Pasukan Israel menghancurkan bangunan hunian di Beit Lahia, Gaza utara, Rabu dini hari (21/1/2026), sementara artileri mereka menembaki beberapa wilayah di utara dan selatan Gaza. Menurut laporan Al Jazeera, pasukan Israel meledakkan bangunan di timur Beit Lahia dan menembakkan artileri ke wilayah timur Khan Yunis di selatan serta Al-Bureij di tengah Gaza.
Tak hanya itu, helikopter militer Israel menembakkan rudal ke wilayah Deir al-Balah, Gaza tengah, pada pagi hari yang sama. Sehari sebelumnya, Selasa, pasukan Israel juga meruntuhkan bangunan hunian di kawasan selatan-timur Khan Yunis.
Hamas merilis data terkait 100 hari sejak gencatan senjata dengan Israel. Dalam periode itu, tercatat 483 warga syahid, termasuk 169 anak-anak dan 64 wanita. Jumlah korban luka mencapai 1.294 orang, rata-rata 13 per hari, dengan 96,3% korban tewas berada di dalam “garis kuning” yang ditetapkan dalam kesepakatan.
Hamas juga menyoroti 1.298 pelanggaran yang dilakukan Israel, termasuk 200 operasi penghancuran rumah dan bangunan hunian, serta penangkapan 50 warga sipil dan nelayan di laut. “Ini pelanggaran serius terhadap kesepakatan,” kata Hamas dalam pernyataannya.
Kendala Politik dan Kemanusiaan
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menegaskan bahwa pihaknya telah memberikan semua informasi terkait jenazah tahanan Israel terakhir dan siap bekerja sama dengan mediator internasional. Namun, Israel berulang kali menghambat upaya pencarian jenazah di wilayah di belakang garis kuning.
Di sisi kemanusiaan, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan meninggalnya seorang bayi berusia enam bulan akibat dingin ekstrem. Sejak musim dingin dimulai, jumlah anak-anak yang syahid karena kedinginan meningkat menjadi sembilan. Warga mengungsi hidup dalam kondisi memprihatinkan karena keterbatasan tempat tinggal dan pembatasan Israel terhadap bahan pemanas.
Direktur Rumah Sakit Al-Shifa, Dr. Mohammad Abu Salmiya, menambahkan bahwa beberapa warga dari berbagai usia, termasuk muda-mudi, meninggal akibat penyebaran luas virus flu dan mutasinya. Ia menekankan, tingginya angka kematian disebabkan lemahnya sistem kekebalan warga yang terdampak kondisi hidup berat dan kelangkaan obat-obatan penting.
“Kami kehabisan obat kanker, perlengkapan cuci darah, dan obat penyakit kronis,” kata Abu Salmiya, memperingatkan krisis medis yang mengancam nyawa warga Gaza.
Sumber: Al Jazeera









