Seruan warga Gaza untuk pemenuhan kebutuhan dasar kian mendesak, seiring memburuknya kondisi kemanusiaan dan hantaman cuaca dingin ekstrem yang melanda wilayah pengungsian. Di tengah keterbatasan bantuan dan rusaknya infrastruktur, anak-anak menjadi kelompok paling rentan.
Dalam liputan Al Jazeera Mubasher dari salah satu kamp pengungsian, seorang anak bernama Issa menyampaikan keluhannya dengan tangis. Ia berbicara polos tentang dingin yang menusuk dan minimnya pakaian layak.
“Demi Allah, kami ingin apa saja, apa pun,” ujar Issa, terisak.
Sambil menahan air mata, Issa menyebut harapan-harapannya yang sederhana: pakaian hangat, tenda yang lebih layak, dan kesempatan kembali bersekolah agar bisa belajar membaca dan menulis serta bertemu kembali dengan teman-temannya.
“Tidak ada tenda yang bisa melindungi dari dingin, saya tidak tahu harus berkata apa,” katanya.
Tangis itu berlanjut dari sang kakek, yang turut berbicara tentang kerasnya hidup setelah pengungsian paksa. Ia mengatakan, serangan Israel telah menghapus hampir seluruh yang mereka miliki.
“Tidak ada rumah, tidak ada tanah, tidak ada apa-apa yang tersisa,” ujarnya.
Sambil menunjuk anak-anak di sekelilingnya, sang kakek menjelaskan bahwa mereka adalah cucu-cucunya yang terpisah dari orang tua akibat perang. Dengan suara bergetar, ia menceritakan kesulitannya menyediakan pakaian hangat dan memperbaiki tenda yang roboh diterpa angin kencang.
“Saya menangis karena tidak berdaya memenuhi kebutuhan paling dasar cucu-cucu saya,” katanya, seraya menyerukan bantuan kemanusiaan segera bagi para pengungsi di Gaza untuk mencegah krisis yang kian memburuk.
Sumber: Al Jazeera Mubasher










