskan agenda jangka panjang mereka: membuat tanah Tepi Barat menjadi ruang yang tidak mungkin lagi ditinggali oleh orang Palestina, lalu mencaploknya tanpa sisa di bawah kepungan benteng-benteng beton pemukiman Yahudi.










