ISTANBUL – Kabar kebebasan menyelimuti sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) beserta ratusan aktivis internasional yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 (GSF). Setelah sempat diculik dan ditahan secara ilegal oleh militer zionis Israel di perairan internasional, para aktivis tersebut kini telah tiba dengan selamat di Istanbul, Turkiye.
Namun, kebebasan ini menyisakan trauma mendalam menyusul terungkapnya berbagai tindakan penyiksaan fisik dan psikologis yang brutal di bawah otoritas keamanan Israel.
Koordinator Dewan Pengarah Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Dr. Maimon Herawati, yang mendampingi langsung para relawan di Istanbul, mengonfirmasi kondisi para WNI yang berhasil lolos dari penyekapan tersebut.
“Saya Maimon Herawati, dari Istanbul bersama dengan seluruh WNI, yang Alhamdulillah saat ini sudah bebas dari penculikan,” ujarnya dalam sebuah pernyataan resmi.
Meski selamat, Maimon membeberkan bahwa para relawan membawa luka-luka fisik akibat kekejaman militer zionis selama masa interogasi. Beberapa relawan mengalami memar parah di bagian dada hingga merasakan sesak napas akut, sementara yang lain dipukul, ditendang, hingga disetrum menggunakan arus listrik.
Kesaksian Korban: Sengatan Listrik hingga Kekerasan Fisik
Kesaksian langsung dari para korban memperkuat bukti adanya pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional yang dialami oleh para relawan pria asal Indonesia selama masa penahanan.
“Saya ditonjok, disetrum dua kali, ditendang dua kali, kemudian dibanting sekali,” ujar Hendro Prasetyo, Relawan Kemanusiaan GSF asal Indonesia
“Ditonjok, diinjak, dan diejek,” tutur As’ad Aras Muhammad, Relawan Kemanusiaan GSF asal Indonesia
Menurut Dr. Maimon Herawati, penyiksaan yang dialami oleh Hendro, As’ad, dan tim Indonesia lainnya sebenarnya masih tergolong “lumayan ringan” jika dibandingkan dengan penderitaan relawan multinasional lainnya. Di dalam kamp penahanan Ketziot, situasi di antara para aktivis perdamaian digambarkan sangat mengenaskan.
“Ada di antara relawan yang kemudian harus dibawa dengan stretcher (tandu), ada yang harus mendapatkan operasi darurat, ada yang mengalami patah kaki, patah tangan, dan ada kasus-kasus lain yang jauh lebih buruk dari itu,” ungkap Maimon dengan nada getir.
Kekejaman yang dialami oleh armada Global Sumud Flotilla ini diperkuat oleh data lapangan yang dihimpun dari kelompok hak asasi manusia independen, Adalah. Tim hukum Adalah berhasil mendokumentasikan kesaksian yang konsisten mengenai penggunaan sengatan listrik berulang terhadap para aktivis yang ditahan di Pelabuhan Ashdod.
Otoritas Israel juga menerapkan tindakan yang merendahkan martabat manusia, memaksa relawan berjalan membungkuk penuh ke depan, berlutut dalam waktu lama di bawah terik matahari, hingga mencopot jilbab para aktivis perempuan secara paksa.
Aksi keji ini dikonfirmasi secara luas setelah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengunggah video di media sosial X miliknya. Video tersebut memamerkan para aktivis kemanusiaan berlutut dengan tangan diborgol ke belakang dan wajah menghadap lantai, sementara lagu kebangsaan Israel diputar sebagai bentuk intimidasi psikologis.
Merespons pembajakan di perairan internasional ini, Kantor Kejaksaan Umum Istanbul di Turkiye telah resmi meluncurkan penyelidikan pidana atas dakwaan perampasan kemerdekaan, pembajakan alat angkut, perampasan dengan kekerasan, serta penyiksaan sistematis terhadap warga sipil.
Kontekstualisasi Krisis Tahanan Palestina
Dr. Maimon Herawati menegaskan bahwa kebrutalan zionis terhadap relawan asing merupakan cerminan kecil dari penderitaan yang sesungguhnya dialami oleh rakyat Palestina sehari-hari dalam penjara-penjara Israel.
- Skala Penahanan: Saat ini, lebih dari 9.000 warga Palestina mendekam di sel tahanan Israel tanpa proses peradilan yang adil.
- Kelompok Rentan: Ratusan di antaranya adalah anak-anak dan perempuan yang turut disekap dalam kondisi tidak manusiawi.
- Penyiksaan Mematikan: Para tahanan Palestina mendapatkan penyiksaan luar biasa yang melampaui batas kemanusiaan, di mana banyak di antaranya dilaporkan meninggal dunia di dalam sel akibat luka penyiksaan tanpa akses medis.
“Jika mereka melakukan kekejaman itu kepada para relawan kemanusiaan internasional, maka kita bisa membayangkan apa yang mereka lakukan kepada warga Palestina. Semoga dunia kemudian terbuka matanya terhadap kebrutalan yang dilakukan penjajah Israel,” tegas Maimon.
Proses Pemulangan ke Tanah Air
Pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Sugiono sebelumnya telah menyampaikan kecaman keras atas perlakuan tidak manusiawi yang diterima oleh delegasi kemanusiaan Indonesia. Kemlu RI telah mengoptimalkan lima perwakilan diplomatik di luar negeri serta bekerja sama erat dengan Pemerintah Turkiye guna mengamankan proses pemulangan.
Saat ini, setelah seluruh proses administrasi kesehatan, perlindungan hukum, dan pengambilan dokumentasi testimoni kejahatan perang selesai dilakukan di Istanbul, tim relawan Indonesia dijadwalkan akan segera terbang kembali menuju Tanah Air untuk kembali ke pangkuan keluarga masing-masing.










