AL-KHAN AL-AHMAR – Pria berusia 60 tahun itu berdiri tegak di atas perbukitan gersang yang memayungi jalan utama menuju Al-Quds Timur. Di kantong gurun Al-Khan Al-Ahmar ini, Eid Khamis Jehalin baru saja menyelesaikan sebuah pertemuan yang tidak biasa dengan perwira militer Israel. Ia tidak disodori surat penangkapan, melainkan sebuah cek kosong bernilai jutaan dolar, paspor negara asing, serta jaminan hidup mewah di luar negeri. Harga yang diminta Tel Aviv hanya satu: goresan tanda tangan Eid untuk mengosongkan tanah milik klannya.

Eid, yang mewakili generasi ketiga dari gelombang pengungsi asal Gurun Negev pasca-Tragedi Nakba 1948, menolak tawaran itu tanpa berkedip. “Saya lahir, hidup, dan akan mati di sini. Kami tidak butuh apa pun dari kalian,” cetusnya, Minggu, 31 Mei 2026.

Penolakan Eid bukanlah sekadar heroisme personal, melainkan benteng terakhir dari komunitas Badui Palestina yang selama lima generasi mengunci gerbang demografis Al-Quds Timur dari ekspansi permukiman Yahudi. Saat ini, komunitas tersebut sedang menghadapi mesin birokrasi baru bernama “Proyek Lingkungan Shami” (Shami Neighborhood Plan), sebuah cetak biru arsitektur militer yang dirancang untuk menghapus eksistensi komunal mereka dari peta.

Anatomi Proyek Shami: Memenjarakan Badui ke Dalam “Kotak Semen”

Dilansir dari data bentukan Otoritas Gubernur Yerusalem, dokumen Proyek Shami telah resmi didepositokan sejak 25 Maret 2026 oleh Komite Sub-Perencanaan Administrasi Sipil Israel, perpanjangan tangan militer IDF di wilayah pendudukan.

Proyek ini menargetkan kawasan agraris seluas 170 dunam (sekitar 17 hektare) di wilayah Abu Dis untuk diubah paksa menjadi kawasan urban padat penduduk berkode “Sektor Domestik B”.
Secara teknis, proyek ini bertumpu pada spesifikasi berikut:

  • Zona Konstruksi Sipil: Mengonversi 79 dunam tanah hijau menjadi blok apartemen vertikal.
  • Kepadatan Hunian: Mematok rasio ekstrem hingga 12 unit rumah per dunam dengan ketinggian bangunan mencapai 6 lantai.
  • Jaringan Konektivitas: Mengalokasikan 35 dunam untuk koridor jalan raya pengumpan militer.
    Target utama dari Proyek Shami adalah mencabut komunitas Badui dari tiga wilayah inti: Al-Khan Al-Ahmar, Abu Al-Nwar, dan Arab Al-Jehalin. Mereka akan digusur secara komunal dari wilayah penggembalaan terbuka dan dipaksa masuk ke dalam blok apartemen vertikal di dekat tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Abu Dis.
    Bagi peradaban Badui, memindahkan mereka ke pemukiman vertikal adalah cara halus untuk membunuh fondasi ekonomi yang berbasis pada sektor peternakan tradisional.

Hubungan Rantai Proyek Shami dan Masterplan Koridor E1

Gubernur Al-Quds menegaskan bahwa Proyek Shami merupakan kelanjutan mutakhir dari taktik deportasi struktural yang telah diuji coba sejak tahun 1997. Langkah ini terikat kuat dengan mega-proyek Koridor E1, sebuah ambisi geopolitik sayap kanan Israel untuk menyambungkan permukiman raksasa Ma’ale Adumim langsung ke Al-Quds Barat.

Jika Koridor E1 sukses terkonsolidasi, wilayah Tepi Barat akan terbelah menjadi dua bagian yang terisolasi, sekaligus menutup rapat peluang berdirinya negara Palestina yang berdaulat secara geografis.

Angka Penggusuran Komunitas Badui

Agresivitas proyek ini kian nyata setelah Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, pada 19 Mei lalu mengeluarkan instruksi eksekusi untuk meratakan Al-Khan Al-Ahmar. Langkah itu merupakan bagian dari operasi pembersihan fase pertama yang menyasar puluhan titik komunitas pastoral di sepanjang koridor Al-Quds-Yordania.

Berikut adalah skala dampak pembersihan teritorial yang diluncurkan oleh Kementerian Keuangan Israel pertengahan bulan ini:

Manifes Target OperasiVolume Jiwa TerancamLokasi Relokasi PaksaDampak Eksistensial
Al-Khan Al-Ahmar (Inti)170 Jiwa Siswa & KeluargaBlok Apartemen Abu DisKematian total budaya pastoral
Total Komunitas Badui26 Tumbuhan PemukimanAl-Eizariya / Nuwei’ma (Ariha)Fragmentasi sosial klan
Agregat Sipil Terdampak4.856 JiwaKoridor Isolasi BetonPenghapusan hak kelola tanah adat
     

Generasi Ban Bekas dan Kelas di Bawah Bayang-Bayang Jrip

Di tengah himpitan perimeter militer yang sejak 2018 ditetapkan sebagai “Zona Militer Tertutup”, perlawanan sipil justru digerakkan oleh barisan perempuan muda. Nisreen Eid Jehalin, gadis berusia 23 tahun yang baru menyelesaikan studi sarjananya, memilih mengubah gubuk bambunya menjadi ruang kelas darurat gratis bagi anak-anak kamp setelah lulus kuliah.

“Bagi kami, bertahan hidup adalah urusan melompati barikade besi setiap hari,” kata Nisreen. Ia menceritakan bagaimana empat wanita hamil di kampungnya harus merayap di antara gorong-gorong beton untuk mengakses fasilitas kesehatan dasar, di bawah todongan senjata dari kelompok pemukim radikal Hilltop Youth yang mendirikan pos ilegal hanya beberapa meter dari luar tenda mereka.

Fokus kecemasan kolektif warga kini tertuju pada “Sekolah Ban” (The Tyres School). Gedung sekolah ikonik yang dibangun secara swadaya dari susunan ban bekas dan lumpur pada tahun 2009 ini menampung 170 anak-anak Badui dari berbagai penjuru bukit. Saban pagi, konsentrasi para siswa pecah, mata mereka terus mengawasi garis cakrawala, khawatir jika buldoser militer tiba-tiba muncul dan meratakan ruang kelas mereka menjadi puing.

“Jika Al-Khan Runtuh, Katakan Selamat Tinggal pada Al-Quds”

Tekanan konstan ini melahirkan trauma psikologis baru bagi generasi terkecil Al-Khan Al-Ahmar. Menurut Haji Muhammad Ibrahim (56 tahun), anak-anak di bukit ini tumbuh dengan membawa ingatan yang cacat akibat perang. Mereka hafal bentuk plat nomor mobil kuning milik dinas keamanan Israel, dan refleks berlari bersembunyi ke dalam ceruk batu setiap kali mendengar deru mesin asing.

“Mereka terus bertanya: ‘Kenapa mereka ingin menghancurkan atap rumah kita? Kita mau pindah ke mana?’ Kami yang dewasa tidak punya jawaban medis untuk menjawab kepolosan itu,” kata Ibrahim parau.

Bagi Ibrahim dan Eid Jehalin, tawaran kompensasi rusun bertingkat dari pemerintah Israel dianggap sebagai jebakan maut. “Menaruh orang Badui di dalam kotak semen di samping TPA sampah sama saja dengan memasukkan manusia ke dalam liang kubur secara perlahan. Badui di padang pasir itu seperti ikan di dalam air. Jika kau keluarkan ia dari air, ia mati,” tegas Eid.

Di bawah pengawasan ketat pos militer, malam hari di Al-Khan Al-Ahmar berubah menjadi arena ronda yang menegangkan. Warga dari 26 titik pengungsian kini membangun sistem komunikasi mandiri lewat jaringan telepon darurat untuk mengantisipasi serangan mendadak dari militer atau penjarahan ternak oleh kelompok pemukim sayap kanan pada dini hari.

Mereka sadar, di tengah absennya perlindungan dari lembaga hukum internasional yang mereka anggap hanya bekerja di atas kertas, pertahanan terbaik adalah saling menjaga satu sama lain. Strategi bertahan ini menjadi bukti konkret bahwa sekeras apa pun tekanan untuk menggusur mereka, detak nadi kehidupan di Al-Khan Al-Ahmar menolak untuk berhenti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here