GAZA — Genosida mungkin mulai mereda, tetapi Jabalia di Jalur Gaza belum benar-benar keluar. Kota itu masih terperangkap dalam abu dan reruntuhannya. Sejauh mata memandang hanya terlihat puing. Kota kehilangan warna dan wajahnya. Jalan-jalan, rumah, rumah sakit, hingga sekolah nyaris tak lagi tampak.
Jabalia telah mengalami tiga kali serangan darat besar selama pembantaian. Setiap serangan meninggalkan lapisan kehancuran baru. Kini, warga berusaha mencari ruang untuk kembali menjalani kehidupan di tengah puing-puing itu.
Anak-anak menjadikan reruntuhan dan gang-gang di antara tenda sebagai tempat bermain. Sementara perempuan dan laki-laki keluar masuk kawasan tersebut untuk mencari air dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di sisi timur Jabalia, situasinya bahkan terlihat seperti garis depan yang belum sepenuhnya berakhir. Posisi pasukan Israel berada tidak jauh dari kawasan tersebut. Kamera pengawas berdiri di atas menara pemantauan dan tanggul pasir, membuat warga hidup dalam bayang-bayang ancaman.
Sesekali terdengar suara tembakan. Warga juga melaporkan adanya korban syahid dalam berbagai insiden dan tudingan yang kemudian muncul untuk membenarkan tindakan tersebut.
Bertahan di Dekat Garis Kuning
Kurang dari 700 meter dari posisi pasukan Israel di kawasan yang dikenal sebagai “garis kuning”, Al Jazeera mengunjungi Kamp Ghauth. Sekitar 130 keluarga dari kawasan Al-Fakhoura berkumpul di sana. Mereka mendirikan tenda di samping reruntuhan rumah masing-masing.
Mereka memilih tetap dekat dengan tempat yang mereka kenal, tempat yang selama bertahun-tahun menjadi rumah dan lingkungan kehidupan mereka.
Seorang pemuda penyandang disabilitas yang memperkenalkan diri sebagai pengelola kamp menyambut kedatangan Al Jazeera. Ketika ditanya mengapa warga tetap bertahan di kawasan yang penuh risiko, jawabannya sederhana.
“Kami seperti ikan. Jika dikeluarkan dari laut, kami mati. Begitulah Jabalia bagi penduduknya.”
Di tengah situasi tersebut, Ahlam al-Absi hidup seorang diri bersama dua anaknya. Ia kehilangan suaminya pada bulan kedua perang yang telah berlangsung hampir tiga tahun. Dalam perang yang sama, seluruh keluarganya juga hilang.
Ahlam menunjukkan kondisi tendanya kepada Al Jazeera. Ia membalik kasur yang sudah lusuh untuk memperlihatkan kerusakan akibat hewan pengerat.
“Saya sudah menjadi yatim sejak kecil. Tetapi perang bukan hanya merenggut suami saya, melainkan seluruh keluarga saya. Saya tidak lagi memiliki ibu, saudara laki-laki, saudara perempuan, atau pencari nafkah yang bisa saya andalkan,” ujarnya.
Kini Ahlam harus menghadapi kehidupan yang sama sekali tidak pernah ia pilih. Ia tidak memiliki rumah untuk kembali, sementara penghasilan tetap untuk menyewa tempat tinggal baru juga tidak ada.
Bantuan kemanusiaan pun jarang sampai ke kamp tersebut. Menurut Ahlam, letaknya yang dekat dengan garis kuning membuat sejumlah lembaga enggan datang karena mempertimbangkan faktor keamanan.
Hidup Tanpa Penghasilan Tetap
Ahlam perlahan terbiasa dengan kerasnya kehidupan di tenda. Namun, kebutuhan paling sederhana pun masih menjadi persoalan.
Kini ia bahkan tidak memiliki penerangan yang memadai. Selama ini ia menggunakan ponsel sebagai sumber cahaya pada malam hari. Namun, ponselnya rusak. Ia akhirnya tidur bersama kedua anaknya dalam kegelapan, bahkan tidak mampu melihat jika ada hewan pengerat yang masuk ke dalam tenda.
Karena itu, ia berharap mendapatkan sebuah lampu senter agar dapat memeriksa kondisi tenda dan memastikan kedua anaknya aman saat tidur.
Air juga menjadi perjuangan tersendiri. Setiap pagi, Ahlam menghabiskan berjam-jam mengantre di depan truk air. Setelah menunggu lama, ia memperoleh satu jeriken yang hanya cukup untuk kebutuhan tertentu. Untuk kebutuhan sehari-hari lainnya, ia masih harus mencari sumber air dari salah satu sumur di kawasan tersebut.
Ia juga tidak memiliki penghasilan tetap untuk menghidupi keluarganya. Ada kalanya berbulan-bulan ia tidak memiliki uang bahkan setengah dolar. Untuk bertahan, ia mengandalkan bantuan dan sedekah dari orang-orang yang masih mampu berbagi.
Musim Dingin Menjadi Ujian Berikutnya
Bagi pengungsi Ali Masoud, persoalan terbesar kini justru berada di atas kepalanya: kain tenda.
Tenda yang diperolehnya sekitar satu setengah tahun lalu sudah tidak lagi mampu memberikan perlindungan yang layak bagi dirinya dan anak-anaknya. Terik matahari dan hujan telah membuat kainnya aus. Beberapa bagian bahkan terbuka dan langsung terpapar cuaca.
“Apa yang akan saya lakukan bersama anak-anak jika hujan semakin deras?” tanyanya.
Pertanyaan itu membuat Masoud teringat rumahnya sebelum perang. Ia menggambarkannya sebagai tempat yang aman dan penuh kehangatan. Karena itu, ia memilih tetap tinggal di dekat lokasi rumah tersebut meski kini yang tersisa hanya reruntuhan.
Setiap hari Masoud berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia memulai aktivitas dengan mendatangi tempat pengisian daya telepon, kemudian berjalan sekitar lima kilometer menuju pasar terdekat. Tidak adanya transportasi dan minimnya layanan di sekitar kamp membuat jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh terasa semakin berat.
“Tidak ada satu pun laboratorium di Jabalia dan tidak ada rumah sakit pusat. Yang tersedia di sekitar sini sebagian besar hanya titik-titik medis,” katanya.
Putrinya, Fatimah, harus berangkat sekolah sejak pukul enam pagi. Ia berjalan menuju sekolahnya di kawasan Tal al-Za’tar. Perjalanan itu memakan waktu sekitar satu jam dan penuh risiko.
Ketika ditanya apa yang paling diinginkannya sebagai seorang anak, Fatimah tidak meminta rumah atau kamar. Ia juga tidak berbicara tentang kembali ke kehidupan lamanya.
“Saya ingin kami punya tenda baru yang tidak kemasukan air dan tidak diterbangkan angin musim dingin,” ujarnya.
Di tempat yang kini tak lagi memiliki dinding, Fatimah masih menyimpan gambaran jelas tentang kamarnya dulu. Sebuah kamar berwarna merah muda dengan tempat tidur, lemari, dan meja belajar.
Kini, semua itu tinggal kenangan.
Bertahan Meski Ancaman Tetap Ada
Menurut pengelola Kamp Ghauth, Muhammad Saleh, keputusan untuk tetap tinggal bukan semata pilihan masing-masing keluarga.
Banyak keluarga di kamp tersebut sebelumnya telah mengungsi ke wilayah selatan Gaza. Namun, mereka kesulitan beradaptasi dengan keterbatasan tempat, mahalnya biaya sewa, dan kondisi kehidupan yang tidak memungkinkan. Mereka akhirnya kembali ke kawasan tempat tinggal sebelumnya dan mendirikan tenda di dekat rumah-rumah yang telah hancur.
“Yang mereka cari bukan rumah yang sudah tidak ada,” kata Saleh. “Mereka mencari sesuatu yang masih tersisa di tempat itu: tetangga, lingkungan, wajah-wajah yang mereka kenal, dan perasaan bahwa mereka masih berada di tempat mereka berasal.”
Karena itu, semangat saling membantu tetap terasa di antara penghuni kamp. Namun, perang membuat solidaritas tersebut berhadapan dengan kebutuhan yang semakin besar.
Saleh mengatakan persoalan kamp tidak berhenti pada minimnya layanan. Warga juga masih menghadapi suara tembakan dan pergerakan kendaraan militer secara berulang.
Beberapa hari sebelumnya, sebagian kawasan kamp terkena serpihan dan terbakar akibat tembakan ke arah bangunan yang telah hancur dan lokasi-lokasi di sekitarnya. Saleh mengatakan dirinya juga pernah terluka dalam salah satu insiden tersebut.
Warga kemudian menyela pembicaraan Saleh. Mereka mengungkapkan kekhawatiran terhadap kemungkinan masuknya milisi yang disebut mereka berafiliasi dengan Israel maupun pasukan khusus untuk menjalankan operasi keamanan.
Seorang warga yang diidentifikasi dengan inisial A.K. mengatakan, “Dua hari lalu pesawat mengawasi seluruh kawasan untuk mengamankan milisi mereka. Siapa pun yang bergerak ditembaki.”
Ketika Air, Jalan dan Layanan Dasar Menjadi Barang Langka
Kondisi Kamp Ghauth sebenarnya merupakan bagian dari persoalan yang lebih luas di kamp-kamp pengungsian Jabalia.
Kekurangan air, buruknya akses jalan dan minimnya layanan dasar tidak berdiri sendiri. Semua itu berkaitan dengan kerusakan infrastruktur yang meluas di kawasan tersebut dan semakin sulitnya akses menuju berbagai fasilitas.
Kepala Kota Jabalia, Mazen al-Najjar, mengatakan kamp-kamp pengungsian berada dalam kondisi sangat sulit. Kerusakan parah menghantam jalan, jaringan air dan sistem pembuangan limbah.
Selain membersihkan puing, membuka kembali jalan dan menyediakan energi untuk mengoperasikan sumur air, kebutuhan warga juga mencakup bahan bakar, suku cadang dan alat berat.
Al-Najjar mengatakan pemerintah kota belum mampu mengembalikan layanan dengan kecepatan yang dibutuhkan masyarakat. Keterbatasan bahan bakar, suku cadang dan alat berat menjadi kendala utama.
Menurutnya, keterisolasian warga bukan lagi sekadar persoalan jarak dari pasar atau fasilitas kesehatan. Kerusakan jalan dan infrastruktur, sulitnya mobilitas, serta pembatasan keamanan membuat akses warga terhadap layanan dasar semakin rumit.
Musim Dingin di Depan Mata
Menurut pemerintah kota, sekitar 134 ribu orang telah kembali ke wilayah administratif Jabalia. Sebagian menempati rumah yang tersisa dalam kondisi rusak, sementara lainnya tinggal di tempat-tempat pengungsian.
Kini, musim panas telah menguras kondisi tenda-tenda yang sudah rapuh. Musim dingin pun semakin dekat.
Pemerintah Kota Jabalia mencatat sedikitnya 14 titik rawan banjir di kawasan yang masih berada dalam wilayah administratif mereka di dalam garis kuning.
Tim pemerintah kota berupaya membuka jalur, membersihkan saluran dan sumur pembuangan air. Namun, skala kerusakan jauh melampaui kemampuan yang tersedia.
Mereka membutuhkan pompa, kendaraan penyedot air, alat berat, bahan bakar, serta material untuk perbaikan.
Karena itu, Al-Najjar menegaskan bahwa persiapan menghadapi musim dingin tidak boleh menunggu sampai hujan turun. Persiapan harus dilakukan sebelum hujan datang.
Pada saat yang sama, kamp-kamp Jabalia membutuhkan kembali koneksi dengan layanan dasar dan aktivitas kehidupan sehari-hari.
Di Jabalia, warga memilih bertahan dekat dengan rumah yang telah mereka kehilangan. Mereka hidup di antara puing yang belum disingkirkan, layanan yang belum pulih, musim dingin yang semakin dekat dan ancaman yang belum sepenuhnya hilang.
Namun, di tengah semua itu, mereka masih berusaha mempertahankan satu hal yang tersisa: keinginan untuk tetap tinggal di tanah yang mereka kenal sebagai rumah.










