JABALIA – Langkah kaki Nadia Abu Jalhoum, 68 tahun, tertahan di antara gundukan tanah kering Pemakaman Al-Faluja, Jabalia, utara Jalur Gaza. Kamis, 28 Mei 2026, ketika sebagian besar warga dunia muslim merayakan Idul Adha dengan takbir sukacita, perempuan sepuh ini justru merayap pelan di antara barisan nisan. Baginya, episentrum “lebaran” telah bergeser permanen dari ruang tamu rumahnya ke sepetak tanah pemakaman massal.

Nadia adalah potret jamak dari para ibu di Gaza utara yang separuh jiwanya habis dikoyak perang. Berkerudung kumal dengan guratan letih yang mendalam di wajahnya, ia bersimpuh, meraba tanah kuburan, lalu merapalkan surah Al-Fatihah dengan suara parau yang nyaris habis.

“Sejak mereka semua pergi, ke sinilah saya pulang setiap kali hari raya. Berkunjung ke makam mereka sudah menjadi satu-satunya ritual lebaran yang tersisa bagi saya,” kata Nadia dengan tatapan kosong.

Sepuluh Hari Sekali Mengubur Anak

Sebelum mesin perang meremukkan Jabalia, Idul Adha di kediaman Nadia adalah urusan riuh. Rumahnya penuh sesak oleh tawa anak dan cucu yang mengantre sungkem. Kini, manifes keluarga itu telah berpindah ke dalam perut bumi. Di bawah tanah Al-Faluja, tertidur tiga anak laki-lakinya: Anwar (42 tahun), Ahmad (30 tahun), dan Khamis (26 tahun), serta anak perempuannya yang masih belia, Sahira (19 tahun).

Tragedi yang menimpa Nadia tidak datang sekaligus, melainkan berupa siksaan berkala yang dijatuhkan bertubi-tubi. Anak-anaknya gugur satu per satu dalam interval waktu yang sangat rapat.
“Ibu mana yang sanggup menahan ini? Belum kering tanah kuburan anak yang satu, sepuluh hari kemudian saya harus mengubur anak yang lain,” rintihnya.

“Antara syahid yang satu dengan yang lain hanya berjarak sepuluh hari. Dan yang terakhir diambil dari saya adalah Muadz, cucu kecil saya.” Muadz baru berusia lima tahun ketika sebuah pecahan proyektil menghentikan detak jantungnya.

Hilangnya lapis generasi pelindung keluarga ini menyisakan lubang trauma yang menganga bagi anak-anak kecil yang selamat. Cucu-cucu Nadia yang kini yatim terus bertanya mengapa ayah mereka tidak pulang membawa permen atau menggandeng tangan mereka ke masjid, seperti yang mereka lihat pada anak-anak lain di kamp pengungsian.

Statistik Korban dan Garis Merah Tempur

Penderitaan Nadia bukan sekadar perkara batin. Secara fisik, kehidupannya lumat. Rumah betonnya di Jabalia sudah lama rata dengan tanah akibat bom udara. Kini, sisa keluarga yang bertahan hidup harus berjejal di dalam sebuah tenda plastik tipis yang pengap di bawah sengatan suhu musim panas yang ekstrem, tanpa akses air bersih yang layak.

Ironisnya, tenda Nadia berdiri di area perimeter yang sangat rawan, berdekatan dengan “Garis Kuning” (The Yellow Line) di utara Gaza. Wilayah ini merupakan garis batas demarkasi militer tempat moncong tank dan pos infanteri Israel bersiaga, membuat hari-hari mereka diwarnai oleh desing peluru nyasar.

Kementerian Kesehatan Gaza merilis data mutakhir mengenai ongkos manusia yang harus dibayar dalam krisis kemanusiaan ini:

Pulang ke Rumah Plastik

Sumber: Diterjemahkan dan Diolah dari laporan Al Jazeera

Parameter Krisis (Per Mei 2026)Angka Riil KorbanCatatan Lapangan / Situasi
Total Korban Jiwa Kumulatif72.819 JiwaTerhitung sejak 7 Oktober 2023
Total Korban Luka Kumulatif172.894 OrangMengalami kelangkaan fasilitas medis
Gugur Pasca-Runtuhnya Gencatan922 JiwaTerhitung sejak Maret 2026
Luka Pasca-Runtuhnya Gencatan2.786 OrangMayoritas terjebak di Gaza Utara

Ketika matahari mulai terik dan para peziarah lain perlahan meninggalkan Pemakaman Al-Faluja untuk kembali ke keluarga mereka, Nadia bangkit berdiri dengan bertumpu pada lututnya yang gemetar. Ia menyeka debu yang menempel pada pakaiannya, memberikan tatapan perpisahan terakhir pada gundukan tanah anak-anaknya, lalu melangkah pulang ke tenda marjinalnya.

Di dalam tenda itu, ia kembali berperan menjadi tiang penyangga bagi sisa-sisa anggota keluarga yang selamat. Tak ada hidangan daging kurban yang bisa dimasak hari itu.

Idul Adha bagi Nadia dan jutaan pengungsi di Gaza Utara telah lama kehilangan esensi perayaannya, berubah menjadi ritus tahunan untuk merawat ingatan tentang mereka yang mati, di bawah bayang-bayang laras senapan yang sewaktu-waktu siap mencabut nyawa yang tersisa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here