Gaza — Pukul dua dini hari, Senin (2/2/2026), Sabah Al-Raqab bersama lima putrinya berangkat dari Kota Al-Arish, Mesir, menuju Gerbang Rafah. Perjalanan itu menandai hari pertama dibukanya kembali jalur kepulangan ke Jalur Gaza, setelah gerbang tersebut dikuasai militer Israel selama 20 bulan.
Sabah terpaksa meninggalkan Gaza pada bulan ketiga perang setelah memperoleh rujukan medis untuk berobat ke Mesir. Kepada Al Jazeera Net, ia menceritakan proses panjang dan penuh tekanan yang harus dilalui untuk kembali ke kampung halamannya.
Menurut Sabah, Kedutaan Palestina di Kairo memberitahukan jadwal keberangkatan pada malam hari. Ia menaiki bus bersama puluhan warga lain dan tiba di Gerbang Rafah sekitar satu jam kemudian. Namun, mereka harus menunggu hingga pukul 07.30 pagi sebelum diizinkan melanjutkan proses penyeberangan.

Menunggu Berjam-jam di Gerbang Rafah
Setelah mendapat izin masuk, pihak Mesir menyelesaikan prosedur dengan cepat. Sabah kemudian berjalan kaki bersama lima putrinya dan enam warga lain menuju sisi Palestina Gerbang Rafah.
Ia menggambarkan kondisi gerbang yang berubah drastis. Bangunan lama hancur akibat penghancuran dan digantikan oleh kontainer besi sementara. Di lokasi itu, sekitar 20 petugas dari misi Uni Eropa serta aparat Otoritas Palestina menyambut para warga yang kembali.
Para petugas meminta seluruh barang bawaan diserahkan, termasuk makanan, parfum, dan perlengkapan pribadi. Para perempuan hanya diizinkan mempertahankan pakaian yang mereka kenakan.
Sabah dan rombongan kemudian menunggu sekitar 12 jam di aula sisi Palestina. Menjelang malam, mereka diperbolehkan keluar dan berjalan kaki lebih dari 15 menit melewati jalan gelap hingga mencapai sebuah bus yang menunggu. Sopir bus, warga Palestina, dilarang berbicara dengan para penumpang.
Sekitar pukul 21.00, bus mulai bergerak dengan pengawalan dua kendaraan lapis baja milik militer Israel, satu di depan dan satu di belakang. Setelah perjalanan sekitar satu setengah jam, bus dihentikan di dekat kawasan Morag.
Di lokasi itu, Sabah menyebut mereka dihadapkan pada pos pemeriksaan kelompok bersenjata yang bekerja sama dengan Israel dan menyebut diri mereka “unit kontra-terorisme”. Pos tersebut berada sekitar 100 meter dari titik keberadaan militer Israel dan beroperasi di bawah arahannya.
Seorang perempuan bersenjata menyambut para pendatang dan menawarkan opsi untuk tinggal di wilayah yang dikuasai kelompok tersebut, melalui pendaftaran daring. Sabah dan dua perempuan lain kemudian dipisahkan untuk pemeriksaan. Paspor mereka disita dan mereka dibawa ke pos pemeriksaan milik militer Israel.
Interogasi dan Tekanan

Di ruang interogasi, Sabah diborgol dan matanya ditutup. Ia dipaksa melepaskan jaket musim dingin dan dibiarkan dalam suhu dingin sebelum interogasi dimulai.
Dua penyidik Israel yang berbicara bahasa Arab mengajukan pertanyaan intensif terkait orang-orang di sekitarnya. Sabah mengaku diancam akan dipukul jika tidak memberikan jawaban yang dianggap memuaskan.
Selama sekitar satu setengah jam, ia mengalami intimidasi, ancaman penahanan, hingga disiram air dingin. Para penyidik juga menawarkan kemudahan untuk meninggalkan Gaza secara permanen atau bekerja sama dengan mereka. “Kami butuh kamu menjadi mata dan telinga kami,” ujar Sabah menirukan ucapan penyidik.
Sabah baru dibebaskan setelah sebuah delegasi Eropa tiba di bus yang menunggu putri-putrinya dan melakukan intervensi. Bus kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kompleks Medis Nasser di Khan Younis. Total, Sabah menghabiskan 22 jam dalam penantian, pemeriksaan, dan interogasi sebelum benar-benar tiba di Gaza.
Kepulangan yang Masih Terbatas
Kesaksian Sabah mengungkap kerasnya proses kepulangan gelombang pertama warga Gaza setelah hampir dua tahun terpisah secara paksa dari wilayah mereka.
Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Nasional Gaza menyatakan bahwa pada hari pertama pembukaan Rafah secara terbatas, hanya delapan pasien dan pendamping yang diizinkan keluar dari Gaza. Sementara itu, 12 warga berhasil masuk ke Gaza pada larut malam, terdiri dari sembilan perempuan dan tiga anak, yang langsung mendapat pendampingan dan layanan dasar.
Sebelumnya, militer Israel mengumumkan penyelesaian pembangunan koridor pemeriksaan khusus bernama “Regevim” bagi warga yang datang dari Rafah. Koridor tersebut berada di bawah kendali penuh institusi keamanan Israel dan digunakan untuk pemeriksaan identitas, pencocokan data dengan daftar keamanan, serta penggeledahan ketat terhadap barang bawaan.
Sumber: Al Jazeera










