GAZA – Mulai Senin (20/4/2026), otoritas Israel memutuskan untuk menutup total Gerbang Perbatasan Rafah. Tindakan sepihak ini praktis menghentikan seluruh proses evakuasi medis bagi warga Palestina yang kondisinya kritis.

Otoritas Penyeberangan dan Perbatasan Palestina dalam pernyataan singkatnya mengonfirmasi bahwa tidak akan ada aktivitas evakuasi pasien maupun luka tembak hari ini. Meski begitu, belum ada penjelasan rinci dari pihak Israel mengenai alasan penutupan atau sampai kapan kebijakan ini akan berlaku.

Langkah ini menjadi pukulan telak. Pasalnya, sejak Israel merebut kendali sisi Palestina di Rafah pada Mei 2024 dan membukanya kembali secara terbatas Februari lalu, akses keluar masuk sudah sangat mencekik. Prosedur yang rumit dan pemeriksaan berlapis membuat bantuan medis seolah berjalan di tempat.

18 Ribu Nyawa dalam Antrean

Kondisi di lapangan sebenarnya sudah sangat genting. Juru bicara Bulan Sabit Merah Palestina, Raed Al-Nims, mengungkapkan angka yang menyesakkan dada: sejak perbatasan dibuka kembali dua bulan lalu, baru sekitar 700 pasien yang berhasil dievakuasi ke luar Gaza.

“Padahal, masih ada lebih dari 18.000 pasien dan korban luka yang masuk dalam daftar tunggu evakuasi medis. Mereka butuh penanganan yang fasilitasnya sudah tidak ada lagi di dalam Gaza,” ujar Al-Nims.

Bagi mereka yang berhasil masuk kembali ke Gaza via Rafah pun, ceritanya tak kalah pelik. Banyak warga mengaku harus menjalani interogasi berjam-jam dan penahanan oleh tentara Israel sebelum diizinkan menginjakkan kaki kembali di tanah kelahiran mereka.

Padahal, sebelum perang pecah, Rafah adalah “napas” bagi warga Gaza. Di bawah pengelolaan bersama antara otoritas lokal dan Mesir, ratusan orang bisa melintas setiap hari tanpa campur tangan langsung militer Israel.

Kesepakatan yang Hanya di Atas Kertas

Penutupan total ini juga menjadi bukti nyata pengabaian Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata yang dimulai 10 Oktober 2025 lalu. Dalam poin fase pertama perjanjian tersebut, Israel seharusnya membuka penuh akses Rafah. Namun, realitanya justru sebaliknya.

Bukan cuma soal perbatasan, pelanggaran gencatan senjata terus memakan korban jiwa. Pada Senin dini hari, serangan udara Israel menghantam kamp pengungsi Al-Bureij dan wilayah barat Kota Gaza. Satu orang dilaporkan tewas, sementara beberapa lainnya luka-luka.

Kantor Media Pemerintah di Gaza mencatat setidaknya ada 2.400 pelanggaran yang dilakukan Israel selama enam bulan masa gencatan senjata, mulai dari penembakan, penangkapan, hingga kebijakan kelaparan yang masih mencekik warga.

Sinyal Perang Kembali Berkecamuk?

Langkah penutupan Rafah ini dibarengi dengan desas-desus kembalinya konfrontasi fisik skala besar. Media Israel, Channel 14, melaporkan bahwa militer mereka tengah bersiap untuk kembali ke fase pertempuran intensif di Gaza pada awal bulan depan.

Sentimen ini diperkuat oleh pernyataan kontroversial Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, yang kembali menyerukan pendudukan penuh atas Jalur Gaza dan pembangunan permukiman ilegal di sana.

Sejak Oktober 2023, Gaza telah kehilangan lebih dari 72.000 jiwa, dengan 172.000 orang luka-luka. Saat infrastruktur kota sudah rata dengan tanah, penutupan satu-satunya akses medis ini seolah menjadi lonceng kematian bagi mereka yang sedang berjuang bertahan hidup di sisa-sisa reruntuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here