Di sebuah pusat perawatan di Gaza tengah, anak-anak yang menjadi satu-satunya anggota keluarga yang tersisa duduk melingkar mengikuti sesi dukungan psikososial. Mereka disebut “the sole survivor”, anak-anak yang keluar hidup-hidup dari serangan, sementara seluruh keluarganya syahid.

Ingatan mereka dipenuhi potongan ledakan, reruntuhan, dan tubuh orang-orang terdekat yang tak lagi bernyawa. Di antara mereka ada Mahmoud, 12 tahun. Pada hari-hari awal perang, ia keluar dari tenda pengungsian untuk membeli roti. Ketika kembali, kamp di Deir al-Balah sudah dihantam serangan udara. Orang tuanya dan tiga saudaranya tewas. Ia satu-satunya yang selamat.

Mahmoud sempat berpindah-pindah tempat pengungsian sebelum diasuh keluarga lain. Kondisi psikologisnya memburuk hingga kasusnya dilaporkan ke pengelola proyek perawatan “Sole Survivor”. Ia kemudian dimasukkan ke dalam program pendidikan dan pendampingan psikologis dengan tujuan sederhana namun berat: mengembalikan stabilitas hidup anak yang kehilangan seluruh keluarganya dalam hitungan detik.

Menurut Ahmad Abu Zahri, Direktur Panti Asuhan Khadija di Gaza tengah, program ini disebut sebagai yang pertama secara khusus menyasar anak-anak yang kehilangan kedua orang tua dalam perang. Modelnya terpadu: ruang kelas, dapur umum, perpustakaan, area rekreasi, fasilitas tinggal, hingga pusat pembelajaran Al-Qur’an dan musala dalam satu kompleks. Pendekatannya bukan sekadar memberi tempat tinggal, tetapi membangun kembali rasa aman dan struktur hidup yang runtuh.

Data resmi Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan dampak yang mencengangkan: sekitar 2.700 keluarga terhapus dari catatan sipil karena seluruh anggotanya syahid, total 8.574 orang. Selain itu, 6.020 keluarga hancur dengan total 12.917 korban jiwa, menyisakan hanya satu orang yang selamat di masing-masing keluarga. Dari angka-angka inilah kategori “satu-satunya yang selamat” muncul, sebuah istilah administratif untuk tragedi yang tak terbayangkan.

Hanine, 10 tahun, kehilangan kedua orang tuanya ketika kamp pengungsian di Gaza tengah diserang. Ia mengalami luka sedang dan tinggal bersama bibinya setelah keluar dari rumah sakit. Trauma dan kesedihan membuatnya terisolasi. Setelah dinilai oleh tim proyek, ia diterima di pusat perawatan dan mulai mengikuti program dukungan psikologis dan pendidikan. Saat dikunjungi media, ia terlihat menggambar bersama anak-anak lain yang mengalami nasib serupa, cara mereka mengekspresikan apa yang sulit diucapkan.

Yahya, 9 tahun, juga menjadi satu-satunya yang selamat ketika mobil keluarganya diserang dalam perjalanan dari Khan Younis ke Gaza tengah. Empat anggota keluarganya tewas di tempat, sementara ia mengalami luka serius. Setelah dirawat di Rumah Sakit Syuhada al-Aqsa, ia tinggal bersama sepupu-sepupunya di kamp pengungsian. Namun kondisi hidup yang keras membuatnya putus sekolah selama berbulan-bulan. Kehadirannya di hari pertama pembukaan pusat perawatan menjadi titik balik yang disebut para pendamping sebagai awal pemulihan.

Program ini menyasar anak usia sekolah dasar, 6 hingga 12 tahun, dengan kapasitas 80–100 anak. Dikelola dengan dukungan lembaga kemanusiaan Turki dan berkoordinasi dengan otoritas setempat, pusat ini dirancang sebagai model awal. Pengelola menyebut rencana jangka panjangnya adalah membangun fasilitas serupa, bahkan kompleks perkampungan khusus anak yatim, untuk menampung ratusan anak lainnya.

Di tengah statistik korban yang terus bertambah, pusat perawatan ini menjadi respons atas satu realitas keras: perang tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga meninggalkan anak-anak tanpa keluarga, tanpa rumah, dan tanpa jaminan masa depan. Program “Sole Survivor” mencoba mengisi kekosongan itu, di tengah situasi yang belum menunjukkan tanda akan berakhir.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here