Al-Quds — Pemukim Yahudi, dengan pengawalan ketat kepolisian Israel, kembali menyerbu dan menodai Masjid Al-Aqsa. Di saat yang sama, Otoritas Perlawanan Tembok dan Permukiman mengungkapkan bahwa rangkaian serangan pemukim telah memaksa 13 komunitas Badui Palestina angkat kaki dari tanah mereka di Tepi Barat.
Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina sebelumnya mencatat, sepanjang Desember lalu saja, pemukim Israel telah 27 kali menerobos kompleks Masjid Al-Aqsa di bawah perlindungan aparat. Pada periode yang sama, otoritas pendudukan juga melarang azan dikumandangkan di Masjid Ibrahimi sebanyak 53 kali.
Bagi warga Palestina, rangkaian tindakan ini mempertegas upaya sistematis Israel untuk men-Yahudi-kan Al-Quds Timur, termasuk Al-Aqsa, sekaligus menghapus identitas Arab dan Islam kota suci tersebut.
Gelombang tekanan itu juga menjalar ke berbagai wilayah Tepi Barat. Sumber-sumber lokal melaporkan, pasukan Israel menangkap sedikitnya 54 warga Palestina dalam operasi penggerebekan luas sejak Senin dini hari, termasuk seorang anak dan seorang jurnalis.
Pasukan Israel juga menyerbu Kota Beitunia di wilayah Ramallah, disertai penggeledahan rumah secara masif dan perusakan harta benda warga.
Tak berhenti di situ, pemukim Israel kembali menodai kesucian ruang publik dengan menyerang sebuah pemakaman Islam di Al-Quds dan merusak sejumlah batu nisan.
Pengusiran dan Penguasaan Lahan
Otoritas Perlawanan Tembok dan Permukiman menegaskan, sejak awal 2025 teror pemukim telah menyebabkan pengusiran 13 komunitas Badui Palestina. Sepanjang tahun yang sama, tercatat 23.827 aksi kekerasan dan intimidasi pemukim terhadap warga Palestina.
Data lembaga tersebut menunjukkan, Israel kini menguasai lebih dari 90 persen wilayah Lembah Yordan Palestina, serta mengendalikan sekitar 70 persen kawasan yang diklasifikasikan sebagai Area C. Secara keseluruhan, kendali efektif Israel telah menjangkau sekitar 41 persen wilayah Tepi Barat.
Sejak perang pemusnahan di Gaza pecah pada 8 Oktober 2023, pasukan Israel dan pemukim di Tepi Barat, termasuk Al-Quds Timur, telah menewaskan sedikitnya 1.105 warga Palestina, melukai hampir 11 ribu lainnya, dan menahan lebih dari 21 ribu orang.
Sementara itu, agresi Israel di Gaza telah melahirkan lebih dari 71 ribu syahid dan 171 ribu korban luka, mayoritas anak-anak dan perempuan. Sekitar 90 persen infrastruktur sipil hancur, dengan biaya rekonstruksi yang diperkirakan Perserikatan Bangsa-Bangsa mencapai 70 miliar dolar AS.
Di tengah statistik yang terus bertambah, satu pesan kian terang: tekanan, pengusiran, dan perampasan ruang hidup Palestina bukanlah peristiwa terpisah, melainkan bagian dari pola panjang yang menyesakkan masa depan sebuah bangsa.
Sumber: Al Jazeera










