Meski di atas kertas kesepakatan damai telah diteken, langit Gaza belum benar-benar sunyi dari dengung maut. Dalam 24 jam terakhir, tiga nyawa kembali melayang di bawah bayang-bayang moncong senjata Israel.

SELASA dini hari (6/5), Jalan al-Jala di utara Kota Gaza seharusnya menjadi saksi bisu kembalinya denyut kehidupan warga sipil. Namun, sebuah pesawat nirawak (drone) militer Israel justru mengirimkan kabar duka. Sebuah rudal menghantam sekumpulan warga yang tengah berkumpul di dekat persimpangan Al-Uyun.

Rumah Sakit Al-Shifa, yang kini lebih sering menyerupai kamar jenazah ketimbang fasilitas medis, menerima kedatangan tubuh kaku Muhammad Jamal al-Ghandur. Ia syahid seketika. Di sampingnya, seorang pria lain terbaring dalam kondisi kritis, bertarung dengan maut setelah serpihan besi panas menembus tubuhnya.

Kementerian Kesehatan di Gaza mencatat, dalam kurun waktu 24 jam terakhir, tiga warga Palestina syahid. Dua di antaranya korban serangan terbaru, sementara satu lainnya adalah jasad yang baru berhasil dievakuasi dari balik puing-puing bangunan.

Provokasi di Garis Depan

Gema serangan tak hanya terdengar di utara. Di sisi selatan, tepatnya di wilayah timur Khan Younis, rel kereta api dan pemukiman warga kembali diguncang suara tembakan dari kendaraan lapis baja Israel. Saksi mata melaporkan adanya dentuman artileri yang menyasar area terbuka. Hingga laporan ini diturunkan, belum ada kabar mengenai korban jiwa dari Khan Younis.

Angka-angka yang dirilis otoritas kesehatan pun kian mengerikan. Sejak perang besar pecah pada Oktober 2023, total korban jiwa telah menembus angka 72.615 orang. Sementara itu, 172.468 lainnya harus hidup dengan luka-luka, banyak di antaranya menderita cacat permanen.

Damai yang Rapuh

Ironisnya, serangan-serangan ini terjadi di tengah masa gencatan senjata yang seharusnya berlaku sejak 10 Oktober 2025. Kesepakatan itu menyusul dua tahun “perang pemusnahan” yang didukung pasokan senjata Amerika Serikat, sebuah operasi militer yang menyapu bersih hampir 90 persen infrastruktur sipil di Gaza.

Kini, Gaza adalah hamparan beton yang hancur. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan butuh biaya sedikitnya US$ 70 miliar untuk membangun kembali wilayah yang lumat ini. Namun, selama moncong senjata masih menyalak dan drone masih bebas berburu di Jalan al-Jala, rekonstruksi Gaza tampaknya masih menjadi mimpi yang jauh di atas tumpukan reruntuhan.


Sumber: Diterjemahkan dan diolah dari berbagai agen berita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here