JALUR GAZA — Ketika blokade total memutus pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan melumpuhkan moda transportasi bermotor, sepeda kini menjelma menjadi urat nadi pergerakan warga di Jalur Gaza. Namun, roda-roda kayuh itu kini terancam berhenti berputar. Kelangkaan akut suku cadang (spare parts) serta lonjakan harga yang tak masuk akal kian mencekik ruang gerak warga sipil yang mencoba bertahan hidup di tengah sisa-sisa reruntuhan.
Di salah satu sudut bengkel darurat, seorang montir sepeda menceritakan kepada Al Jazeera Mubasher mengenai hilangnya onderdil dari pasaran. Jika pun ada yang menjualnya, harganya sudah menembus batasan nalar. Bahkan, untuk komponen yang sudah dipotong menjadi setengah bagian saja, harganya dipatok hingga 10 Shekel (sekitar 2,7 Dolar AS) atau lebih.
Beberapa jenis suku cadang vital kini dihargai mulai dari 100 Shekel (sekitar 27 Dolar AS) hingga 300 Shekel (sekitar 81 Dolar AS). Angka ini meroket hingga ratusan kali lipat dibandingkan harga normal sebelum krisis berkecamuk.
Memotong Komponen Menjadi Dua Demi Pelanggan
Tuntutan kondisi membuat para pemilik bengkel sepeda di Gaza menolak mengibarkan bendera putih. Mereka dipaksa memutar otak dan melahirkan berbagai inovasi mekanis yang tidak biasa. Salah satu trik ekstrem yang mereka lakukan adalah membagi atau memotong satu komponen utuh suku cadang menjadi dua bagian agar bisa digunakan oleh dua sepeda yang berbeda.
“Kami terpaksa memodifikasi dan memotong suku cadang yang tersisa menjadi setengahnya. Ini langkah darurat agar kami tetap bisa membantu pelanggan. Jika sepeda mereka mati total, kehidupan mereka pun ikut mandek karena tidak ada alternatif kendaraan lain,” ujar seorang pemilik bengkel dengan nada getir.
Bagi warga Gaza, lonjakan harga ini laksana api yang membakar kantong mereka. Komponen kecil yang dulunya hanya seharga 1 Shekel (0,27 Dolar AS), kini melonjak menjadi 6 Shekel (1,6 Dolar AS). Sementara suku cadang yang semula berharga 4 Shekel (1,1 Dolar AS), kini dipasang pada label harga fantastis di atas 100 Shekel (27 Dolar AS), itu pun jika mereka beruntung bisa menemukannya setelah mengitari seluruh wilayah kantong Gaza.
Kerusakan Fisik Akibat Medan Jalan yang Hancur
Tantangan mengayuh sepeda di Gaza tidak hanya terletak pada urusan mesin dan rantai, melainkan juga pada kondisi geografis yang rusak parah. Hancurnya infrastruktur jalan akibat pemboman menciptakan medan terjal penuh pecahan beton dan besi tajam.
Krisis transportasi di Jalur Gaza telah melumpuhkan hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Di sektor infrastruktur, sebagian besar jalan mengalami kerusakan parah dan dipenuhi puing-puing beton akibat serangan, sehingga menyulitkan aktivitas mobilitas warga. Kondisi jalan yang rusak juga menyebabkan ban sepeda lebih sering meletus atau robek, sementara para pengendara harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk melintasi medan yang berat.
Di tengah keterbatasan tersebut, sepeda menjelma menjadi sarana transportasi yang sangat vital bagi kehidupan sehari-hari. Selain digunakan sebagai alat mobilitas lintas generasi, sepeda juga berperan sebagai moda utama untuk mengantarkan logistik dan bantuan kemanusiaan ke tenda-tenda pengungsi yang tersebar di berbagai wilayah Gaza.
Kondisi jalanan yang hancur memicu friksi tinggi yang mempercepat ausnya ban dan komponen penggerak sepeda. Banyak warga mengeluhkan kelelahan fisik yang luar biasa karena harus mengayuh sepeda di atas jalur yang tidak rata, yang pada akhirnya berdampak buruk pada kesehatan sendi dan tubuh mereka.
Sepeda Sebagai Simbol Resiliensi
Kementerian Transportasi dan Komunikasi di Gaza sebelumnya telah merilis pernyataan resmi bahwa wilayah pesisir tersebut sedang mengalami krisis transportasi publik yang berada pada tahap paling kritis sepanjang sejarah. Penghancuran massal armada mobil, rusaknya jaringan jalan raya, serta pelarangan masuknya pasokan bahan bakar oleh otoritas Israel menjadi penyebab utama kelumpuhan ini.
Namun, di tengah kemandekan tersebut, warga Gaza berhasil menjinakkan sepeda melampaui fungsi asalnya. Sepeda kini bertransformasi menjadi:
- Moda Transportasi Utama: Digunakan oleh seluruh kelompok umur, mulai dari anak-anak, remaja, hingga lansia.
- Penggerak Roda Ekonomi Baru: Menjadi modal utama lapangan kerja baru sebagai kurir pengantar logistik, makanan, dan air bersih ke tenda-tenda pengungsian terjauh.
Para montir dan pesepeda yang diwawancarai mendesak lembaga kemanusiaan dan pihak terkait untuk segera mengintervensi krisis ini dengan memasukkan pasokan suku cadang sepeda. Sebab di Gaza hari ini, sepotong rantai dan seulas ban sepeda bukan lagi sekadar alat olahraga, melainkan simbol perlawanan dan alat pertahanan hidup yang menjaga nadi kemanusiaan tetap berdenyut. (Sumber: Al Jazeera)










