Dari saku kemejanya, sejarawan Palestina Majdi Al-Aidi mengeluarkan sebuah dompet cokelat kecil. Ia merogoh isinya dengan jemari yang gemetar, bukan mencari uang atau paspor, melainkan sebuah memori elektronik (USB) usang berusia 12 tahun. Di benda mungil inilah, lima ribu fragmen nyawa Palestina ia sembunyikan dari amuk mesin perang.

Bagi Majdi Al-Aidi (58), sejarah bukanlah deretan angka tahun yang kaku. Sejarah adalah denyut nadi yang ia kumpulkan foto demi foto, cerita demi cerita. Selama dua setengah tahun “perang pemusnahan” berkecamuk di Gaza, memori elektronik itu tak pernah lepas dari tubuhnya. Saat rumahnya hancur dan perpustakaan pribadinya yang berisi 6.000 buku lumat jadi abu, “anak keempat”-nya ini selamat dalam saku.

“Saya punya empat anak,” ujarnya dengan senyum tipis yang getir. “Tiga dari garis keturunan manusia, dan satu dari garis keturunan ilmu.”

Si “anak keempat” ini lahir dari ketekunan puluhan tahun di kamp pengungsi Al-Maghazi. Al-Aidi menghabiskan masa tuanya dengan mendatangi para tetua, saksi hidup Nakba 1948, menanyakan detail yang sering dilupakan peta: Lewat jalan mana kalian lari? Mengapa memilih desa ini sebagai tempat bernaung? Rumah macam apa yang kalian kunci pintunya dan kuncinya masih kalian simpan hingga hari ini?

Arkeologi Ingatan: Dari Silsilah ke Lensa Kamera

Perjalanan Al-Aidi mendokumentasikan ingatan ini dimulai dari rasa penasaran pada silsilah keluarga. Pamannya, yang wafat di usia 115 tahun, menjadi gerbang pertama. Dari cerita sang paman, Al-Aidi melacak nama, lalu menemukan rumah, hingga akhirnya merekonstruksi desa-desa yang kini telah dihapus dari peta resmi.

Pada 2021, ia menerbitkan ensiklopedia bertajuk “Citra Terpatri dalam Memori Nakba”. Isinya bukan sekadar narasi kekalahan, tapi restorasi kehidupan: pasar yang ramai, rumah sakit yang bersih, hingga ladang-ladang zaitun sebelum tercabut akarnya.

“Cerita itu didengar dengan hati, tapi ditulis dengan mata seorang penyidik,” kata Al-Aidi. Ia tak sekadar mengumpulkan dongeng. Ia mengikuti pelatihan verifikasi sejarah untuk memastikan setiap foto punya sandaran fakta. Jika narasi lisan cocok 60 persen dengan bukti dokumen atau foto, barulah ia berani mencatatnya, itu pun dengan catatan: siap dikoreksi jika ditemukan bukti yang lebih otentik.

Dua Lembar Foto dan Jaring Ikan Sang Nenek

Salah satu penemuan yang paling ia banggakan adalah dua lembar foto langka dari desa Al-Jura. Foto itu bukan tentang perang, melainkan tentang kehidupan. Di sana tampak seorang nenek sedang merajut jaring ikan.

“Foto seperti ini mengungkap hubungan manusia dengan laut, tentang profesi mereka, tentang betapa normalnya hidup mereka sebelum semua itu direnggut paksa,” jelasnya. Baginya, foto adalah bukti hukum yang tak terbantahkan bahwa Palestina bukan “tanah tanpa tuan”.

Ia juga menyimpan memori tentang Taha Bey, perwira Mesir yang bertahan di Irak al-Manshiyya hingga Februari 1949. Bagi Al-Aidi, itulah tanggal Nakba yang sebenarnya, saat benteng pertahanan terakhir jatuh, dan seorang pria berusia 70 tahun bersama istrinya terpaksa berjalan kaki menuju kamp pengungsian Al-Arroub, meninggalkan tanah kelahiran mereka selamanya.

Penjaga Gerbang Masa Lalu

Kini, di tengah puing-puing Gaza yang masih berasap, Al-Aidi terus bergerak. Perpustakaannya mungkin sudah rata dengan tanah, namun arsip di sakunya tetap hidup. USB itu adalah “pengungsi” yang berhasil selamat, membawa ribuan wajah dan nama yang menolak dilupakan.

Di mata Majdi Al-Aidi, tugasnya sederhana namun berat: menjadi penjaga gerbang masa lalu agar generasi mendatang punya peta untuk pulang. Karena ia percaya, selama foto dan cerita itu masih tersimpan, mereka yang terusir akan selalu punya cara untuk hadir kembali.


Sumber: Diterjemahkan dan diolah dari laporan Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here