Enam warga Palestina terluka pada Rabu malam (11/2/2026) akibat rangkaian penggerebekan militer Israel, serangan pemukim, serta ledakan amunisi sisa militer. Di saat bersamaan, penangkapan dan pembongkaran rumah meluas di sejumlah kota.

Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan dua warga dilarikan ke rumah sakit setelah dipukuli pemukim di Zaatara, dekat Bethlehem. Korban ketiga mengalami luka di kepala akibat serangan serupa di Masafir Bani Naim, timur Hebron.

Di wilayah tengah Tepi Barat, satu warga lainnya harus dirawat setelah dipukuli secara brutal oleh tentara Israel di pos pemeriksaan Jaba, utara Al-Quds. Sementara itu, seorang pemuda 18 tahun ditembak dengan peluru tajam di pos Kafr Qasim, dekat Qalqilya.

Insiden lain menimpa seorang anak 11 tahun di Khirbet Jinba, kawasan Masafir Yatta, selatan Hebron. Aktivis Palestina Osama Makhamra mengatakan bocah itu terluka akibat ledakan granat kejut sisa operasi militer Israel. Ironisnya, ambulans Israel lebih dulu membawanya ke kamp militer terdekat sebelum ambulans Palestina tiba di lokasi.

Tak berhenti di situ. Pasukan Israel juga menahan dan memukuli sejumlah warga saat menggerebek Kota Sa’ir, utara Hebron.

Rumah Dirobohkan, Lahan Dirusak

Di Hebron, buldoser militer meratakan satu rumah dan sejumlah bangunan lain, termasuk ruang pertanian dan sumur air di Beit Ummar. Pembongkaran itu bukan hanya merobohkan dinding, tetapi juga memukul sumber penghidupan warga dengan merusak aset pertanian.

Koresponden Al Jazeera melaporkan, pasukan Israel memasuki kota dengan kendaraan lapis baja, menyebar di berbagai lingkungan, menahan warga untuk diinterogasi di tempat, memeriksa kartu identitas, disertai intimidasi dan kekerasan.

Di Jenin, lebih dari 15 kendaraan militer memasuki kota dan kamp pengungsi. Di Nablus, pasukan Israel mengepung sejumlah kawasan di pusat kota hingga sekitar Kota Tua.

Aktivis dan Relawan Asing Ditangkap

Di wilayah tengah Tepi Barat, pasukan Israel bersama pemukim menggerebek komunitas Badui Khillet al-Sidra, dekat Mikhmas, utara Al-Quds. Pemerintah Kota Al-Quds menyatakan sejumlah relawan asing dan aktivis perdamaian yang berada di lokasi ditangkap dengan dalih kawasan tersebut ditetapkan sebagai “zona militer tertutup”.

Otoritas setempat menilai langkah itu sebagai bagian dari kebijakan sistematis untuk menekan komunitas Badui dan mempersempit ruang hidup warga Palestina.

Di wilayah utara, organisasi hak asasi Al-Baidar melaporkan sekelompok pemukim menyerbu rumah warga di Lembah Yordan Utara. Rumah milik Rafe’ Fuqaha di Hammamat al-Malih diterobos, dan seekor anak sapi miliknya dibunuh.

Pola Kekerasan yang Meningkat

Data resmi Otoritas Perlawanan Tembok dan Permukiman Palestina mencatat, sepanjang Januari lalu terjadi 468 serangan pemukim di Tepi Barat. Bentuknya beragam: kekerasan fisik, pencabutan pohon, pembakaran ladang, penghalangan akses petani ke lahan, hingga perampasan properti.

Sejak Israel melancarkan agresi besar di Gaza pada 8 Oktober 2023, intensitas operasi di Tepi Barat meningkat tajam. Penembakan, penangkapan massal, pembongkaran rumah, pengusiran, dan ekspansi permukiman berjalan paralel. Banyak kalangan Palestina melihat eskalasi ini bukan sekadar operasi keamanan, melainkan langkah sistematis menuju aneksasi de facto wilayah tersebut.

Hingga kini, sedikitnya 1.112 warga Palestina dilaporkan syahid di Tepi Barat, sekitar 11.500 lainnya terluka, dan lebih dari 21 ribu orang ditangkap.

Rentetan angka itu memperlihatkan satu pola: kekerasan tak lagi sporadis. Ia terstruktur, meluas, dan konsisten—membentuk realitas baru di Tepi Barat, di mana operasi militer, pemukim bersenjata, dan kebijakan administratif berjalan dalam satu tarikan garis yang sama.

Sumber: Al Jazeera, Anadolu Agency

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here