GAZA – “Jawab aku, Papa… Tolong bicara, Papa…” Suara lirih Zumarad (6) menggema memecah keheningan ruang perawatan yang pengap. Tangan kecilnya mengguncang-guncang lengan sang ayah yang terbaring kaku di atas ranjang rumah sakit. Namun, pria di hadapannya itu tetap bergeming. Tak ada gerakan, tak ada sahutan. Keheningan dingin itu telah membatu selama satu setengah tahun terakhir.
Ayah Zumarad bernama Nael. Ia adalah korban selamat dari sebuah serangan udara, namun harus membayar mahal dengan cedera otak superfisial yang sangat parah. Nael kini menjadi satu dari belasan ribu potret “kematian perlahan” (slow death) di Jalur Gaza.
Secara dokumen medis, Nael telah mengantongi surat rujukan resmi untuk segera diterbangkan ke luar negeri demi menyelamatkan nyawanya. Namun, di tengah blokade total dan penutupan seluruh pintu perbatasan oleh militer Israel, selembar kertas rujukan itu tak lebih dari sekadar nota antrean menuju liang lahat.
“Kondisi Nael sudah sangat kritis. Cedera otaknya sudah berusia 18 bulan dan tanpa intervensi bedah saraf saraf lanjutan di luar Gaza, kami hanya tinggal menghitung hari. Kami mengetuk hati nurani dunia, tolong bantu mereka sebelum semuanya terlambat,” ujar salah satu kerabat yang setia menjaga Nael di rumah sakit.
Impian Sederhana dari Atas Kursi Roda
Kisah pilu Nael dipotret dengan apik oleh jurnalis Ghazi Al-Aloul dalam laporannya untuk Al Jazeera. Di sudut lain, tepatnya di pelataran puing-puing Kompleks Medis Al-Shifa di Kota Gaza, duduk seorang pemuda bernama Hamada di atas kursi roda manualnya. Tangannya erat mendekap bundel dokumen medis yang telah disetujui otoritas kesehatan.
Dua tahun lalu, sepotong pecahan peluru meremukkan tulang belakang Hamada, menyisakan vonis kelumpuhan total pada kedua kaki bagian bawahnya (paraplegia). Dengan sorot mata yang memancarkan perpaduan antara rasa getir dan harapan yang menolak mati, Hamada berujar lirih:
“Saya hanya ingin berobat. Itu hak dasar saya sebagai manusia. Saya sangat rindu bisa berdiri, melangkah dengan kaki saya sendiri, dan kembali ke kehidupan normal saya yang dulu. Saya tidak meminta hal yang muluk-muluk kepada dunia, saya hanya ingin bisa berjalan lagi.”
Belasan Ribu Nyawa dalam Antrean Maut
Dalam sebuah konferensi pers yang digelar secara emosional di antara reruntuhan bangunan medis Al-Shifa, Kementerian Kesehatan Gaza kembali meniup peluit tanda bahaya (early warning) bagi komunitas internasional. Angka-angka yang dirilis bukan lagi sekadar statistik dingin, melainkan alarm kematian massal.
Direktur Jenderal Rumah Sakit di Gaza, Dr. Muhammad Zaqout, membeberkan data riil di lapangan. Saat ini, jumlah korban luka dan pasien kritis yang berada dalam kondisi mendesak dan wajib segera dievakuasi ke luar Gaza telah menembus angka 17.730 rujukan medis.









