Tel Aviv — Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, secara terbuka mengumumkan bahwa pemerintahannya telah memulai apa yang ia sebut sebagai “Revolusi Permukiman” (Settlement Revolution).
Smotrich menegaskan bahwa proyek pembangunan distrik bagi pemukim Yahudi ini tidak akan lagi terbatas di wilayah Tepi Barat yang diduduki, melainkan akan merambah secara agresif ke wilayah Negev (selatan) dan Galilea (utara).
Pernyataan Smotrich mencuat di tengah rekor percepatan perluasan permukiman ilegal di bawah kabinet ultra-nasionalis pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Kabinet ini sangat bergantung pada dukungan partai-partai sayap kanan radikal propormukiman guna mempertahankan mayoritas kursi di parlemen (Knesset).
Kronologi Kebijakan dan Eskalasi di Lapangan
Langkah politik Smotrich ini dibarengi dengan serangkaian kebijakan formal dan aksi kekerasan terstruktur di lapangan:
1. Legalisasi 13 Permukiman Baru
Kabinet Keamanan Israel (The Cabinet) secara resmi menyetujui cetak biru pembangunan 13 permukiman baru di wilayah “Binyamin”, bagian tengah Tepi Barat. Fase pertama dari konstruksi massal ini dijadwalkan mulai berjalan dalam beberapa bulan ke depan.
2. Teror Pembakaran Aset Sipil
Menyusul pengumuman tersebut, kelompok pemukim ekstremis Yahudi melakukan serangan pembakaran (arson attack) terhadap sebuah restoran dan kafe milik warga Palestina di jalur penghubung antara al-Lubban ash-Sharqiya (selatan Nablus) dan Salfit (utara Tepi Barat).
3. Aneksasi Infrastruktur: Bandara Sya’fat
Operasi penggusuran tanah besar-besaran tengah berlangsung di sekitar kawasan eks-Bandara Sya’fat, dekat kota Qalandiya, utara Al-Quds. Otoritas pendudukan mulai meratakan properti Palestina demi menyambungkan wilayah tersebut ke dalam jaringan megaproyek permukiman.
Tujuan Geopolitis: Otoritas Palestina menilai penggusuran di wilayah koridor utama ini sengaja dirancang untuk memutus konektivitas geografis Tepi Barat secara permanen dan membaginya menjadi kantong-kantong kecil (cantons) terisolasi yang dikepung pos militer.
Statistik Agresi dan Permukiman Ilegal (Oktober 2023 – Juli 2026)
Berdasarkan data resmi dari Komisi Perlawanan Tembok dan Permukiman Palestina serta lembaga pemantau Israel Peace Now, diperkirakan terdapat sekitar 500.000 pemukim Yahudi yang tinggal di berbagai permukiman di wilayah pendudukan Tepi Barat, sementara sekitar 250.000 pemukim lainnya bermukim di Al-Quds Timur.
Sejak eskalasi besar yang meletus pada 8 Oktober 2023, Tepi Barat didera gelombang kekerasan ganda dari militer dan pemukim ekstremis. Berikut adalah indikator dampak kemanusiaan yang tercatat:
- Total Serangan Pemukim (Sejak Awal Tahun): Lebih dari 3.400 kasus penyerangan fisik dan perusakan aset.
- Korban Jiwa: 1.175 warga Palestina gugur.
- Korban Luka: 12.919 orang mengalami cedera fisik.
- Penahanan Massal: Sekitar 24.000 warga ditangkap dan ditahan.
- Pengungsian Paksa: 33.000 warga sipil kehilangan tempat tinggal akibat pembongkaran rumah (demolition).
Para pengamat menegaskan bahwa lonjakan angka kekerasan dan ekspansi tanah ini tidak terlepas dari “lampu hijau” politik serta kucuran dana anggaran yang dialokasikan langsung oleh Smotrich melalui pos kementeriannya.










