Koordinator Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Dr. Maimon Herawati, menegaskan solidaritas terhadap Palestina tidak cukup berhenti pada mimbar dan pernyataan sikap. Solidaritas, kata dia, harus bergerak, menempuh jarak, dan siap diuji di laut terbuka. Konvoi ini tidak membawa kekuatan militer. Ia membawa pesan politik kemanusiaan: bahwa blokade dan penderitaan warga sipil tidak boleh dinormalisasi.

Pada 25 Maret 2026, kapal Phinisi yang membawa tim inti GPCI dijadwalkan bertolak dari Labuan Bajo. Pelayaran ini menandai dimulainya Konvoi Laut Indonesia, bagian dari inisiatif Sumud Nusantara, yang akan menyusuri Lombok, Surabaya, Jakarta, Bangka Belitung, hingga Dumai, sebelum menyeberang ke Port Klang, Malaysia.

“Di setiap pelabuhan singgah, pesan yang diusung tetap sama, Indonesia membela Palestina,” ujar Maimon saat menyampaikan presentasi GSF 2.0 di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (26/2/2026).

Konvoi laut berjalan beriringan dengan mobilisasi darat. Relawan dari Lombok, Jawa, dan Sumatera akan menyambut dan mengawal perjalanan hingga Dumai, pelabuhan terakhir sebelum kapal menyeberangi Selat Malaka.

Sepanjang rute, agenda budaya, edukasi, dan advokasi digelar serentak. Dari aksi doa bersama, diskusi publik, hingga penggalangan tanda tangan, konvoi ini dirancang sebagai ruang konsolidasi nasional.

“Ini bukan sekadar perjalanan kapal. Ini pergerakan moral,” ujar Maimon.

Setibanya di Malaysia, rombongan Indonesia akan bergabung dalam Sumud Nusantara, bagian dari koalisi global Global Sumud Flotilla. Koalisi tersebut berjejaring dengan Global March to Gaza, The People’s Flotilla Movement, serta Maghreb Sumud Convoy. Konsolidasi ini menandai pergeseran penting, solidaritas Asia terhadap Gaza tidak lagi sporadis, melainkan terstruktur dan lintas negara.

Tahap pertama ditempuh dari Labuan Bajo ke Lembar, Lombok, pada 25–27 Maret 2026, sejauh sekitar 260 mil laut. Di Lombok, aksi solidaritas akan digelar dari masjid-masjid menuju Pelabuhan Lembar, melibatkan tokoh agama dan organisasi masyarakat.

Perjalanan berlanjut ke Surabaya (27–30 Maret), sekitar 390 mil laut. Aksi publik direncanakan di kawasan Masjid Sunan Ampel, dekat Pelabuhan Tanjung Perak.

Dari Jakarta, kapal menuju Pangkalpinang, Bangka Belitung (4–7 April), lalu ke Dumai, Riau (7–8 April). Di Dumai, relawan dari berbagai wilayah Sumatera dan Aceh dijadwalkan berkumpul sebelum kapal menyeberang ke Port Klang pada 9–10 April.

GPCI menyiapkan rangkaian agenda lintas sektor. Di tingkat legislatif daerah, akan digelar Sidang Rakyat Peduli Palestina untuk mendorong lahirnya dokumen sikap resmi DPRD. Di tingkat eksekutif, kepala daerah didorong menyatakan deklarasi keberpihakan kemanusiaan dan menandatangani petisi dukungan.

Pelibatan publik diperluas melalui panggung seni pesisir, aksi rakyat, dan penghimpunan tanda tangan. Sekolah-sekolah akan menggelar dongeng kemanusiaan, lokakarya poster dan komik, serta pentas siswa untuk membangun empati sejak dini.

Kelompok perempuan juga mengambil peran melalui gerakan “Ibu Indonesia untuk Anak dan Perempuan Gaza”, yang mencakup doa bersama, surat solidaritas antar-ibu, dan dapur solidaritas.

Seluruh rangkaian kegiatan dirajut dalam satu simbol: petisi kain panjang Nusantara, yang akan diarsipkan dalam dokumenter perjalanan Phinisi Indonesia Peduli Palestina.

Bagi Maimon, konvoi ini adalah bentuk tekanan moral masyarakat sipil ketika diplomasi internasional dinilai mandek. “Ketika dunia terjebak dalam kebuntuan politik, masyarakat sipil harus mengambil peran,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here