Seiring tekanan internasional meningkat agar Israel membuka Perbatasan Rafah sesuai kesepakatan gencatan senjata, muncul rencana yang menunjukkan tujuan lain: menggunakan perbatasan sebagai alat pengusiran warga Gaza.

Media Israel mengungkap rencana membangun pos perbatasan baru dekat Rafah dengan pengawasan langsung Israel. Seluruh pergerakan akan melalui pemeriksaan keamanan ketat, termasuk verifikasi identitas, pemindaian sinar-X, dan mekanisme kontrol terhadap semua pelintas.

Sumber Israel menyebut, Uni Eropa akan mengelola sisi Palestina dari perbatasan baru ini, bekerja sama dengan badan intelijen Palestina, tetapi semua data pelintas akan diteruskan ke Shabak, badan keamanan Israel, untuk pemeriksaan akhir. Praktisnya, ini berarti kontrol Israel tetap berjalan, meski melalui pihak ketiga.

Selain itu, menurut laporan Reuters dari tiga sumber anonim, Israel berencana membatasi jumlah warga Palestina yang kembali dari Mesir, sehingga lebih banyak orang meninggalkan Gaza dibanding yang masuk. Israel juga berkeinginan menempatkan pos militer di dalam Gaza dekat perbatasan, memaksa semua pelintas untuk melalui pemeriksaan keamanan Israel.

Seorang pejabat Israel menegaskan bahwa pembukaan perbatasan sepenuhnya bergantung pada keputusan pemerintah Israel, dan warga Palestina tidak bisa masuk atau keluar tanpa persetujuan.

Sementara itu, Ali Shaath, Ketua Komite Teknopokrat Palestina, mengumumkan bahwa Perbatasan Rafah akan dibuka Kamis depan. Shaath menekankan bahwa perbatasan ini menjadi jalur hidup bagi warga Gaza, sekaligus simbol kesempatan dan martabat, meski tantangan tetap besar.

Perbatasan Rafah adalah satu-satunya pintu keluar-masuk bagi lebih dari dua juta warga Gaza. Israel telah menutupnya selama 20 bulan, hanya membuka selama 40 hari pada Januari 2025 dengan kuota 300 orang per hari, sebelum menutupnya kembali pada Maret.

Penutupan perbatasan berdampak langsung pada 22.000 pasien dan korban luka yang menunggu perawatan di luar Gaza, termasuk 5.200 anak, dari total 17.000 pasien yang sudah memiliki izin rujukan.

Selain pasien, penutupan juga menghambat 37.000 truk bantuan per tahun yang sebelumnya masuk dari Mesir, padahal sebelum perang, volume perdagangan dari Mesir menyumbang 36% total pasokan truk ke Gaza. Pembukaan perbatasan menjadi jalan vital bagi warga yang menderita akibat perang, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi.

Sumber: Al Jazeera + Reuters


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here